Bangun Aplikasi Sendiri, Mahasiswa UBSI Kampus Solo Hadapi Tantangan Nyata di Kelas Mobile Programming
BSINews, Solo — Kelas Mobile Programming di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Solo sebagai Kampus Digital Kreatif menghadirkan pembelajaran berbasis praktik nyata. Di bawah bimbingan Galih Setiawan Nurohim, mahasiswa ditantang untuk mengembangkan aplikasi mobile secara individu, bukan lagi berkelompok seperti tahun-tahun sebelumnya. rilis pada Kamis, (17/7).
“Alih-alih berbagi tugas dalam kelompok, saya ingin mereka semua benar-benar mengalami proses pengembangan dari nol, mulai dari desain hingga debugging,” ujar Galih usai sesi akhir semester.
Mahasiswa menggunakan Flutter sebagai framework utama dan Supabase untuk backend, mencakup autentikasi, penyimpanan data , serta integrasi API. Pemanfaatan teknologi AI juga diperkenalkan sebagai pendukung produktivitas.
Dua Fase Pembelajaran, Satu Tujuan Kemandirian
Pembelajaran dibagi menjadi dua fase. Pada semester awal, mahasiswa mendalami dasar pemrograman Dart dan Flutter. Usai UTS, mereka masuk fase integrasi backend dan pemanfaatan AI. Tantangan nyata pun muncul: error API, kendala autentikasi, hingga desain arsitektur aplikasi.
“Bukan hanya tentang menulis kode, mereka belajar mengatasi masalah yang muncul ketika aplikasi benar-benar dijalankan. Inilah pengalaman yang paling berharga,” lanjut Galih.
Setiap mahasiswa mempresentasikan aplikasi yang dikembangkan secara mandiri. Berikut beberapa di antaranya: Rental Playstation – Galieh Aji Prasetyo, Rental iPhone – Gilang Dwi Kurniawan, Resep Makanan – Ryan Indra Fawwaz, Study Group – Shandy Aulia Ramadhani, DoNow (To-do List) – Sola Gracia Deo Andrew, Stok Toko – Wahyu Intan Wijayanti, Campus_Swap – Dehant Mahendra H, Aplikasi Keuangan – Isnaini Mufidatul, English Academy – Putri Setiyani, MyQuran – Doni Arianto, Teroka Wonogiri – Vania Kusumawardhani, Risk Wise – Rafi Naufal Ridho, Pinjam Buku – Alvian Alif Zico
Baca Juga : Membangun Aplikasi Back-End Lebih Efektif, Universitas BSI Gelar Workshop Laravel untuk Dosen
Beberapa aplikasi telah siap rilis dan memiliki potensi untuk digunakan secara luas.
Setiap pekan, mahasiswa menghadapi kendala teknis yang harus dipecahkan. Galih menekankan bahwa inilah inti dari proses belajar: “Mereka belajar berdamai dengan error, mencari solusi, dan saling bantu. Ini bukan hanya soal coding, tapi soal membentuk mental pembelajar yang tangguh.”
Transformasi metode pembelajaran ini menjadi bukti bahwa mahasiswa mampu menjadi pencipta solusi digital. Dengan pendekatan praktis dan dukungan teknologi modern, UBSI Solo mendorong lahirnya inovator masa depan.
Baca Juga : Mobile Programming: Panduan Ampuh, Bikin Aplikasi Android dari Nol Hingga dengan 7 Cara
“Dari sekadar menyusun kode, mereka menjadi pembuat solusi digital. Ini yang saya sebut pendidikan yang relevan,” Tutupnya Galih. (Safika Rahman)