BSINews, Jakarta – Apa jadinya kalau segerombolan dosen yang biasanya sibuk ngoreksi tugas mendadak turun gelanggang buat ‘main-main’ dengan kecerdasan buatan? Begitulah yang terjadi pada Kamis, 24 Oktober 2024, ketika Program Studi Informatika menyelenggarakan pelatihan nge-gas tentang proyek AI.
Dipandu langsung oleh Dr Sumanto, Kaprodi Informatika Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) yang bak guru besar AI dengan karisma ala dosen favorit mahasiswa, pelatihan ini penuh dengan adrenalin—tentunya dalam versi akademis.
Dr. Sumanto membuka sesi pelatihan dengan senyuman khasnya sambil ngegas ke poin utama, “Identifikasi masalah itu penting, jangan asal bikin AI buat seru-seruan.” Dosen-dosen yang tadinya duduk lempeng mulai nyengir—mungkin teringat tugas mahasiswa yang penuh harapan tapi nggak jelas arahnya.
Proses identifikasi masalah dan tujuan proyek jadi tahap wajib yang ditekankan di awal. Nggak ada yang namanya lari langsung ke coding tanpa mikir panjang; di sini, para peserta dipandu buat meresapi permasalahan yang mau dipecahkan. “Biar AI-nya nggak sekadar jadi chatbot ngaco yang jawabnya ‘maaf, saya tidak paham’ tiap kali ditanya,” seloroh Dr Sumanto disambut tawa seisi ruangan.
Begitu masuk ke tahap pengumpulan data, Dr Sumanto dengan serius mengingatkan, “Data itu ibarat bahan masakan. Kalau basi, ya hasilnya bakal bikin perut sakit.” Dosen-dosen langsung serius, membayangkan ‘sakit perut’ berupa hasil model AI yang zonk. Ngobrol soal data bersih dan relevan jadi ajang debat seru; siapa sangka membersihkan data ternyata lebih bikin berkeringat daripada maraton nonton serial drama?
Saat sesi pemilihan model AI, Dr Sumanto membeberkan berbagai opsi, mulai dari yang friendly user sampai deep learning yang tingkat ‘berotot’nya selevel atlet angkat besi digital. Tapi, jangan salah, di sini bukan soal sekadar pilih model, melainkan bagaimana dosen-dosen ini dilatih buat ngulik parameter hingga modelnya mencapai performa optimal tanpa drama.
Pelatihan ditutup dengan sesi evaluasi dan validasi, alias memastikan si model nggak ngaco saat diajak main di dunia nyata. “Ingat, model yang dicuekin tanpa pembaruan itu kayak sepatu lama, bisa jebol kalau dipaksa jalan terus,” celetuk Dr Sumanto, menutup sesi dengan tips bijak nan kocak.
Raut wajah peserta pelatihan? Antara puas dan siap tempur. Pelatihan ini bukan cuma soal menambah ilmu, tapi juga memperkuat kolaborasi mereka dengan mahasiswa. Dr Sumanto berharap, “Setelah ini, kita bisa lebih sistematis dalam mengelola proyek AI. Bukan cuma buat gaya-gayaan, tapi juga menciptakan solusi cerdas yang bikin industri tercengang.”(ACH)