Rapat Koordinasi Penanganan Masalah Narkoba di Lingkungan Perguruan Tinggi

0 4

Jakarta BSI News

Kampus BSI merupakan salah satu
perguruan tinggi yang hadir dari sekitar 75 kampus perguruan tinggi yang
diundang dalam memenuhi undangan rapat koordinasi penanganan narkoba dari BNN
RI yang bertempat di Hotel Best Western Premier Jl DI. Panjaitan Kav 3-4 Cawang,
Jakarta Timur, 23/04/15. Acara berlangsung khidmat dari pukul 08.00 sd 16.30
wib. Tiap-tiap kampus yang diundang terdiri dari 2 orang civitas Akademi yang
berasal dari unsur pimpinan perguruan tinggi bidang kemahasiswaan dan unsur
BEM/ Ormawa. Dari unsur bidang kemahasiswaan di utus satgas kampus yang
berkecimpung dalam permasalahan narkoba yaitu Komando BSI melalui pembinanya
Irwin Ananta. Acara tersebut  di awali
oleh sambutan kepala BNN RI yang diwakili oleh deputi pemberdayaan masyarakat
Bachtiar H Tambunan, Pembukaan acara rakor oleh Menristek Dikti RI yang
diwakili Dibyo. Paparan pertama seputar “Kebijakan Pemerintah Dalam
Merehabilitasi Pecandu dan Penyalah Guna Narkoba” disampaikan oleh
Bachtiar H Tambunan, selaku deputi pemberdayaan masyarakat BNN RI dan
dilanjutkan kemudian dengan paparan kedua oleh beliau seputar “Peran Aktif
Akademisi Dalam Mendukung Program Penyalah Guna Narkoba Di Rehabilitasi”. Disini
di paparkan jumlah penyalah guna narkoba di Indonesia sudah sangat
memprihatinkan sekitar 4 juta jiwa berusia rata-rata dari usia 10-59 th, 1,6
juta coba pakai, 1,4 juta teratur pakai dan 943 ribu pecandu dengan angka
kematian 33 jiwa perhari. Untuk semisal pengguna narkotika saja berdasarkan
segmentasi jenis kelamin penyalaguna narkotika pria 74,5% dan wanita 25,49%,
untuk penyalah guna polydrug, pengguna narkoba lebih dari satu jenis pria
sekitar 58 %dan wanita 42% sedangkan penyalah guna berdasarkan jenis pekerjaan
pelajar 27,32%, tidak bekerja 22,34% dan pekerja 50,34%. Para pekerja menempati
porsi paling tinggi, benih pemicu diduga sudah bermula saat mereka masih
pelajar atau mahasiswa.

Paparan selanjutnya oleh deputi
rehabilitasi BNN RI yang di wakili oleh dokter Riza Sarasvita beliau menekankan
upaya-upaya penting pencegahan diantaranya proses belajar mengajar yang tidak
menimbulkan konflik bagi mahasiswa, karena tekanan atau stress dan hal-hal lain
yang memicu gangguan prilaku dapat menjadi benih awal terlibat sebagai pengguna
narkoba, aktifkan layanan bimbingan konseling dan lakukan kepekaan untuk
mencermati mahasiswa yang terindikasi gangguan prilaku baik yang menutup diri
atau hyper dalam bergaul, susun SOP tata laksana anti narkoba kampus semisal
tes urine buat mahasiswa baru, hal lain yang disampaikan kurang lebih juga
senada dengan materi yang disampaikan oleh deputi pemberdayaan masyarakat BNN
seputar perlunya pembekalan materi P4GN dalam ospek, mengutamakan promosi lapor
diri daripada men drop out mahasiswa pecandu narkoba, tersedia klinik dan
pembinaan kemahasiswaan, serta pemberlakuan jam malam lingkungan kampus. Beliau
juga mengingatkan soal pentingnya upaya-upaya yang maksimal sebelum tindakan DO
dijatuhkan semisal upaya assignment atas korban narkoba dengan klasifikasi
orang yang baru skedar coba, rutin pakai maupun pecandu tanpa bermaksud
mengintervensi kebijakan tiap lembaga perguruan tinggi. Semakin
termarginalkannya posisi korban narkoba karena DO di duga cukup berpotensi
memperkuat posisi bandar narkoba dalam menebar jaringannya termasuk ke dalam
kampus. Paparan terakhir. “Solusi kebijakan rehabilitasi penyalah guna
narkoba di lingkungan perguruan tinggi” oleh  Djaali selaku rektor UNJ, beliau mengemukakan
pentingnya pendidikan karakter, dosen pendidik profesional yang tidak sekedar
mentransfer pengetahuan namun juga nilai keteladanan. Perbanyak kegiatan kampus
yang positif bagi mahasiswa dengan keaktifan dosen untuk senantiasa hadir di
tengah-tengah kegiatan mahasiswa di kampus. Acara di akhiri dengan sesi tanya
jawab yang dipandu langsung oleh Siswandi, direktur peran serta masyarakat BNN
RI. (iav/ana)

Leave A Reply

Your email address will not be published.