Dari Habasyah ke Thaif: Ketika Mahasiswa UBSI Mengubah Kisah Hijrah Jadi Pelajaran yang Asyik di Bekasi

0 127

BSINews, Bekasi – Hari itu suasana SDIT Mutiara Hati nggak seperti biasanya. Ada yang beda. Bukan karena menu kantinnya lebih lengkap atau karena ada inspeksi mendadak dari dinas pendidikan. Tapi karena tujuh mahasiswa dari Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) datang membawa oleh-oleh kisah hijrah—bukan dalam bentuk ceramah, tapi paket komplit antara edukasi, permainan, dan snack, Selasa (27/5).

Baca juga: Ngulik Data Bareng Power BI: Mahasiswa UBSI Bikin Siswa SMK Makin Melek Digital

Mereka datang bukan untuk jadi guru pengganti, apalagi pengawas ujian. Mereka datang dalam misi mulia, yaitu menanamkan nilai sejarah Islam dan keteladanan Nabi SAW kepada anak-anak SD kelas 4 dengan cara yang bisa bikin mereka lupa kalau itu sebenarnya belajar.

Mengusung tema “Belajar Asyik, Bertumbuh Cerdik”, kegiatan ini bukan cuma soal menyampaikan materi tentang perjalanan hijrah Nabi dan para sahabat ke Habasyah dan Thaif. Tapi tentang bagaimana cara bercerita yang bisa bikin anak SD melek sejarah tanpa ngantuk. Mereka menggabungkan narasi sejarah, visual edukatif, sampai kuis-kuis yang bikin semua siswa berlomba angkat tangan. Pendekatan ini bukan cuma menghibur, tapi juga menyentuh sebuah komunikasi yang efektif sekaligus inspiratif.

Geaby, Astia, Keisyah, Maulida, Rovina, Sindi, dan Khairul—para mahasiswa UBSI yang terlibat—menjalankan salah satu tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian masyarakat. Tapi jelas, ini bukan pengabdian yang basa-basi. Ini pengabdian yang beneran bikin siswa senyum, guru tenang, dan mahasiswa puas karena teori komunikasi yang mereka pelajari akhirnya menemukan panggungnya.

Sesi dimulai dengan ice breaking yang bikin suasana mencair. Anak-anak yang biasanya suka ogah-ogahan kalau disuruh fokus, tiba-tiba jadi semangat. Lalu berlanjut ke materi utama, yang dikemas seolah bukan materi—tapi petualangan sejarah. Diskusi dua arah, permainan, kuis, dan pembagian hadiah bikin acara ini makin hidup. Bahkan sampai akhir acara, masih ada siswa yang nyeletuk, “Besok kakaknya datang lagi nggak?”

Baca juga: Mahasiswa UBSI Kampus BSD Kenalkan Budaya Tradisional ke Siswa MIS Raudlatul Irfan dengan Antusiasme Tinggi

Kadang, pengabdian nggak perlu muluk-muluk. Nggak harus lewat proyek besar atau kampanye viral. Cukup duduk bareng anak-anak, cerita soal perjuangan, dan bikin mereka paham bahwa dakwah itu butuh kesabaran dan strategi. Siapa tahu, dari sinilah lahir generasi yang nggak cuma paham sejarah, tapi juga paham cara menyampaikannya dengan cinta dan canda.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.