Canva di Tangan Remaja Mampang: Ketika Poster Kegiatan Nggak Lagi Pakai WordArt Jadul
BSINews, Jakarta – Ada satu fakta yang sering luput kita sadari: di balik keramaian kota Jakarta yang penuh drama, tumpukan deadline, dan kemacetan level neraka lantai tujuh, ada sekelompok remaja tangguh di Mampang Prapatan yang sedang belajar mendesain. Iya, mendesain—bukan dengan CorelDraw berat nan bikin ngelag, tapi pakai Canva. Itu lho, aplikasi sejuta umat yang bikin kamu ngerasa graphic designer walaupun baru bisa pasang font sama stiker.
Cerita ini terjadi pada hari Minggu, 4 Mei 2025. Sementara sebagian orang rebahan sambil scroll TikTok, aula pertemuan RT.007 di Kelurahan Tegal Parang, Mampang, Jakarta Selatan justru dipenuhi oleh semangat muda dari organisasi remaja Kopia Raya Insani. Mereka nggak lagi sibuk main Mobile Legends, tapi sedang ikut pelatihan bikin konten visual bareng dosen-dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI).
Baca juga: Dukung Literasi Digital, Dosen UBSI Latih Warga Tegal Parang Gunakan Canva
Pelatihan yang dikomandani oleh Desiana Nur Kholifah, ini mengusung tema yang terkesan sederhana tapi sebenarnya revolusioner buat kaum organisasi RT, yaitu “Pemanfaatan Aplikasi Canva sebagai Penunjang Kegiatan Organisasi.” Keren, kan?
Kenapa revolusioner? Karena selama ini, banyak remaja pengurus organisasi yang harus rela bikin poster kegiatan pakai Microsoft Word, lengkap dengan WordArt pelangi dan clip art senyum mata satu. Sekarang, berkat pelatihan ini, mereka bisa upgrade tampilan—nggak kalah dari konten IG-nya brand skincare Korea.
Dengan bantuan tutor kece Arief Rusman, serta tim pengabdian masyarakat UBSI yang terdiri dari Irmawati Carolina, Verry Riyanto, dan para mahasiswa penuh semangat, pelatihan ini berjalan lebih dari sekadar tutorial klik-dan-drag. Ini tentang menyentuh sisi kreatif yang lama tertidur karena selama ini lebih banyak disuruh jaga parkiran atau ngatur kursi saat acara tujuhbelasan.
Salah satu peserta sempat nyeletuk, “Selama ini kalau bikin poster ya seadanya, kadang ngedit pakai HP juga nge-lag.” Dan jujur, itu relatable banget. Karena memang, di luar sana banyak remaja penggerak organisasi lokal yang semangatnya besar, tapi fasilitasnya minim. Mereka nggak butuh laptop canggih atau subscription Adobe, mereka cuma butuh awareness—dan pelatihan kayak gini adalah jawabannya.
Desiana, sang ketua pelaksana, bilang Canva itu cocok banget buat pemula. Dan dia nggak bohong. Canva itu kayak mie instan-nya dunia desain, gampang, murah, tapi kalau diracik dengan cinta, hasilnya bisa melebihi ekspektasi.
Dan buat para remaja Kopia Raya Insani, ini bukan sekadar pelatihan teknis, tapi momentum buat naik kelas—dari organisasi RT yang sering dianggap remeh, jadi komunitas yang bisa tampil kece di dunia digital.
Yang juga bikin adem hati, pelatihan ini nggak cuma didukung remaja, tapi juga pengurus RT setempat. Biasanya, RT cuma ikut rapat atau ngurus parkir pas acara, tapi kali ini mereka berdiri bareng anak muda.
“Kami mengapresiasi UBSI yang sudah datang ke sini,” kata salah satu perwakilan RT. Mungkin sambil dalam hati mikir, “Akhirnya, anak-anak muda ini bisa bikin spanduk kegiatan yang nggak malu-maluin lagi.”
Karena, mari kita jujur, bahwa desain itu penting. Poster yang bagus bisa bikin orang datang. Slide yang rapi bisa bikin audiens nggak ngantuk. Dan konten promosi yang menarik bisa jadi pembeda antara kegiatan rame dan kegiatan yang cuma diisi panitia doang.
Pelatihan Canva ini mungkin nggak masuk berita nasional. Tapi buat anak-anak muda di Mampang, ini besar. Ini tentang semangat belajar, tentang jembatan antara teknologi dan komunitas kecil, tentang pengakuan bahwa kreativitas bisa tumbuh di aula RT, bukan cuma di coworking space ber-AC.
Dan untuk kita semua, ini pengingat penting bahwa pengabdian masyarakat itu bukan cuma soal turun ke desa atau nulis laporan buat akreditasi. Tapi soal hadir di tengah masyarakat, mendengar kebutuhan mereka, dan membawa perubahan kecil yang efeknya bisa panjang.
Baca juga: Dosen UBSI Dorong Kreativitas Digital Anak Asuh dan Pengurus DKM Lewat Canva
Karena di tangan yang tepat, bahkan aplikasi Canva bisa jadi alat revolusi. Bukan revolusi politik, tapi revolusi visual—yang membuat remaja organisasi lokal lebih percaya diri, lebih dihargai, dan lebih siap menghadapi dunia yang semakin visual ini.
Siapa bilang anak kampung nggak bisa jadi content creator? Mereka cuma butuh satu, yaitu kesempatan. Dan hari itu, UBSI Sebagai Kampus Digital Kreatif memberikannya.(ACH)