Modal Nekat, Setel Pikiran: Wirausaha Nggak Sekadar Jualan

0 64

BSINews, Jakarta – Bayangkan, kamu baru saja selesai kelas pagi, perut belum sempat diajak kompromi buat sarapan, eh malah langsung nyemplung ke aula kampus yang penuh mahasiswa dari berbagai jurusan. Di sana, alih-alih diceramahi dosen dengan slide PowerPoint yang penuh font ukuran 10, kamu malah disuguhi cerita-cerita getir-manis soal jatuh bangunnya jadi pengusaha muda.

Inilah suasana yang coba ditanamkan Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) lewat rangkaian Seminar Entrepreneur bertema “Set Up Your Mind to be a Young Entrepreneur” yang digelar dari 28 April hingga 24 Mei 2025 kemarin.

Baca juga: Dukung Wirausaha Muda, UBSI Kampus Pontianak Gelar Coaching Intensif Hadapi Seleksi P2MW dan PKM-K

Jangan bayangkan seminar ini kayak pelatihan bisnis yang isinya cuma teori modal dan omzet. Nope. Ini lebih mirip obrolan warung kopi premium, seperti mengalir, membakar semangat, dan kadang bikin kita mikir, “Loh, kenapa nggak dari dulu ya gue mulai usaha?”

Setiap harinya, di berbagai kota dari Jakarta sampai Yogyakarta, aula kampus UBSI ramai dengan mahasiswa yang duduk bersila (atau nyempil di belakang), mendengarkan langsung para founder startup, praktisi bisnis, dan alumni yang udah lebih dulu nyemplung ke dunia wirausaha. Mereka bukan cuma datang buat pamer cuan, tapi bercerita soal susah-senangnya membangun usaha dari nol.

Sebut saja Adi Rohadi, yang kalau bicara tuh kayak kombinasinya Deddy Corbuzier dan motivator MLM, tapi dalam versi yang lebih manusiawi dan membumi. Ia bilang, jadi pengusaha itu bukan soal punya modal duluan, tapi punya mindset yang tahan banting.

“Wirausaha bukan cuma soal uang, tapi juga soal dampak,” katanya. Lalu, ia melanjutkan dengan satu kalimat pamungkas yang bikin banyak peserta jadi merenung, “Bangun mindset tahan banting, terus belajar dan beraksi. Jadilah generasi pembaharu lewat karya dan bisnis.”

Bukan cuma Adi, ada juga Dedy DJ Custom yang ngajarin bahwa bahkan dari bengkel kecil bisa lahir brand besar, atau Pujianto si empunya Kaos Ngapak yang bikin kaos lokal jadi produk nasional. Semua narasumber seolah datang membawa satu pesan universal, yaitu kamu nggak harus jadi anak sultan buat mulai bisnis, yang penting punya niat, mental, dan strategi.

Menariknya, seminar ini nggak cuma dilangsungkan sekali duduk. Tiap hari ada tiga sesi, antara lain pagi, siang, dan malam. Buat yang kuliahnya padat, masih bisa nyempil di sesi malam. Dan kayak konser mini, setiap sesi punya vibe yang beda-beda, tergantung siapa narasumbernya.

Fuad Nur Hasan, Kepala BSI Entrepreneur Center (BEC) sekaligus Ketua Inkubator Bisnis Teknologi (IBT) UBSI, bilang kalau seminar ini memang sengaja dibuat panjang dan berkelanjutan. Tujuannya? Sederhana. “Agar mahasiswa kita nggak cuma siap kerja, tapi juga siap menciptakan lapangan kerja,” ujarnya. Kalimat ini seperti tamparan halus buat generasi yang masih galau milih antara ngelamar kerja atau buka warung online.

Lewat seminar ini, UBSI Sebagai Kampus Digital Kreatif ingin membangun budaya baru, yakni mahasiswa bukan lagi sekadar penonton di pasar kerja, tapi pemain aktif. Yang bukan cuma tahu cara bikin CV, tapi juga tahu cara bikin invoice.

Baca juga: Coaching Wirausaha Mahasiswa UBSI Kampus Pontianak: Dari Judul Menarik hingga RAB Tepat Sasaran

Maka jangan heran kalau setelah seminar, banyak mahasiswa pulang dengan ide-ide baru, bahkan ada yang langsung bikin akun marketplace-nya. Beberapa bahkan sudah curi start jualan dari dalam kelas, pakai story WhatsApp.

Karena sejatinya, jadi entrepreneur di zaman sekarang bukan cuma perkara bisnis. Ini soal keberanian buat menantang rutinitas, membangun jalan sendiri, dan menulis ulang masa depan dengan tangan sendiri. Dan UBSI, lewat seminar ini, sedang mengajak mahasiswa untuk memulai langkah pertama itu—dengan pikiran terbuka, mental baja, dan sedikit keberanian buat gagal.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.