Gaya Hidup Cashless di Kalangan Mahasiswa: Nyaman atau Justru Berisiko?

0 343

BSINews, Jakarta — Di era digital, gaya hidup cashless semakin populer, termasuk di kalangan mahasiswa. Dengan berbagai metode pembayaran digital seperti e-wallet, mobile banking, dan QRIS, mahasiswa kini dapat melakukan transaksi dengan cepat dan praktis tanpa perlu membawa uang tunai. Kemudahan ini sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari membeli makanan di kantin, membayar transportasi, hingga berbelanja kebutuhan akademik.

Namun, di balik kenyamanan tersebut, Ricki Sastra selaku Dosen dan Kepala Kampus Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Kramat 98, mempertanyakan : apakah gaya hidup cashless benar-benar menguntungkan atau justru memiliki risiko yang perlu diwaspadai?

Menurutnya, salah satu keuntungan utama dari sistem cashless adalah efisiensi dan kemudahan transaksi. Mahasiswa tidak perlu repot mencari uang kembalian atau khawatir kehilangan dompet fisik. Selain itu, banyak aplikasi e-wallet menawarkan promo dan cashback yang dapat membantu menghemat pengeluaran.

Cashless, Nyaman atau Justru Berisiko?

Dengan fitur pencatatan transaksi otomatis, mahasiswa juga dapat lebih mudah mengelola keuangan dan memantau pengeluaran mereka, sehingga dapat lebih disiplin dalam mengatur anggaran bulanan.

Namun, ada pula risiko yang mengintai di balik gaya hidup cashless, terutama terkait dengan keamanan data dan pengeluaran yang tidak terkendali. Beberapa mahasiswa mungkin kurang sadar akan pentingnya menjaga keamanan akun digital mereka, seperti penggunaan password yang lemah atau berbagi data pribadi tanpa kehati-hatian. Selain itu, karena transaksi digital terasa lebih mudah dibandingkan menggunakan uang tunai, beberapa mahasiswa bisa menjadi lebih konsumtif tanpa menyadari bahwa saldo mereka cepat habis.

Tidak hanya itu, Ia juga menyoroti ketergantungan pada sistem digital juga bisa menjadi masalah ketika terjadi gangguan teknis atau jaringan. Ada kalanya server e-wallet mengalami down, atau sinyal internet tidak stabil, yang membuat mahasiswa kesulitan melakukan pembayaran. Dalam kondisi seperti ini, mereka yang terbiasa tidak membawa uang tunai bisa mengalami kendala dalam memenuhi kebutuhan mendesak.

Baca juga : Jadi Mahasiswa Zaman Now? Harus Punya Keterampilan Tambahan!

Oleh karena itu, meskipun cashless menawarkan banyak kemudahan, mahasiswa tetap perlu memiliki alternatif dan tidak sepenuhnya bergantung pada metode pembayaran digital.

Pada akhirnya, gaya hidup cashless di kalangan mahasiswa memiliki sisi positif maupun negatif. Kunci utama adalah keseimbangan dan bijak dalam mengelola keuangan serta menjaga keamanan akun digital. Mahasiswa perlu memahami risiko yang ada dan tetap memiliki strategi cadangan agar tidak terjebak dalam ketergantungan penuh terhadap sistem digital. Dengan pendekatan yang tepat, cashless dapat menjadi alat yang bermanfaat tanpa menimbulkan masalah di kemudian hari.

Penulis : Ricki Sastra, Dosen dan Kepala Kampus UBSI kampus Kramat 98

Leave A Reply

Your email address will not be published.