Ketika Grafik Bicara Lebih Lantang dari Kata, Dosen UBSI Latih Guru SPS Rawasari Taklukkan Microsoft Excel
BSINews, Jakarta – Pagi itu, udara Jakarta Pusat masih hangat diselimuti semangat akhir pekan. Namun di ruang belajar SPS Negeri Bale Bermain Ceria, suasananya jauh dari kata santai. Sabtu, 10 Mei 2025, ruangan yang biasanya dipenuhi canda anak-anak kini dipenuhi ketekunan para pendidik dan staf yang siap menerima ilmu baru dari para dosen dan mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI).
Baca juga: UBSI Gelar Pelatihan Microsoft Excel untuk Peningkatan Keamanan Dokumen di SPS Mawar Indah
Kegiatan Pengabdian Masyarakat (PM) yang menjadi bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi ini bukan sekadar rutinitas akademik. Ia menjadi jembatan antara dunia kampus dan realitas masyarakat. Kali ini, para dosen dari Fakultas Teknik dan Informatika UBSI membawa pelatihan bertema “Optimalisasi Penggunaan Fungsi Pengolahan Grafik-Microsoft Excel dalam Menyajikan Data Bentuk Visual.”
Kegiatan ini dipimpin oleh Yumi Novita Dewi sebagai ketua tim, bersama dosen Tuslaela, tutor Taranza Agatha Tutupoly, dan lima mahasiswa dari Program Studi Informatika UBSI.
Dalam pelatihan ini, peserta—yang mayoritas adalah pengajar dan anggota komunitas SPS—diajak mengenal kembali Microsoft Excel, bukan sekadar sebagai lembar kerja angka, tetapi sebagai alat komunikasi visual yang canggih. Pelatihan mencakup pengenalan dasar hingga praktik langsung menyusun grafik dari data sederhana.
Tujuannya sederhana tapi berdampak besar, yakni mempermudah pembuatan laporan yang biasanya panjang dan verbal menjadi lebih ringkas, menarik, dan mudah dipahami melalui bentuk visual.
Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana PM UBSI, Yopi Handrianto, menyampaikan bahwa pelatihan ini bertujuan membuka wawasan baru dalam penyajian data. “Kita terbiasa menyusun laporan panjang, tapi dengan grafik yang tepat, pembaca bisa menangkap pesan lebih cepat dan akurat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua SPS Negeri Bale Bermain Ceria menuturkan bahwa pelatihan ini terasa sangat bermanfaat. “Kami, para pengajar, seringkali kesulitan menyusun laporan yang rapi dan komunikatif. Dengan pelatihan ini, kami jadi lebih percaya diri menyajikan data dalam bentuk grafik yang informatif dan enak dibaca,” ungkapnya dengan antusias.
Kegiatan berlangsung interaktif, penuh tanya jawab dan diskusi hangat. Para peserta tak hanya belajar, tapi juga aktif menguji diri mereka dalam sesi kuis di akhir pelatihan. Mereka yang mampu menjawab pertanyaan dengan tepat, mendapatkan cinderamata sederhana dari panitia—sebuah bentuk apresiasi yang membangun kepercayaan diri.
Salah satu peserta menyampaikan kesan menyentuh dalam sesi testimoni. “Biasanya saya hanya mengisi Excel untuk absensi. Sekarang, saya bisa buat grafik perkembangan anak. Rasanya seperti naik level,” katanya sembari tersenyum bangga.
Pengabdian ini menjadi bukti bahwa teknologi tak selalu harus rumit, dan pelatihan bukan hanya soal teori. Di tangan yang tepat, bahkan fungsi grafik di Microsoft Excel bisa menjadi alat pemberdayaan, membukakan jalan bagi para pengajar untuk menyajikan informasi secara lebih efektif, efisien, dan bermakna.(ACH)