Hasilkan Temuan Baru Tenun Sidan dengan Serat Daun Nanas, Dua Mahasiswa UBSI Pontianak Raih Juara 1 Tingkat Nasional

0 11

Jakarta Bsi-News

Dua Mahasiswi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Kota Pontianak berhasil memenangkan Lomba Parade Cinta Tanah Air (PCTA) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan (Kemenhan RI) di Bali beberapa waktu lalu.

Kedua mahasiswi tersebut adalah Rosmina (20) dan Adriana (21), mahasiswi semester lima prodi Sistem Informasi Akuntansi UBSI Pontianak. Keduanya berasal dari Kapuas Hulu.

Adapun produk yang dimenangkan ditingkat nasional mewakili Kalbar dan mengalahkan perwakilan perguruan tinggi dari 33 Provinsi yaitu Syal Tenun  Sidan Dayak Iban yang Dikolaborasi dengan serat daun nanas.

Rosmina mengatakan bahwa ia tidak menyangka bisa memenangkan lomba ini dan menjadi pemenang ditingkat nasional mewakili Kalbar.

Ia menceritkan awal dari ia bisa mengikuti lomba ini bermula dari mata kuliah entrepreneur yang didapat dari kampus.

“Waktu mata kuliah entrepreneur disuruh buat suatu karya/inovasi lalu dibimbing oleh dosennya langsung untuk dipamerkan pada saat entrepreneur fair demi memenuhi nilai pada mata kuliah tersebut,”ujarnya, Minggu (15/9/2019).

Setelah itu ia didaftarkan oleh dosen UBSI Pontianak untuk ikut lomba ditingkat provinsi untuk mewakili kampus.

“Awalnya ditolak karena kami enggak percaya diri. Karena dalam menenun itu perlu waktu, tidak bisa instan jadi kami pikir belum ada persiapan. Namun, karena ada video proses pembuatan tenun jadi menggunakan video tersebut untuk maju lomba,” ujar Adriana.

Ia mengatakan ada salah satu juri yang mengatakan kepada dirinya jika ia menang dalam seleksi ditingkat provinsi untuk melaju ke nasional maka juri tersebut akan memberikannya serat daun nanas untuk dicoba di tenunan.

“Ternyata kami menang saat ikut seleksi di provinsi, lalu dianjurkan untuk menenun menggunakan serat daun nanas dan mewakili Kalbar ke tingkat Nasional di Bali dari tanggal 9 s.d. 13 September 2019 kemarin. Namun saat itu saya konsultasi sama pakar-pakar tenun di Kapuas Hulu mereka tidak yakin dengan bahan tersebut bisa ditenun. Karena takut patah seratnya,” ujarnya.

 

Tapi setelah dicoba dan menggunakan dengan cara dihaluskan dirapikan pelan-pelan ternyata tidak patah dan orang-orang pakar-pakar di daerahnya pun terkejut karena memang belum pernah serat daun nanas digunakan dalam tenunan dan itu ditandingkan di Bali mewakili Kalbar.

“Disana kita langsung praktek tenun dan langsung tunjukkan serat daun nanas beserta cara pengolahan daun nanas juga pengolahan tenunan jadi tinggal menggabungkan semuanya,”ujarnya.

Menjadi juara pertama dari 34 provinsi awalnya ia tidak percaya, karena yang ikut disana semuanya adalah orang hebat dengan karya yang hebat pula.

“Semuanya hebat dan mereka lebih banyak membuat produk herbal dan ada kopi, ada makanan ada juga program kesehatan. Tapi karena mungkin jurinya lebih memperkirakan tentang  temanya penggerak industri dan produk yang kami munculkan dari daerah yang diangkat ke provinsi lalu masuk nasional dan masuk dinas UMKM, mungkin jurinya dari itu menilai tentang budaya yang diangkat,” ujar Rosmina.

Tenunan Sidan yang dikombinasi dengan serat daun nanas ini menjadi penemuan baru pada tenunan khas Kapuas Hulu.

“Setelah menang ditingkat nasional kita pulang ke daerah untuk  menenun menggunakan saran ini karena lebih ekonomis dan lebih murah. Untuk tekstur yang dihasilkan lebih hangat dan bisa dicuci juga,” ujarnya.

Berdasarkan hasil diskusi syal yang dihasilkan di jual harganya kisaran Rp 260 ribu s.d. Rp 300 ribu.

Ia mengatakan pesanan tenunan Sidan khas Kapuas Hulu ini juga sering mendapatkan permintaan dari Luar Negeri seperti negara Malaysia bahkan Singapura.

Terkait produk yang telah mereka hasilkan yakni syal Tenun Sidan Kombinasi Serat Daun Nanas sedang diurus hak patennya.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.