Ngintip Dapur Industri, Ketika Mahasiswa UBSI Kampus Solo Main ke Sarangnya Gmedia
BSINews, Solo – Hari itu, Selasa, 1 Juli 2025, matahari Yogyakarta menyambut dengan pelukan hangat sedikit menyengat, tapi masih sopan. Tapi bukan itu yang bikin antusias dua puluh mahasiswa dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Solo membuncah sejak pagi.
Bukan juga karena mereka mau liburan atau study tour ke tempat wisata estetik demi feed Instagram. Mereka berangkat ke PT Media Sarana Data alias Gmedia, buat ngintip langsung dapur industri teknologi informasi yang biasanya cuma bisa dibayangkan lewat slide PowerPoint dan video YouTube.
Baca juga: Kenapa Banyak Mahasiswa Memilih Kuliah di Solo? Ini Alasannya!
Bayangkan aja, anak-anak Sistem Informasi UBSI Kampus Solo yang sehari-hari akrab sama teori-teori sistem dan algoritma, tiba-tiba bisa lihat langsung bagaimana coding bukan sekadar tugas akhir, dan server itu bukan cuma folder besar di laptop dosen.
Gmedia, perusahaan yang namanya sudah familiar di industri TI, kayak jagoan kelas yang nggak pernah skip PR ini menyambut rombongan mahasiswa ini dengan tangan terbuka dan sesi presentasi yang cukup bikin dahi berkerut sekaligus bikin semangat menyala.
Dipandu oleh sang Kaprodi Sistem Informasi UBSI Kampus Solo, Supriyanta, kunjungan ini seperti campuran antara field trip, studi kasus, dan sesi motivasi karir. Mahasiswa nggak cuma duduk manis, dengerin materi, lalu pulang bawa sertifikat.
Mereka diajak ngobrol langsung sama tim pengembang Gmedia. Mulai dari proses awal pembuatan aplikasi, pemilihan teknologi, workflow yang dipakai, sampai cerita-cerita absurd soal debugging jam tiga pagi. Semua ditumpahkan dengan jujur dan tanpa filter.
“Ini kayak buka pintu ke dunia yang biasanya cuma kita dengerin doang pas kuliah. Sekarang lihat langsung. Rasanya beda,” ujar Farel, salah satu mahasiswa yang tampak lebih serius dari biasanya. Mungkin karena sudah terbayang skripsi tahun depan bisa jadi tentang implementasi API di perusahaan nyata, bukan sekadar proyek fiktif buat syarat kelulusan.
Yang bikin menarik, Gmedia juga nggak pelit cerita soal bagaimana mereka membangun sistem, memilih metode kerja, dan menjaga integritas kerja tim. Dari Scrum sampai agile development, semua diulas sambil sesekali diselingi humor khas programmer yang hanya bisa dimengerti kalau kamu pernah stuck di logika IF ELSE tanpa jalan keluar.
Supriyanta sendiri menegaskan bahwa kunjungan seperti ini bukan sekadar formalitas UBSI Sebagai Kampus Digital Kreatif biar kelihatan keren. Tapi sebagai jembatan antara teori dan praktik, karena dunia kerja itu keras, dan lulusan yang cuma jago teori bisa-bisa gugur sebelum interview tahap kedua.
Kunjungan ini juga punya misi jangka panjang, yaitu membangun koneksi antara kampus dan industri. Karena masa depan pendidikan nggak bisa lagi cuma berkutat di ruang kelas dan jurnal ilmiah. Harus ada sentuhan nyata, pengalaman langsung, dan obrolan antargenerasi di ruang server dingin yang penuh kabel dan monitor berkedip.
Baca juga: Ini 5 Rekomendasi Kampus TI Terbaik di Kota Solo
Dan siapa tahu, dari kunjungan kecil ini, lahir kolaborasi besar seperti magang, riset bersama, bahkan rekrutmen langsung. Dunia kerja bukan lagi misteri menakutkan, tapi jadi tempat di mana teori kampus bisa menjelma jadi solusi nyata. Karena sejatinya, mahasiswa yang baik bukan cuma yang lulus tepat waktu, tapi juga yang ngerti ke mana ilmunya harus dibawa pulang.
Akhirnya, dari Yogyakarta ke Solo, para mahasiswa UBSI itu pulang dengan kepala penuh ide, hati penuh semangat, dan mungkin, sedikit capek. Tapi itulah belajar yang sebenar-benarnya. Nggak melulu dari buku atau dosen, tapi dari dunia nyata yang kadang jauh lebih seru daripada soal ujian.(ACH)