AI Bukan Cuma Buat Orang Kantoran: Ketika Anak Yatim Pun Dikenalkan Teknologi Masa Depan
BSINews, Jakarta – Di tengah gang kecil Kelurahan Tegal Parang, Jakarta Selatan, ada sebuah tempat yang hangat bukan karena cuaca, tapi karena semangat anak-anak yang bersinar lebih terang dari layar laptop. Mereka bukan coder. Bukan juga bocah-bocah tajir dengan iPad dan kursus Robotik tiap Sabtu.
Mereka adalah anak-anak dari Yayasan Yatim Piatu dan Sosial IRMA—yang Sabtu (3/5) pagi itu kedatangan tamu penting, yaitu teknologi masa depan, alias Artificial Intelligence (AI), dalam bentuk yang enggak ngawang-ngawang dari dosen kece Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI).
Kegiatan pengabdian masyarakat dari dosen UBSI ini punya judul yang mungkin bikin jidat berkerut kalau cuma dibaca sepintas: “Mengenal dan Memanfaatkan Teknologi AI Sederhana untuk Kegiatan Sehari-Hari.” Tapi jangan salah, isinya jauh dari seminar kaku yang isinya slide-slide PowerPoint dan kata-kata yang bikin ngantuk. Di sini, AI jadi teman main yang asyik, bukan monster robot yang bakal merebut kerjaan manusia.
Pagi itu, Antonius Yadi Kuntoro membuka acara dengan senyum sumringah. Bukan cuma karena ia berhasil ngumpulin panitia tepat waktu, tapi karena melihat ruangan kecil itu penuh dengan rasa ingin tahu. Anak-anak di depan laptop, ada yang sudah siap dengan buku catatan, ada juga yang masih heran kenapa “kepintaran buatan” bisa bantuin mereka bikin puisi atau ngerjain PR Matematika.
Masuklah Riza Fahlapi, sang koordinator kegiatan, yang bawa misi sederhana tapi dalem, “Kami ingin anak-anak ini bukan cuma jadi penonton teknologi. Mereka juga harus paham, biar bisa manfaatin AI dengan bijak. Kalau perlu, jadi pencipta teknologi di masa depan.”
Jangan bayangin ini kayak pelatihan programmer intensif. Pendekatannya santai, aplikatif, dan yang paling penting adalah manusiawi. Anak-anak diajak kenalan dulu sama AI—kayak ngajak ngobrol teman baru. Ada sesi demo AI yang bisa bantu cari ide menulis cerita, ada yang bantu bikin desain, sampai aplikasi yang bisa ngajarin bahasa asing pakai suara robot lucu.
Beberapa anak sempat bengong, mungkin karena selama ini mereka pikir AI itu cuma buat orang dewasa berkemeja atau tukang cuan di startup. Tapi hari itu, mereka ngerti, bahwa teknologi bisa jadi milik siapa aja, bahkan mereka yang sehari-harinya lebih akrab sama tugas cuci piring daripada coding Python.
Yang paling nyentuh? Ketika salah satu anak, sebut saja namanya Arif, nanya dengan polosnya, “Kalau aku belajar ini terus, bisa jadi orang penting juga kayak Pak Antonius?”
Pertanyaan yang sederhana, tapi sekaligus menampar. Karena di negeri ini, akses pengetahuan—apalagi yang sekeren AI—masih sering disempitkan oleh status sosial. Untungnya, ada orang-orang yang enggak tinggal diam. Yang mau turun tangan, bukan cuma kasih tahu soal teknologi, tapi juga kasih harapan.
Dan Yayasan IRMA? Mereka enggak cuma ngasih tempat tinggal. Mereka juga ngasih peluang, supaya anak-anak ini bisa berdiri sejajar di dunia yang makin digital dan kompetitif.
Kegiatan itu mungkin cuma satu hari. Tapi percikan rasa ingin tahu yang ditanam bisa tumbuh jadi cita-cita. Siapa tahu, di antara tawa-tawa dan suara tuts keyboard yang ditekan pelan hari itu, lahir calon-calon ahli AI yang suatu saat nanti bikin dunia terkesima.
Karena teknologi seharusnya bukan bikin manusia makin jauh dari manusia lain. Tapi justru, jadi jembatan yang menghubungkan lebih banyak mimpi dan kemungkinan. Dan kalau anak-anak ini sudah bisa membayangkan masa depan lewat teknologi, mungkin kita yang dewasa harus belajar satu hal, yaitu jangan sampai kalah berani.(ACH)