Ketika UMKM dan Teknologi Bertemu di Ujung Tasik: Cerita dari Kaputihan Mart

0 81

BSINews, Tasikmalaya – Kita hidup di zaman ketika beli cilok aja bisa lewat aplikasi. Tapi ironisnya, banyak pelaku UMKM di pelosok-pelosok negeri yang masih mengandalkan cara-cara konvensional—jualan dari mulut ke mulut, ngandelin pasar kaget, dan mencatat stok pakai buku catatan yang udah belel kehujanan.

Maka, ketika Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Tasikmalaya datang membawa workshop bertajuk “Pemanfaatan Teknologi Digital untuk Pemberdayaan UMKM Desa Kaputihan,” ini bukan sekadar acara pengabdian masyarakat. Ini semacam angin segar—atau kalau boleh dramatis, pertolongan pertama sebelum usaha rakyat makin megap-megap di tengah derasnya arus digitalisasi.

Baca juga: Dosen Universitas BSI Berikan Pelatihan Laporan Keuangan kepada UMKM Desa Cimanggis: Bekali Pelaku Usaha Kuasai Microsoft Excel

Aula Desa Kaputihan, Kecamatan Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya pada Sabtu, 3 Mei 2025 mendadak jadi ruang pertemuan antara UMKM dan teknologi. Di sanalah para pelaku usaha lokal dikumpulkan, ditemani senyum hangat dosen dan mahasiswa UBSI. Tak ada tekanan, tak ada jargon startup yang sok-sokan. Yang ada justru bahasa sederhana, praktik langsung, dan suasana gotong royong, antara pelaku usaha belajar pegang laptop, mahasiswa bantuin klik-klik mouse, dan dosen menjelaskan fitur-fitur aplikasi yang mereka buat sendiri.

Aplikasi itu bernama Kaputihan Mart, sebuah platform berbasis web yang dikembangkan oleh mahasiswa UBSI. Platform ini bukan hanya tampilan toko online doang. Di balik antarmuka yang sederhana itu, ada sistem pengelolaan transaksi, laporan keuangan, stok barang, bahkan ulasan produk—semua dirancang untuk memberdayakan UMKM desa. Sesuatu yang mungkin dulu cuma ada di mimpi bapak-ibu pelaku usaha kecil.

Ketua pelaksana kegiatan, Yanti Apriyani, menyebut aplikasi ini sebagai solusi digital yang menyentuh langsung kebutuhan lokal. “Kami ingin masyarakat Desa Kaputihan bisa ikut arus zaman tanpa harus terseret ombaknya. Aplikasi ini semacam pelampung,” katanya, sambil sesekali membantu peserta yang kesulitan login.

Dosen-dosen yang terlibat seperti Miftah Farid Adiwisastra dan Yani Sri Mulyani menggarisbawahi bahwa pengelolaan usaha di zaman sekarang memang harus mulai beralih dari warung-warung dengan papan triplek ke dashboard dengan statistik real-time. Dengan aplikasi ini, proses seperti pemesanan barang, pencatatan stok, hingga laporan penjualan bisa dikerjakan lebih cepat dan akurat. Tak perlu lagi repot tanya-tanya, “Bu, stok sambel terasi masih ada, gak?”

Salah satu yang paling semangat dalam workshop ini adalah Atyla Azfa Al Harits dan Fauziah Nur Madinah—dua mahasiswa dari prodi Sistem Informasi UBSI Kampus Tasikmalaya yang mendampingi peserta dari awal sampai akhir. Mereka seperti jembatan yang menyampaikan bahasa teknologi yang rumit dalam bentuk yang ramah, praktis, dan bisa dimengerti oleh warga desa yang baru pertama kali pegang platform digital.

Kades Desa Kaputihan, Ujang Herman RN, tampak sumringah menyambut pelatihan ini. “Kami ingin produk-produk dari lima dusun dan 29 RT di desa ini bisa dikenal lebih luas. Bukan cuma sampai ke pasar kecamatan, tapi bisa sampai ke kota dan siapa tahu ekspor,” ujarnya optimis, seperti sedang mengimajinasikan keripik singkong buatan warganya masuk Amazon.

Antusiasme peserta terlihat bukan cuma dari cara mereka menyimak, tapi juga dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Salah satu peserta bahkan penasaran, “Kalau ada error waktu transaksi, kami hubungi siapa ya?”—tanda bahwa mereka benar-benar ingin mencoba dan mempraktikkan ilmu yang dibagikan.

Baca juga: Kolaborasi Internasional UBSI dan UniKL Perkuat Kapasitas UMKM Kuliner Kampung Bharu

Di akhir acara, yang tertinggal bukan cuma sertifikat atau materi presentasi, tapi semangat baru bahwa warga desa pun bisa melek digital, bisa jualan online, dan bisa naik kelas—asal ada yang peduli, membimbing, dan percaya bahwa perubahan itu mungkin.

Karena hari ini, dari sebuah aula kecil di Kota Tasikmalaya, kita belajar satu hal penting bahwa masa depan bukan hanya milik mereka yang tinggal di kota besar, tapi juga milik mereka yang mau belajar, bertanya, dan membuka diri terhadap perubahan. Dan kadang, perubahan itu datang bukan lewat startup jutaan dolar, tapi lewat mahasiswa UBSI dan aplikasi sederhana bernama Kaputihan Mart.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.