Mahasiswa, Hustle Culture, dan Ancaman Burnout
BSINews, Bekasi – Pernah nggak sih ketemu mahasiswa yang hidupnya kayak template Google Calendar, dari jam 7 pagi sampai tengah malam penuh sama jadwal kuliah, rapat organisasi, side job, bikin konten, bahkan ikut lomba sana-sini? Sekilas keliatan keren. Multitalenta. Ambisius. Tapi kalau ditelusuri lebih dalam, jangan-jangan mereka cuma mesin hidup yang lupa tombol off.
Fenomena ini punya nama keren yaitu hustle culture. Budaya ngoyo kerja keras tanpa henti, yang katanya demi masa depan. Tapi ya gitu, seringkali masa depannya masih kabur, sedangkan badan dan mental udah babak belur. Nah, di balik label “produktif” itu, ada ancaman serius, yakni burnout.
Baca juga: Mahasiswa Baru UBSI Kampus Sukabumi Gelar Bakti Sosial, Tebar Ratusan Paket Sembako
Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Bekasi ternyata cukup peka soal ini. Alih-alih cuma ngejar mahasiswa biar IPK kinclong, mereka ngajak semua civitas akademika buat lebih peduli sama kesehatan mental. Karena percuma IPK 4.0 kalau tiap malam nangis di bantal sambil mikirin hidup yang makin absurd.
Burnout itu bukan sekadar capek biasa. Ini level advance, mulai dari fisik, mental, emosional, semuanya rontok. Rasanya kosong, sinis, dan kehilangan motivasi. Kata kampus, gejalanya bisa macam-macam, seperti gampang marah, nilai jeblok, pola tidur berantakan, sampai mendadak jadi “anti sosial” padahal dulu paling heboh di tongkrongan.
“Mahasiswa seringkali terjebak dalam lingkaran hustle culture tanpa sadar kalau burnout udah ngintip dari balik pintu. Di UBSI kampus Bekasi, kami nggak mau mahasiswa cuma jadi budak deadline. Kami tekankan pentingnya kesehatan mental sebagai fondasi produktivitas dan kebahagiaan,” ujar Ahmad Fauzi, Kepala Kampus UBSI kampus Bekasi.
Lalu, apa obatnya? Nggak ada sih yang instan, ini bukan iklan mie goreng. Tapi UBSI kasih beberapa resep waras, antara lain tidur cukup (7–8 jam, jangan sok kuat), bikin batasan antara kerjaan dan me time, makan bener, olahraga, meditasi, sampai cari bantuan profesional kalau udah terlalu berat. Dan yang paling underrated yaitu ngobrol sama orang terdekat. Kadang curhat 15 menit bisa lebih menyelamatkan daripada rebahan tiga hari.
Pesan kampus jelas, bahwa produktivitas itu penting, tapi waras jauh lebih penting. “Kesehatan adalah investasi terbaik untuk masa depan. Jangan tunggu tumbang dulu baru sadar,” tutup Ahmad Fauzi.
Baca juga: ORMIK UBSI Kampus Cengkareng 2025: Jembatan Adaptasi Mahasiswa Baru
Jadi, kalau kamu merasa hidup udah kayak hamster muter-muter di roda tanpa ujung, mungkin saatnya berhenti sebentar. Ingat, kuliah itu proses, bukan lomba lari maraton tanpa finish line. Pada akhirnya, kita semua butuh ruang untuk bernapas. Karena jadi mahasiswa bukan berarti harus jadi mesin. Kadang, yang paling revolusioner bukan kerja lembur sampai pagi, tapi berani bilang, “Aku butuh istirahat”.(ACH)