Abuse of Power, Tindakan Penyalahgunaan Kekuasaan

0 6,471

Tegal, BSINews–Abuse of power merupakan tindakan penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh seorang dosen kepada mahasiswa. Sebagai mahluk sosial tentu manusia akan berinteraksi antara satu dengan yang lain. Namun, akhir-akhir ini ada yang menarik di dunia maya terkait dengan “Abuse of Power” (penyalahgunaan kekuasaan).

Kejadian dosen yang “Abuse of Power” terhadap mahasiswa di media sosial, berawal dari komunikasi antara dosen dengan seorang mahasiswa di group whatsapp. Lantaran mahasiswa tersebut memberikan emoticon jempol, hingga membuat sang dosen kesal dan merasa tersinggung hingga mengakibatkan mahasiswa tersebut akhir-nya di keluarkan dari group whatsapp.

Baca juga: Dosen Universitas BSI Beri Pelatihan Analisis Data Kepada Komunitas Bogor Mengabdi

Abuse of Power

Rousyati selaku dosen Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) memandang abuse of power merupakan tindakan penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh seorang dosen pada mahasiswa.

Ia menuturkan abuse of power merupakan tindakan yang dilakukan untuk kepentingan tertentu dan dapat mengakibatkan kerugian bagi orang lain. Penyalahgunaan kekuasaan yang dimaksud tidak hanya tentang pejabat yang melakukan tindakan korupsi, namun seseorang dengan jabatan apa pun yang bertindak sesuka hati, sewenang-wenang yang mengakibatkan kerugian terhadap orang lain.

Menyikapi hal ini, seharusnya dapat di atasi dengan komunikasi yang baik antar dosen dan mahasiswa. Di satu sisi, selain belajar, mahasiswa juga harus menghormati dan beretika baik pada dosen. Tapi, sangat disayangkan jika terjadi penyalahgunaan kekuasaan oleh seorang dosen pada mahasiswa.

“Saya yang saat ini sebagai dosen pun tidak membenarkan perilaku dosen tersebut apablia memang terjadi. Tugas mahasiswa memang harus menghormati, berperilaku sopan dan mempunyai attitude yang baik terhadap dosen. Namun hal yang dilakukan dosen tersebut salah, dosen bisa berkomunikasi dengan baik terhadap mahasiswanya. Selama saya mengajar tidak pernah menyemprot mahasiswa seperti itu. Itu sebabnya mahasiswa saya merespon dengan baik,” kata Rousyati.

Sementara itu, Shofa, mahasiswa Universitas BSI kampus Tegal memandang dosen yang abuse of power merupakan tindakan yang kurang baik dan tidak membawa manfaat sedikit pun dalam dunia pendidikan. Terlebih kondisi Covid-19, semua aktivitas belajar mengajar hanya dilakukan secara online, tentunya kemunculan dosen yang abuse of power terhadap mahasiswa hanya membuat kondisi tambah lebih rumit.

“Dosen di Universitas BSI memang luar biasa, sangat terbuka tentang materi, kesan yang diberikan membuat kita sama-sama belajar. Bahkan ada dosen, layaknya teman kami di kelas. Rasanya pembelajaran pun jadi seru. Bukan tidak mungkin juga pembelajaran jadi semakin efektif. Semoga dosen-dosen di Universitas BSI bisa mempertahankan ini semua, ditunggu hal-hal kreatif dosen Universitas BSI yang lainnya. Untuk dosen Universitas BSI ku, Say No to Dosen Abuse of Power, Dosen No Abuse of Power Power club,” Imbuhnya.

Baca juga: Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa, Universitas BSI Kampus Tegal Ciptakan Sipede

Hal serupa juga sampaikan oleh Luthfi, mahasiswa Universitas BSI kampus Tegal lainnya, yang memandang Dosen abuse of power tidak ubah-nya seperti dosen killer.

“Iya itu jadi mirip kaya dosen killer gitu, seharusnya cara bicara dan sikapnya dapat dijadiin contoh buat para mahasiswanya,” ujar Luthfi. (UMF)

Leave A Reply

Your email address will not be published.