UBSI Bantu Banyusoco Nggak Cuma Jadi Tempat Lewat, Tapi Tempat Wisata
BSINews, Yogyakarta – Di tengah hamparan perbukitan Gunungkidul, Yogyakarta yang hijau dan sunyi, ada satu dusun yang mulai bersuara. Namanya Dusun Ketangi, Desa Banyusoco. Bukan suara gaduh atau keluh, tapi suara semangat dari warga desa yang pengen bikin kampungnya naik kelas—jadi desa wisata yang nggak cuma cantik dilihat, tapi juga berdaya saing dan berkelanjutan. Dan mimpi itu mulai dirajut lewat langkah kecil tapi berarti, lewat pelatihan pengelolaan Desa Wisata bareng Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI).
Minggu cerah itu, 9 Juni 2024, suasana di Balai Dusun Ketangi beda dari biasanya. Bukan karena ada hajatan, tapi karena 25 warga dari berbagai latar belakang—mulai dari perangkat desa, pemuda karang taruna, sampai pelaku usaha lokal—datang untuk belajar. Mereka datang bukan buat jadi turis di desanya sendiri, tapi untuk jadi penggerak perubahan.
Alan Budi Kusuma, dosen UBSI sekaligus Ketua tim pengabdian masyarakat, tampil sebagai pemateri utama. Bersama dua rekannya, Refany Novia Siboro dan Viki Sulistia, serta tiga mahasiswa pendamping—Ferdi Irawan, Nova Ramadona Fitriyana, dan Novita Maharani—mereka membaur dengan warga, berbagi ilmu sekaligus mendengar harapan.
“Desa wisata itu bukan soal bagusnya pemandangan aja, tapi juga soal bagaimana masyarakat bisa jadi tuan rumah di kampungnya sendiri,” kata Alan, sambil memaparkan strategi promosi digital dan manajemen atraksi wisata.
Materi demi materi disampaikan, tapi yang paling menarik justru momen diskusinya. Warga antusias, banyak bertanya, dan mulai saling lempar ide. Dari situ muncul wacana pembentukan tim kerja khusus untuk mengelola wisata desa. Bukan sekadar wacana, tapi rencana serius yang muncul dari kesadaran bahwa potensi lokal—dari kuliner sampai panorama alam—nggak boleh dibiarkan tidur.
Pelatihan ini jadi lebih dari sekadar agenda kampus. Ia jadi ruang temu antara pengetahuan akademis dan kearifan lokal. Antara dosen yang biasanya berkutat di ruang kelas, dan warga desa yang tahu persis medan perjuangan mereka.
“Harapannya sih, pelatihan kayak gini nggak cuma sekali doang. Biar kami makin siap menyambut wisatawan dan ngembangin desa dengan cara yang tetap jaga budaya dan alam,” ujar salah satu peserta, dengan nada optimis.
UBSI Sebagai Kampus Digital Kreatif hadir bukan sebagai penyuluh yang merasa paling tahu, tapi sebagai kawan belajar yang berjalan bersama. Lewat program Pengabdian Masyarakat (PM) ini, UBSI menunjukkan bahwa perguruan tinggi bisa punya peran besar dalam pembangunan desa—asal mau turun tangan dan mendengarkan.
Baca juga: UBSI Gelar FGD Penyusunan Masterplan Desa Wisata Banyusoca di Gunungkidul
Dusun Ketangi mungkin kecil di peta, tapi langkah mereka hari itu bikin kita percaya bahwa perubahan besar bisa lahir dari niat tulus dan kerja bareng. Dan UBSI? Siap terus mendampingi.(Fajar)