Makna Jargon “Cendol Dawet” Dalam Musik Dangdut Koplo

0 399

Jakarta, BSINews — Saat ini musik dangdut merupakan musik    nasional    yang    harus    dilestarikan    oleh masyarakat   Indonesia   terutama   oleh   anak   muda. Banyak  masyarakat  Indonesia  yang  menyukai  irama pada  musik  dangdut,  dan  musik  dangdut  juga  musik yang    berperngaruh    dalam    musik    di    Indonesia.

Baca Juga: Makna Fashion Dalam Penggunaan Masker Di Akun Instagram

Dalam    setiap    pertunjukan    Musik    Dangdut    di Indonesia   saat   ini   selalu   muncul   jargon   “Cendol Dawet”    menarik    untuk    diteliti.    Adapun    jargon tersebut   tidak   hanya   Cendol   Dawet   saja.   Jargon tersebut   ada   kelanjutan   kalimat   tersebut.

 

Representasi    Jargon    Cendol    Dawet tersebut    melalui    sudut    pandang    disiplin    Ilmu Komunikasi.    Representasi    tersebut akan    diteliti melalui   teori   Semiotika   Roland   Barthes.   Penulis memilih  teori  tersebut  dengan  harapan  bagaimana makna yang ada dibalik jargon “Cendol Dawet” pada Industri dangdut di Indonesia.

 

Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif dengan analisis  semiotika Roland Barthes karena memaknai tandai adalah proses komunikasi. Semiotika adalah suatu ilmu  atau metode  analisis untuk mengkaji tanda.

 

Dalam jargon ini menyebutkan bahwa Cendol Dawet yang diulang beberapa kali yang menandakan adanya penekanan intonasi agar terdengar lebih jelas dan mudah diingat.  “Lima ratusan ga pake ketan”. Pada kalimat tersebut memiliki makna denotatif memberikan keterangan bahwa minuman Dawet   memiliki   harga   murah dan mudah dijangkau serta  bisa  dinikmati  oleh semua kalangan. Selanjutnya “Ji,   ro,   lu,   pat, limo, enem, pitu, wolu”   merupakan   singkatan yang berasal dari Bahasa Jawa yaitu  angka,  Siji, Loro, Telu, Papat, Limo,  Enem,  Pitu,  Wolu  yang jika diterjemahkan pada Bahasa Indonesia  adalah Satu, Dua, Tiga, Empat, Lima, Enam,Tujuh dan Delapan.   Hitungan   tersebut   biasa   digunakan untuk memberi   aba-aba   atau   tanda   dimulai sebuah nyanyian atau Gerakan dalam tarian.  Lalu pada kalimat “Tak kintang-kintang, tak kintang- kintang,   tak   kintang-kintang.”   Merupakan nyanyian yang biasa ditunjukan  untuk  anak  balita jika   sedang   menangis   dengan   maksud memberikan penghiburan.

 

Baca Juga: Makna Komunikasi Perempuan Sunda Pada Tembang Cianjuran

Jargon dalam   Musik   Dangdut   di Indonesia yaitu cendol dawet mampu merepresentasikan Kebersamaan. Melalui Jargon Cendol Dawet ciptaan Abah Lala ini merupakan sebuah represntasi sebuah kebersamaan yang dilakukan oleh penyuka musik dangdut. Jargon musik dangdut yang selalu terdengar seronok berubah dengan jargon yang positif dan menyatukan semua penyuka musik dangdut baik Koplo, Campur sari, Dangdut Melayu dan  semua jenis musik dangdut lainnya.

 

 

Analisa semiotika Roland Barthes merupakan metode yang tepat dalam mencari makna melalui Lirik Lagu, atau Jargon. Dalam ini penelitian ini ditemukan makna kebersamaan penyuka musik dangdut melalui Jargon dengan menggunakan metode tersebut. (RDX)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.