Seminar Kemerdekaan Digital: Merdeka Digital Bukan Sekadar Kuota Unlimited
BSINews, Karawang – Bayangkan suasana aula kampus ac 16 derajat, suara kursi digeser-geser, dan di depan, ada banner besar bertuliskan Seminar Kemerdekaan Digital. Kedengarannya gagah, ya. Tapi jujur aja, sebagian peserta yang datang mungkin awalnya cuma mikir, “Wah, lumayan dapet sertifikat buat nambah CV.”
Namun begitu materi dibuka, ternyata suasananya jadi lebih serius ketimbang debat siapa yang bayar nongkrong kemarin. Rabu, 3 September 2025 lalu, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Karawang bikin seminar ini bukan buat gaya-gayaan, tapi beneran sebagai refleksi: sudah merdeka belum kita di dunia digital?
Baca juga: UBSI Kampus Cengkareng Gelar Seminar Kemerdekaan Digital, Kupas Peran AI untuk Karya Ilmiah
Hasan Basri, Kepala Kampus UBSI kampus Karawang, langsung menohok peserta lewat sambutannya, “Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa perlu membekali diri dengan literasi digital yang kuat. Tanpa itu, kemerdekaan di ruang digital bisa jadi bumerang, mulai dari penyalahgunaan data sampai terjebak informasi palsu.”
Nah, ini penting. Soalnya, di luar sana, ada 220 juta orang Indonesia yang tiap hari main internet rata-rata tujuh jam. Kalau ada yang bilang “gue bisa hidup tanpa internet”, itu biasanya dua kemungkinan yaitu entah lagi sok bijak, atau kuotanya habis.
Seminar ini bukan sekadar ceramah satu arah. Peserta, puluhan siswa dan guru se-Kabupaten Karawang bisa langsung nanya dan diskusi. Tema yang muncul juga relate banget sama kehidupan sehari-hari: keamanan data pribadi, peluang kerja digital, sampai hoaks Pemilu yang sempat jadi tontonan gratis di medsos.
Moch. Syamsul Azis, dosen UBSI sekaligus penggiat AI, mengingatkan hal yang sering banget kita abaikan, “Jangan sampai kita merasa merdeka di dunia digital, tapi sebenarnya sedang diawasi atau dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Literasi digital dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti bikin password kuat dan jangan asal bagi informasi pribadi.”
Masalahnya, banyak orang masih nganggep bebas di internet itu sama dengan bebas ngapain aja. Satu siswa dengan polosnya bilang, “Banyak anak muda yang salah paham. Mereka kira bebas berarti boleh posting apa saja di medsos. Padahal ada batas hukum dan etika.”
Kalimat sederhana, tapi nyentil. Bener juga, kadang orang lebih takut ditegur admin grup WhatsApp daripada kena UU ITE. Data Kominfo tahun lalu juga bikin kita nggak bisa ketawa doang, 11 ribu lebih kasus konten negatif tercatat. Dari hoaks, ujaran kebencian, sampai penipuan online. Jadi kalau masih ada yang bilang literasi digital itu cuma teori, jelas salah besar.
Acara ini ditutup dengan refleksi yang nggak kalah serius dari Syamsul Azis, “Seminar ini bagian dari upaya UBSI membangun karakter mahasiswa yang kritis, kreatif, dan bijak. Kita ingin mereka jadi produsen konten positif, bukan sekadar konsumen yang gampang terseret arus.”
Dan benar saja, lima jam acara itu ternyata bukan sekadar duduk bengong di aula. Ada yang pulang dengan catatan baru soal keamanan akun, ada yang mulai mikir buat jadi kreator konten beneran, bukan cuma bikin story “lagi bosen.”
Seminar yang diusung UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif ini jadi semacam wake-up call kecil, di era digital, merdeka itu bukan berarti bisa posting apa aja, tapi bisa bertanggung jawab atas setiap jejak digital yang ditinggalkan. Karena kalau nggak hati-hati, “kemerdekaan” kita cuma sebatas bebas bikin akun baru tiap kali kena blokir.(ACH)