Python, Zoom, dan Masa Depan Digital: Ketika Mahasiswa UBSI Belajar Bahasa Mesin Demi Bisa Bicara dengan Dunia
BSINews, Jakarta – Di tengah rutinitas mahasiswa yang biasanya diisi tugas deadline mendadak, koneksi Wi-Fi yang moody, dan dilema antara belajar atau rebahan, terselip satu kegiatan yang mungkin terdengar seperti misi agen rahasia, yakni Pembekalan Sertifikasi Python. Tapi jangan salah paham dulu—ini bukan kursus menangkap ular. Ini tentang belajar bahasa yang bisa “berbicara” sama mesin. Serius.
Kamis, 19 Juni 2025, lewat Zoom, ratusan mahasiswa UBSI dari berbagai kampus berkumpul secara virtual buat satu tujuan: mengasah otak, menyerap logika, dan bersiap jadi manusia yang bisa coding pakai Python.
Python itu semacam bahasa universalnya dunia teknologi. Bisa dipakai buat bikin aplikasi, ngolah data, sampai ngajarin mesin supaya bisa mikir (alias AI). Pendek kata, Python adalah bahasa masa depan, yang sebaiknya dimulai dipelajari dari sekarang. Apalagi buat anak informatika yang katanya mau kerja di Google, bikin startup, atau setidaknya nggak nyasar pas cari kerja.
Makanya UBSI Sebagai Kampus Digital Kreatif nggak tinggal diam. Lewat Program Studi Informatika, mereka ngasih pembekalan sebelum mahasiswa masuk ke medan pertempuran, ujian sertifikasi Python. Sertifikasi ini bukan cuma bukti kalau kamu bisa ngoding, tapi juga semacam paspor buat masuk ke dunia profesional.
Yang bikin acara ini beda adalah keseriusannya. Meski dilakukan via Zoom, para peserta tetap fokus. Mungkin karena tahu, ini bukan sekadar webinar biasa yang bisa ditinggal rebahan. Tapi ini tentang persiapan menuju sertifikasi internasional. Kalau lulus, bisa langsung dicantumin di CV, LinkedIn, bahkan bisa jadi bahan ngobrol waktu wawancara kerja nanti.
Lisnawanti selaku Kaprodi Informatika UBSI Kampus Pontianak, membuka acara dengan satu pernyataan yang kena banget di hati mahasiswa masa kini, “Sertifikasi Python yang diakui internasional akan jadi nilai tambah signifikan.” Kalimat itu langsung bikin peserta duduk lebih tegak, dan beberapa mungkin mulai mikir ulang soal prioritas hidup.
Yang paling menarik adalah sesi studi kasus. Karena belajar coding itu kayak belajar berenang—nggak bisa cuma baca teori, harus nyemplung langsung. Makanya, mahasiswa diajak menyelam bareng praktisi IT yang udah kenyang ngoding. Dari ngupas soal ujian sampai diskusi seputar logika program, semuanya dikemas dengan gaya interaktif. Nggak ada tuh istilah “kamu nanya?” yang menakutkan. Justru yang ada, “Silakan tanya, jangan malu-malu!”
Jauh dari hingar-bingar kampus dan bel sekolah, kegiatan ini sesungguhnya menyentuh satu hal paling mendasar, bahwa kesiapan mahasiswa untuk hidup di dunia nyata yang makin digital, makin kompleks, dan makin butuh orang-orang yang bisa mikir logis.
Belajar Python bukan cuma supaya bisa ngoding. Tapi supaya bisa melatih sabar, berpikir runtut, dan memecah masalah secara sistematis. Dan kalau dipikir-pikir, itu juga kemampuan yang kita perlukan dalam hidup, kan? UBSI udah buka jalan. Sekarang giliran mahasiswanya yang melangkah.(ACH)