Belajar Jadi MC Bareng Warga Pekayon, Ketika Kampus Turun Gunung dan Warga Naik Panggung
BSINews, Bekasi – Di Sabtu yang hangat, 17 Mei 2025, kampus turun gunung. Bukan untuk demo, bukan juga karena dosennya nyambi jadi kepala desa, tapi demi satu misi mulia, yaitu ngajarin warga RW 13 Pekayon Jaya cara ngomong di depan umum tanpa gemeteran.
Yup, hari itu, para dosen dan mahasiswa dari Program Studi Ilmu Komunikasi Unvitersitas Bina Sarana Informatika (UBSI)—kampus yang biasanya sibuk ngebahas teori komunikasi dari Aristoteles sampai Habermas—memilih untuk nongkrong bareng warga, ngajarin jadi Master of Ceremony alias MC. Biar pas ada hajatan warga, yang pegang mic nggak lagi Pak RT dengan gaya kaku ala berita TVRI tahun 80-an, tapi bisa siapa pun yang siap dan percaya diri.
Baca juga: Pengabdian Masyarakat UBSI Menghadirkan Pelatihan MC Profesional dengan Teknologi AI di Cibubur
Tema acara ini jelas, “Pelatihan Master of Ceremony (MC) untuk Menunjang Kegiatan Warga.” Tapi jangan bayangkan kelas formal yang bikin ngantuk. Pelatihan ini justru dikemas santai, interaktif, dan penuh canda tawa. Soalnya yang dibahas bukan cuma soal teknik vokal dan bahasa tubuh, tapi juga dilema klasik MC rumahan, seperti gimana caranya tetap sopan tapi nggak kaku, bisa bikin suasana cair tanpa jadi garing, dan yang paling penting—nggak lupa nyebut doa pembuka.
Pelatihan ini dikomandoi oleh Yusmawati—yang lebih mirip manajer lapangan daripada dosen, lengkap dengan tim solid, yakni Ria Yunita yang jadi narasumber utama, Teguh Tri Susanto yang jagonya estetika panggung, dan Sultan Himawan, dosen yang kalau ngomong kayak penyiar radio malam.
Mereka juga bawa bala bantuan dari mahasiswa—Hayatun dan Asti—yang ikut terjun langsung, bantu warga latihan pegang mic, belajar intonasi, dan tentu saja latihan senyum yang tulus tapi nggak maksa.
Yang menarik, peserta pelatihan bukan cuma ibu-ibu pengajian atau pemuda karang taruna. Ada juga bapak-bapak pensiunan yang pengen belajar MC biar pas arisan nggak lagi asal tunjuk. Salah satu warga, Syaeful Karim, yang biasanya serius ngurusin banjir dan saluran air, hari itu tampil beda.
Dalam sambutannya, ia bilang, “Acara kayak gini tuh penting banget. Karena yang sering kita temuin, acara bagus-bagus, tapi yang bawain kayak baca daftar belanja.”
Dan memang, selama ini peran MC suka disepelekan. Padahal, MC itu jantungnya acara. Salah ngomong, bisa-bisa acara tahlilan malah berasa kayak ulang tahun. Maka, pelatihan ini bukan cuma soal tampil percaya diri, tapi soal menjaga marwah acara, membuat suasana, dan jadi jembatan antara tamu, panitia, dan isi acara itu sendiri.
Yang bikin haru, di sesi praktik, beberapa warga yang awalnya malu-malu mulai tampil dengan gaya masing-masing. Ada yang elegan, ada yang kocak, dan ada yang ya, masih kaku tapi sudah mau mencoba. Dan di situ letak kemenangan kecilnya.
Karena pada akhirnya, kegiatan ini bukan cuma soal bikin warga jago jadi MC. Tapi soal membuka ruang—ruang belajar bareng, berbagi tawa, dan mencairkan batas antara “dosen” dan “warga”, antara “akademisi” dan “realita”.
UBSI Sebagai Kampus Digital Kreatif sendiri lewat kegiatan ini menegaskan bahwa kampus bukan menara gading yang cuma sibuk nulis jurnal. Tapi harus juga hadir di tengah masyarakat—nggak cuma ngajarin cara ngomong yang benar, tapi juga mendengar cara masyarakat berbicara.(ACH)