Guru PAUD, AI, dan Dongeng Digital! Cerita dari Sebuah Ruangan Pengabdian di Pontianak
BSINews, Pontianak – Kalau ada yang bilang dosen cuma sibuk ngasih nilai dan absen kuliah, berarti mereka belum ketemu dosen-dosen dari UBSI (Universitas Bina Sarana Informatika) Kampus Pontianak. Soalnya, di hari Sabtu yang biasanya jadi waktu ‘me time’, mereka justru turun gunung. Bukan buat rekreasi, tapi buat mengabdi. Bukan sekadar datang, tapi bawa misi memperkenalkan dunia kecerdasan buatan (AI) ke hadapan para guru PAUD lewat dongeng dan video edukasi.
Ya, betul. Di tanggal 5 Juli 2025 lalu, mereka menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat bertema “Membuat Video Edukasi Cerita Anak dengan Memanfaatkan Kecerdasan Artifisial”. Tempatnya di Gedung PT. Penerbit Erlangga, Jl. Parit H. Husin II, Kota Pontianak. Audiensnya bukan mahasiswa, bukan juga anak-anak. Tapi para pahlawan pendidikan masa kecil, guru-guru PAUD yang tergabung dalam HIMPAUDI Kubu Raya.
Dosen-dosen dari Prodi Informatika UBSI Kampus Pontianak tampil sebagai pelaksana. Ada Muhammad Rezki sebagai ketua kegiatan, Muhammad Iqbal sebagai tutor, serta Muhammad Ifan Rifani dan Siti Nurdiani sebagai tim pendamping. Di hari itu, yang dibagikan bukan hanya pengetahuan, tapi harapan bahwa pendidikan anak usia dini juga bisa tampil keren dan relevan di era digital.
Muhammad Iqbal, dosen yang didapuk sebagai tutor utama, memberikan tutorial lengkap soal cara bikin video dongeng anak berbasis AI. Tools-nya? Magic Light AI, sebuah platform yang punya fitur jempolan, bisa bikin karakter, ngisi suara otomatis, bahkan mengekspor cerita jadi video siap tayang. Nggak perlu jago edit video. Cukup niat, cerita, dan kemauan untuk belajar.
“Ide besar dari kegiatan ini adalah agar guru PAUD bisa bikin bahan ajar yang menarik dan interaktif. Karena kadang, anak-anak sekarang lebih betah nonton animasi daripada dengar ceramah,” ujar Iqbal, sambil tersenyum. Tapi senyumnya itu serius, karena di baliknya ada semangat besar untuk menjadikan AI bukan sekadar tren teknologi, tapi alat bantu pendidikan.
Muhammad Rezki, sang ketua kegiatan, bilang bahwa ini adalah bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tapi buat dia, pengabdian itu bukan soal menggugurkan kewajiban semata. Ini tentang menjembatani dua dunia yang sering dianggap bertabrakan: dunia teknologi dan dunia pendidikan anak usia dini.
“Daripada melawan arus AI yang makin deras, lebih baik guru-guru kita belajar berenang di dalamnya. Tapi tentu saja, tujuannya tetap mulia, yaitu demi anak-anak, demi masa depan,” pungkasnya.
Dan memang terasa betul semangat itu di ruangan hari itu. Salah satunya dari Siti Maemunah, Ketua HIMPAUDI Kecamatan Kuala Mandor B. Matanya berbinar saat bilang, “Saya baru sadar AI itu nggak cuma bisa jawab pertanyaan atau bantu nyari gambar lucu. Tapi bisa dipakai untuk bikin video edukasi sendiri, sesuai kebutuhan anak-anak kami.”
Lebih dari sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini jadi ruang refleksi. Bahwa pendidikan anak usia dini pun berhak menyentuh teknologi. Bahwa guru PAUD nggak boleh lagi cuma jadi penonton kemajuan. Bahwa pendidikan karakter dan cerita rakyat bisa dibalut dalam format digital yang menarik tanpa kehilangan ruhnya.
Pelatihan ini bukan sekadar tentang kecanggihan Magic Light AI. Tapi tentang menjinakkan teknologi, memeluk masa depan, dan memfungsikannya untuk hal yang paling mulia yaitu mendidik anak-anak bangsa. Anak-anak yang kelak, mungkin, jadi pengguna teknologi paling canggih, tapi hari ini, masih butuh dongeng sebelum tidur dan video edukasi yang penuh warna.
Baca juga: Pelatihan Gambar Cerita dengan AI: Dosen UBSI Bekali Guru PAUD Kubu Raya Keterampilan Baru
Kegiatan pengabdian masyarakat ini bukan cuma tentang transfer ilmu, tapi transfer semangat. Bahwa kampus bukan menara gading, dan dosen bukan dewa teori. Mereka bisa hadir, duduk bersama guru-guru, dan bilang “Ayo, kita belajar bareng. Dunia sudah berubah. Dan pendidikan harus ikut melaju.”
Siapa sangka, di sebuah ruangan di Pontianak, AI dan dongeng bisa duduk bareng. Dan semua itu terjadi karena ada kampus UBSI yang mau mengabdi, dan ada guru-guru PAUD yang mau belajar. Kalau itu bukan semangat merdeka belajar yang sebenarnya, lalu apa?(ACH)