Menguji Diri Sebelum Dunia Kerja Menguji, Cerita dari Kaliabang Tentang Sertifikasi, Stres, dan Semangat Bertahan
BSINews, Bekasi – Ada masa dalam hidup mahasiswa ketika skripsi bukan lagi satu-satunya momok yang bikin deg-degan. Di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Kaliabang, rasa deg-degan itu datang lebih cepat, lebih teknikal, dan buat sebagian mahasiswa, lebih memusingkan dari sekadar nyusun bab 3. Namanya Uji Sertifikasi Kompetensi Skema Analis Programer. Kedengarannya aja udah kayak nama jurus pamungkas di anime, serius, bukan sekadar main-main.
Selama tiga hari, dari 15 sampai 17 Juli 2025, ratusan mahasiswa dari Fakultas Teknik & Informatika UBSI bertarung. Bukan di medan perang, tapi di ruang Tempat Uji Kompetensi (TUK) kampus sendiri, yang mendadak berubah jadi arena gladiator bagi mereka yang sedang membuktikan kelayakan profesionalnya. Misi mereka satu, membuktikan bahwa mereka bukan sekadar bisa ngoding saat dikasih tugas, tapi memang siap tempur di dunia industri.
Baca juga: Dorong Kompetensi Digital Kreatif, UBSI Bekali Mahasiswa Penyiaran dengan Sertifikasi Industri
Dunia kerja sekarang nggak cuma butuh anak muda yang bisa mengotak-atik kode. Dunia kerja butuh bukti. Butuh sertifikasi. Dan UBSI Sebagai Kampus Digital Kreatif tahu betul itu. Makanya, mereka menggandeng LSP resmi yang ditunjuk BNSP buat ngasih cap “layak kerja” ke mahasiswa-mahasiswi ini. Dan ini bukan sekadar formalitas. Ini semacam SIM C buat programmer, bukan cuma bisa naik motor, tapi tahu aturan mainnya, siap menghindari lubang, dan ngerti cara belok di persimpangan.
Muhamad Tabrani, Kepala Kampus UBSI Kampus Kaliabang, nggak asal ngomong waktu bilang, “Kami ingin lulusan UBSI tidak hanya punya ijazah, tapi juga sertifikasi yang diakui dunia kerja.” Kalimat itu, buat mahasiswa yang lagi ngoding sampai mata sepet, terdengar kayak janji manis yang harus ditebus dengan lembur dan sakit kepala. Tapi buat masa depan? Worth it.
Bayangin aja, satu studi kasus, harus dianalisis dari nol. Mereka diminta ngelacak kebutuhan sistem, bikin flow diagram (yang seringnya lebih rumit dari perasaan gebetan), sampai harus nyusun dokumentasi teknis yang bahasa teknologinya kadang lebih asing dari bahasa alien. Belum lagi logika pemrograman yang harus disusun rapi, padahal otak kadang udah mumet duluan karena jam tidur semalam cuma 3 jam.
Tapi jangan salah. Di balik rasa stres dan mata panda yang makin pekat, ada kebanggaan yang nggak bisa ditukar. Seperti yang diceritakan Nadia Ramadhani, salah satu peserta uji, “Rasanya menegangkan tapi juga sangat menantang. Di sinilah kami membuktikan bahwa semua yang dipelajari bisa diaplikasikan langsung, dan ini jadi bekal nyata buat masuk dunia kerja.” Ada nada haru dan lega di balik kalimatnya, semacam euforia setelah lari marathon dan akhirnya sampai garis akhir.
Buat UBSI, kegiatan ini bukan cuma agenda rutin akademik. Ini semacam pengukuhan janji. Janji bahwa mereka nggak cuma tempat buat kuliah, tapi juga tempat menempa. Kampus yang ngasih bekal, bukan hanya lembar transkrip. Bahwa mahasiswa mereka bukan cuma hafal teori, tapi juga bisa mengaplikasikan. Bisa bicara dalam bahasa industri. Bisa masuk ke kantor beneran dan bilang, “Saya siap.”
Baca juga: Sertifikasi Kompetensi Pemrograman UBSI Kampus Karawang, Bekal Mahasiswa Hadapi Industri 4.0!
Dan, yah, kita tahu hidup nggak selalu seadil itu. Banyak orang lulus dengan nilai A tapi bingung nyari kerja. Tapi di dunia yang makin kompetitif ini, punya sertifikasi Analis Programer bisa jadi semacam paspor, pembeda yang menyelamatkan. Dan UBSI Kampus Kaliabang, dengan semua stres dan semangat yang diproduksi selama tiga hari itu, lagi-lagi membuktikan bahwa mereka serius dalam membentuk manusia siap pakai. Bukan produk cetakan, tapi manusia yang digembleng.
Kalau kamu tanya, apa gunanya semua ini? Jawabannya mungkin sederhana, dunia kerja bukan tempat main-main. Jadi kampus juga nggak bisa setengah-setengah. Di UBSI Kampus Kaliabang, mahasiswa belajar untuk bertahan, beradaptasi, dan bersaing. Karena pada akhirnya, ijazah bisa disimpan di lemari. Tapi kemampuan bertahan dan bersinar? Itu yang bikin kamu tetap berdiri di tengah riuhnya dunia.(ACH)