Media Sosial Sebagai Tolak Ukur Keberhasilan Lolos Seleksi Kerja

0 250

BSINews, Tasikmalaya – Media sosial telah menjadi faktor penting dalam dunia kerja saat ini. Bahkan, peranan media sosial bisa menjadi penentuan seseorang keterima kerja atau tidak di sebuah perusahaan. Meski begitu, menganggapnya sebagai satu-satunya tolak ukur keberhasilan dalam seleksi kerja, mungkin tidak sepenuhnya akurat atau adil.

Dini Silvi Purnia, selaku Koordinator BSI Career Center (BCC) Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) kampus Tasikmalaya mengatakan, peranan media sosial dalam penentuan proses seleksi kerja bisa memberikan gambaran terkait dari calon pegawai yang akan diterima.

Baca juga : Waspada! Penyalahgunaan Aplikasi Android yang Disebarkan Melalui Media Sosial untuk Mendapatkan Keuntungan Pribadi

Sebagai pusat bertukarnya informasi dan mengenal kepribadian seseorang, media sosial bisa menjadi acuan dalam penilaian tersebut.

“Media sosial selain untuk tempat berkumpulnya orang bersosialisasi di dunia maya, juga sebagai tempat mencurahkan apa yang sedang dirasakan, yang juga bisa menilai perilaku penggunanya,” katanya saat diwawancarai, Selasa (4/7).

Selain itu, ia membeberkan beberapa pertimbangan terkait peran medis sosial dalam proses dalam seleksi kerja.

Berikut beberapa pertimbangannya :

1. Reputasi dan citra

Media sosial dapat memberikan gambaran tentang kepribadian dan sikap seorang individu. Sebagian perusahaan mungkin mengevaluasi profil media sosial calon karyawan untuk melihat apakah mereka memiliki perilaku atau pandangan yang sesuai dengan nilai-nilai perusahaan. Mempublikasikan konten yang tidak pantas atau tidak
profesional dapat merugikan pelamar.

2. Keterampilan komunikasi dan personal branding

Media sosial dapat menjadi platform untuk memamerkan keterampilan komunikasi dan kemampuan personal branding. Melalui postingan dan interaksi online, calon karyawan dapat menunjukkan kemampuan mereka dalam menulis, berbagi ide, dan berkomunikasi dengan baik. Ini dapat memberikan nilai tambah dalam proses seleksi.

3. Konteks pribadi dan privasi

Meskipun media sosial dapat memberikan gambaran tentang seorang individu, perlu diingat bahwa konten yang diposting di media sosial biasanya hanya mewakili sebagian kecil dari kehidupan mereka. Aspek privasi juga harus dipertimbangkan.

Calon karyawan memiliki hak atas privasi mereka, dan keputusan seleksi seharusnya didasarkan pada penilaian yang obyektif terhadap kualifikasi dan kemampuan kerja mereka.

4. Pengabaian potensi

Menggunakan media sosial sebagai satu-satunya faktor penentu keberhasilan seleksi kerja dapat mengabaikan potensi karyawan yang tidak aktif di media sosial. Banyak individu yang berkualitas dan berkompeten mungkin memilih untuk menjaga profil mereka tetap pribadi atau tidak menggunakan media sosial secara intensif.

Oleh karena itu, mengandalkan media sosial sebagai satu-satunya tolak ukur dapat menghambat keberagaman dan inklusi dalam rekrutmen.

Meskipun media sosial dapat memberikan informasi tambahan tentang calon karyawan, keputusan seleksi kerja yang akurat seharusnya didasarkan pada berbagai faktor, seperti kualifikasi, pengalaman kerja, tes, wawancara, dan
referensi.

Keterampilan dan kepribadian calon karyawan sebaiknya dievaluasi secara menyeluruh, dengan pertimbangan yang adil dan berimbang terhadap berbagai aspek yang relevan.

Baca juga : Pelatihan Etika Bermedia Sosial Kepada Komunitas Mersi Fans Club

Dini berujar, di Universitas BSI sebagai Kampus Digital Kreatif, melalui lembaga BCC, menyiapkan mahasiswa agar siap bersaing di dunia kerja. Mulai dari proses seleksi, penyiapan skill, serta persiapan administrasi yang rapi dan baik, juga diajarkan.

“Melalui BCC ini, mahasiswa Universitas BSI menjadi lulusan yang siap bersaing di dunia kerja. Kami selalu menghadirkan program teaching ataupun workshop dalam pengembangan karier mahasiswa dan lulusan kami,” jelas Dini.

Leave A Reply

Your email address will not be published.