Mahasiswa UBSI Kenalkan Nilai Toleransi Lewat Pengajian di TPA Tarbiyatul Aulad
BSINews, Jakarta – Mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), yang dikenal sebagai Kampus Digital Kreatif menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk pengajian bertema toleransi di TPA Tarbiyatul Aulad, Jakarta Barat, pada Jumat (23/5) lalu. Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai hidup rukun dan saling menghormati sejak dini kepada anak-anak, sekaligus memperkuat peran UBSI dalam implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Pengajian disambut antusias oleh peserta TPA. Mereka mengikuti materi secara aktif dan menunjukkan ketertarikan besar terhadap topik toleransi yang disampaikan. Kegiatan ini menjadi bagian dari pelaksanaan Pengabdian Masyarakat (PM) yang wajib dilakukan oleh dosen dan mahasiswa sebagai bentuk kontribusi akademik terhadap lingkungan sosial.
Ketua tim pengabdian, Riko Ardiansyah, menjelaskan bahwa tema toleransi dipilih karena saat ini anak-anak sangat mudah terpapar oleh informasi dari media sosial, yang tidak semuanya bernilai positif. Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk memahami adab dan nilai kemanusiaan sejak usia dini.
“TPA Tarbiyatul Aulad memang belum memiliki fasilitas yang memadai, tetapi semangat anak-anak dalam mengikuti materi sangat luar biasa. Ini menjadi bukti bahwa pengenalan nilai-nilai seperti toleransi bisa dimulai dari lingkungan sederhana namun bermakna,” ujar Riko, dari keterangan rilis yang diterima pada Senin (26/5).
Dalam kegiatan ini, mahasiswa UBSI memberikan pelatihan dan edukasi seputar pentingnya menghargai perbedaan serta hidup berdampingan secara damai. Materi disampaikan dengan pendekatan yang mudah dipahami oleh anak-anak, termasuk melalui diskusi, permainan interaktif, dan sesi tanya jawab.
“Pelatihan ini kami laksanakan secara mandiri dan gratis agar nilai-nilai saling menghormati bisa tersampaikan secara langsung kepada generasi muda. Harapannya, mereka dapat tumbuh dengan pemahaman yang kuat tentang pentingnya hidup rukun di tengah keberagaman,” tambah Riko.
Anggota tim pengabdian lainnya terdiri dari Triyanto, Bilal Hermawansyah, M. Reyhan, Muhammad Suhartono, Syauki Sawabi, Ardhimas, dan Tsaqib Adzhini. Mereka terlibat aktif dalam menyampaikan materi dan berdiskusi langsung dengan peserta.
Salah satu peserta pelatihan, Bambang, menyatakan bahwa kegiatan seperti ini penting dilakukan secara langsung di lingkungan seperti TPA. Menurutnya, pertemuan tatap muka membuat pesan damai lebih terasa dan menyentuh.
Dalam sesi diskusi, para peserta juga mengungkapkan keresahan mereka terhadap tantangan zaman yang menuntut keterbukaan terhadap perbedaan. Salah satu peserta menyampaikan, “Kadang kita bingung juga, gimana menyikapi perbedaan pendapat tanpa menimbulkan masalah, apalagi kalau harus menjelaskan ini ke anak-anak,” ujarnya.
Kegiatan ditutup dengan sesi kuis interaktif, di mana anak-anak menjawab pertanyaan seputar perbedaan agama, tempat ibadah, serta bagaimana bersikap kepada teman yang berbeda latar belakang. Tujuannya adalah agar mereka familiar dan terbiasa hidup dalam keberagaman.
Melalui pengabdian masyarakat ini, mahasiswa UBSI berharap dapat memberikan kontribusi positif bagi perkembangan adab dan karakter generasi muda. “Kami ingin mereka paham bahwa meskipun berbeda suku, budaya, ras, atau agama, kita tetap satu, sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika,” tutup Riko. (Alisa)