Ketika Kampus Tak Lagi Sekadar Urusan Anak, tapi Juga Curhat Orang Tua

0 45

BSINews, Tangerang – Banyak orang tua yang masih berpikir bahwa setelah anak dinyatakan “diterima kuliah”, maka tugas sebagai navigator hidup selesai. Tinggal kasih uang jajan, doain dari rumah, dan sesekali tanya, “Kapan wisuda?” Tapi tidak demikian dengan Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Tangerang. Di sana, para orang tua justru diajak duduk manis di bangku kampus, bukan buat kuliah lagi, tapi buat ngobrolin masa depan anak-anaknya.

Sabtu pagi, 5 Juli 2025 nanti, bakal jadi waktu yang unik, di mana 110 orang tua mahasiswa baru akan “masuk kampus”. Bukan untuk sidak kos-kosan anaknya, bukan juga buat ngecek ada pacarnya atau enggak, tapi buat hadir di acara Bincang Kampus bersama Orang Tua (BKOT). Sebuah forum yang—kalau dipikir-pikir—adalah bentuk nyata dari konsep “anak milik bersama”, antara rumah dan universitas.

Baca juga: Kampus, Anak, dan Mertua Akademik Bernama Orang Tua

Banyak dari para orang tua itu mungkin baru seminggu sebelumnya masih sibuk nyiapin beras dan sambal teri buat anaknya yang pindah ke kos. Tapi kini mereka diajak pindah meja—dari meja makan ke meja diskusi kampus. Dan yang membuka acara bukan sembarang orang. Ada Mochamad Nandi Susila, Kepala Kampus UBSI Kampus Tangerang, yang menyambut mereka seperti keluarga jauh yang akhirnya pulang ke rumah.

Acara ini memang bukan sekadar formalitas. Di dalamnya, orang tua diajak kenal lebih dekat dengan kampus tempat anak mereka bakal menghabiskan empat tahun penuh drama, kodingan error, galau tugas kelompok, sampai akhirnya berdiri dengan toga.

Kehadiran Eka Dyah Setyaningsih selaku Kaprodi Manajemen UBSI, jadi momen penting. Eka akan menguraikan dengan lembut, bahwa kuliah zaman sekarang bukan cuma soal hafalan, tapi soal adaptasi. Orang tua diajak paham bagaimana kampus merancang sistem pembelajaran, mentoring, sampai strategi akademik supaya anak nggak sekadar “datang-absen-pulang”, tapi benar-benar berkembang.

Lalu muncul Asep Sayfulloh dari kemahasiswaan UBSI. Asep datang sebagai juru bicara dunia mahasiswa—yang kadang bagi orang tua itu misterius. Asep bakal cerita soal pentingnya ikut organisasi, jadi panitia, ikut lomba, dan bagaimana hal-hal itu justru bikin anak lebih tahan banting di dunia kerja. Karena, mari kita jujur, bahwa IPK tinggi itu bagus, tapi tanpa kemampuan ngomong di depan umum dan kerja bareng tim, gelar sarjana cuma jadi stiker di map lamaran kerja.

Acara ini dipandu oleh Rabiatul Adawiyah, yang dengan gaya cair dan hangat membuat suasana nggak kaku kayak seminar keuangan. Di tangan Rabiatul, diskusi bisa melompat dari soal transkrip nilai ke cerita soal anak yang susah bangun pagi, lalu balik lagi ke pentingnya pelatihan soft skill.

Forum ini jadi tempat curhat sekaligus penyadaran. Bahwa orang tua hari ini bukan cuma donatur tetap, tapi juga partner tumbuh. Kampus bukan lawan bicara, tapi kawan sevisi. UBSI Sebagai Kampus Digital Kreatif sadar bahwa dunia pendidikan hari ini bukan cuma soal kurikulum, tapi soal sinergi. Anak yang sukses kuliah bukan cuma karena pintar, tapi karena ada jembatan komunikasi yang utuh antara rumah dan kampus.

Baca juga: Jadi Orang Tua Nggak Cukup Cuma Bayarin Uang Kuliah, Bung!

BKOT jadi semacam panggilan balik buat para wali. Panggilan untuk kembali terlibat, bukan mencampuri. Untuk mendampingi, bukan mengendalikan. Dan yang terpenting, untuk hadir—di momen-momen penting anak-anak mereka.

Karena mungkin, di tengah tawa dan diskusi hari itu, ada seorang bapak yang akhirnya sadar, bahwa peran orang tua ternyata belum selesai. Justru baru dimulai lagi, di babak baru yang bernama “anak kuliah”.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.