Mereka Bukan Cuma Butuh Nasi Bungkus! Ketika Anak Panti Diajak Ngulik Canva Buat Masa Depannya
BSINews, Jakarta – Kalau kita bicara tentang panti asuhan, kebanyakan orang akan langsung mikir soal sumbangan baju bekas, mie instan, atau amplop putih yang biasanya muncul pas Ramadan doang. Nggak salah sih, tapi kadang kita lupa, bahwa anak-anak di panti juga punya mimpi. Mereka nggak cuma butuh nasi bungkus, tapi juga bekal hidup. Bukan sekadar beras, tapi beras digital—semacam ilmu yang bisa mereka masak sendiri jadi peluang.
Dan pagi itu, Rabu 26 Maret 2025, di sebuah rumah sederhana di Jl. Cililitan Kecil II, Jakarta Timur, dunia digital tiba dalam bentuk Canva. Bukan, ini bukan iklan premium dari aplikasi desain sejuta umat itu. Ini adalah pengabdian masyarakat berupa pelatihan desain grafis yang digelar oleh Deni Gunawan dan tim dosen-mahasiswa dari Prodi Sistem Informasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI).
Baca juga: Dosen UBSI Sukses Berikan Pelatihan Canva: Kader Posyandu Tambun Tingkatkan Promosi Kesehatan
Tujuannya mulia, tapi juga sangat relevan, yaitu ngajarin anak-anak panti asuhan dan dhuafa cara bikin konten visual yang oke, yang bisa jadi pintu masuk ke dunia digital yang (kadang) kejam tapi penuh peluang.
Kyla Fakhira, anak asuh berusia 12 tahun dari Yayasan Shohibu Al-Istiqomah, jadi salah satu bintang pagi itu. Dengan mata berbinar, dia bilang kalau Canva itu gampang banget dipakai. “Gratis lagi,” tambahnya sambil senyum malu-malu.
Buat kita yang sering ngeluh gara-gara layout Instagram Story nggak pas, ucapan Kyla ini kayak tamparan kecil yang ngingetin, bahwa belajar itu bisa jadi menyenangkan, apalagi kalau tujuannya bikin hidup jadi lebih mandiri.
Bayangin, anak-anak yang mungkin sebelumnya cuma tahu aplikasi di HP buat nonton YouTube, sekarang jadi bisa bikin poster, story IG, bahkan presentasi. Bukan sekadar iseng, tapi skill yang beneran bisa dijual. Karena di zaman sekarang, desain grafis bukan lagi urusan anak DKV aja—tapi semua orang butuh, dari pedagang gorengan sampai aktivis lingkungan.
Deni nggak banyak gaya. Tapi pesannya jelas, bahwa pelatihan ini bukan cuma soal klik dan drag di layar. Ini soal membukakan pintu. Biar anak-anak ini bisa masuk ke dunia yang biasanya cuma dikuasai mereka yang punya modal, kuota, dan privilege. Sekarang, modal mereka bertambah, yaitu semangat dan keterampilan.
“Kita sering lupa bahwa kreativitas itu hak semua orang, bukan cuma milik anak-anak yang dibesarkan di sekolah internasional atau punya laptop dengan logo apel kegigit. Pengabdian masyarakat kayak gini bukan cuma “kegiatan sosial”—tapi investasi masa depan. Bukan dalam bentuk deposito, tapi dalam bentuk harapan yang tumbuh dari rasa bisa dan percaya diri,” ungkap Deni.
Baca juga: Dukung UMKM Naik Kelas, UBSI Sosialisasikan Business Model Canvas di Desa Bojong Baru
Karena kalau Kyla dan teman-temannya udah bisa bikin desain sendiri, siapa tahu beberapa tahun lagi, merekalah yang bikin feed medsos kita jadi lebih estetik. Atau malah mereka yang bantu UMKM sekitar bikin branding profesional. Atau—dan ini harapan kita semua—mereka yang bisa berdiri di atas kaki sendiri, karena pernah dikasih kesempatan buat ngerti dunia yang dulu rasanya jauh banget dari genggaman.
Akhirnya, dosen UBSI bisa sepakat bahwa Canva hari itu bukan cuma jadi alat desain. Tapi jadi jembatan—dari kehidupan yang terbatas, menuju dunia yang lebih luas dan penuh kemungkinan. Dan buat mereka yang datang ke pelatihan itu, hari itu bukan cuma belajar ngedesain. Tapi belajar bermimpi.(ACH)