Menjadi Perawat Tak Cukup dengan Ilmu, Arumba Ajarkan Sisanya

0 125

BSINews-Dalam dunia keperawatan modern yang semakin kompleks, tuntutan terhadap lulusan bukan hanya sekadar kecakapan teknis dan kecerdasan akademik. Lebih dari itu, mereka dituntut untuk memiliki empati tinggi, ketahanan emosional, dan kepekaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Seorang perawat sejati bukan hanya pelaksana tindakan medis, melainkan juga pendengar yang sabar, penyemangat di tengah krisis, serta penghubung antara harapan dan penyembuhan. Oleh karena itu, pengembangan karakter yang seimbang antara logika dan rasa menjadi kebutuhan mendesak dalam pendidikan keperawatan.

Baca juga: Perawat: Profesi Mulia yang Tak Tergantikan oleh Teknologi

Menjawab tantangan tersebut, salah satu institusi pendidikan keperawatan telah menginisiasi langkah unik dan inspiratif: pelatihan seni musik Ansambel Rumahan Bandung (Arumba) sebagai bagian dari pengembangan karakter mahasiswa. Program ini bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, melainkan pendekatan holistik yang dirancang untuk menstimulasi sisi emosional dan sosial mahasiswa keperawatan. Di Program Studi D-III Keperawatan, pelatihan seni Arumba telah dilaksanakan sejak tahun 2000, menjadi tradisi yang memperkaya perjalanan akademik dan spiritual para calon perawat.

Arumba: Musik Bambu yang Mendidik Jiwa

Arumba adalah bentuk seni musik tradisional yang memadukan alat musik bambu seperti angklung dan calung dengan instrumen modern. Suaranya lembut, harmonis, dan sarat makna. Lebih dari sekadar karya seni, Arumba adalah ruang latihan kehidupan: mahasiswa diajak mendengarkan, berkolaborasi, menyesuaikan irama, dan saling mengisi. Dalam setiap penampilannya, Arumba menyimpan pelajaran berharga tentang kerja sama, kesabaran, fokus, dan empati semua nilai yang sangat krusial dalam dunia keperawatan.

Keterlibatan aktif dalam latihan Arumba menumbuhkan kesadaran bahwa keberhasilan bukan ditentukan oleh kehebatan individu, tetapi oleh keharmonisan dalam kebersamaan. Ini menjadi pelatihan tidak langsung bagi mahasiswa untuk menghadapi situasi kerja di lapangan, di mana perawat dituntut bekerja dalam tim, bersikap adaptif, dan menyatu dengan dinamika emosi pasien dan keluarga.

Menstimulasi Otak Kanan, Menyeimbangkan Otak Kiri

Kurikulum keperawatan saat ini masih sangat berfokus pada pengembangan otak kiri teori, analisis, praktik klinis, dan pemecahan masalah. Namun, dominasi otak kiri tanpa imbangan bisa menjadikan mahasiswa terlalu kaku, sulit berempati, atau kurang tanggap terhadap situasi emosional pasien. Di sinilah seni mengambil peran penting. Melalui Arumba, mahasiswa diajak:

  • Berpikir kreatif dan imajinatif
  • Mengelola emosi dengan sehat
  • Membangun intuisi dan empati
  • Mengapresiasi nilai seni dan keindahan
  • Merespons situasi secara fleksibel dan penuh perasaan

Dengan kata lain, seni Arumba bukan hanya memperkaya jiwa, tetapi juga mematangkan cara berpikir dan bersikap. Saat tampil dalam pertunjukan Arumba, mahasiswa belajar mengendalikan rasa gugup, membangun kepercayaan diri, dan menikmati proses belajar yang menyenangkan. Semua pengalaman ini menjadi bekal nyata dalam dunia kerja, ketika mereka harus berhadapan langsung dengan pasien yang membutuhkan lebih dari sekadar penanganan medis mereka membutuhkan perhatian, ketenangan, dan kehangatan.

Kemanusiaan Tak Tergantikan oleh Teknologi

Kemajuan teknologi kesehatan tentu membawa banyak manfaat. Namun, satu hal yang tak tergantikan adalah sentuhan manusiawi. Teknologi tak akan pernah mampu menggantikan senyum tulus seorang perawat, genggaman tangan yang menenangkan, atau kalimat sederhana yang membangkitkan semangat hidup. Dalam konteks ini, pelatihan seni Arumba menjadi simbol perlawanan halus terhadap dehumanisasi profesi keperawatan.

Lewat pendekatan seperti ini, institusi pendidikan keperawatan menunjukkan visi yang jauh ke depan: membentuk perawat yang bukan hanya pintar, tapi juga bijak, tangguh, dan penuh empati. Perawat yang bekerja tidak hanya dengan kepala, tetapi juga dengan hati.

Sebuah Undangan untuk Masa Depan yang Lebih Manusiawi

Pelatihan seni Arumba telah membuktikan dirinya sebagai wahana yang ampuh dalam pembentukan karakter mahasiswa keperawatan. Ia bukan sekadar kegiatan seni, tetapi jalan menuju keseimbangan diri dan kesiapan emosional. Di kampus kami, kami percaya bahwa perawat masa depan harus mampu berpikir sistematis sekaligus merasakan dengan empatik. Dan seni Arumba adalah salah satu cara terbaik untuk mencapainya.

Baca Juga: Sentuhan Manusia yang Tak Tergantikan: Mengapa Perawat Tetap Dibutuhkan di Era Robotik

Bagi generasi muda yang bercita-cita menjadi perawat profesional yang tidak hanya kompeten, tetapi juga peduli dan berjiwa sosial, Program Studi Sarjana Keperawatan Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif membuka pintu lebar untuk kalian. Mari bergabung bersama di Fakultas Ilmu Kesehatan UBSI Kampus Salemba, Jalan Salemba Tengah No. 45, Jakarta Pusat.

 

Oleh: Silvana Evi Linda Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Akper Bina Insan (Saat ini sedang dalam penyatuan dengan Universitas Bina Sarana Informatika Menjadi Fakultas Ilmu Kesehatan UBSI)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.