Riset Profesor Polandia Tawarkan Terobosan Deteksi Dini Alzheimer dengan Machine Learning di ICAISD UBSI 2025

0 8

BSINews, Jakarta Deteksi dini penyakit Alzheimer kini semakin mungkin dicapai berkat pendekatan komputasi baru yang dikembangkan oleh Prof. Gerhard W. Weber, peneliti dari Poznan University of Technology, Polandia. Dalam sesi plenary ICAISD 2025, Prof. Weber mempresentasikan metode klasifikasi MRI otak yang dapat mempercepat diagnosis awal Alzheimer secara lebih akurat yang diselenggarakan oleh Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), pada Selasa (4/11).

Riset Profesor Polandia Tawarkan Terobosan Deteksi Dini Alzheimer

Dalam sesi plenary, Prof. Gerhard W. Weber dari Poznan University of Technology, Polandia, memaparkan risetnya mengenai metode klasifikasi citra MRI otak menggunakan pendekatan Machine Learning yang dirancang untuk mempercepat dan meningkatkan akurasi diagnosis Alzheimer pada tahap awal.

Dalam materi berjudul “Methods for Early Detection of Alzheimer’s Disease by Classification of Structural Brain MRI: Voxel-MARS and CMARS”, Weber menjelaskan bahwa Alzheimer merupakan penyakit yang sulit diidentifikasi sejak dini karena tidak ada satu prosedur tes yang mampu memberikan hasil definitif. Selama ini proses diagnosis sangat bergantung pada analisis manual yang membutuhkan waktu dan bersifat subjektif.

“Kami ingin mengembangkan sistem Computer-Aided Diagnosis yang dapat mendeteksi perubahan struktur otak secara objektif dengan sensitivitas tinggi,” ungkapnya, dari keterangan rilis yang diterima pada Jumat (14/10).

Riset tersebut memanfaatkan ribuan citra MRI dari basis data ADNI dan menganalisisnya menggunakan pendekatan voxel-level. Weber dan timnya mengaplikasikan metode MARS (Multivariate Adaptive Regression Splines) dan CMARS, teknik statistik adaptif yang efektif menangkap pola non-linear serta hubungan kompleks antarjaringan otak.

Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam akurasi dan sensitivitas dibandingkan metode tradisional, terutama dalam membedakan kondisi normal (CN), Alzheimer (AD), dan Mild Cognitive Impairment (MCI).

“Voxel-MARS menghasilkan sensitivitas lebih dari 83 persen, lebih tinggi dibanding berbagai metode lain yang umum digunakan,” tambahnya.

Lebih jauh, ia menyampaikan bahwa pendekatan ini membuka peluang besar dalam pengembangan sistem diagnosis otomatis yang dapat dimanfaatkan di lingkungan klinis untuk mendukung tenaga medis dalam pengambilan keputusan secara lebih cepat dan tepat.

Baca juga : Riset Semakin Dikenal, UBSI Tembus 50 Besar Nasional Versi SINTA

Ia juga menekankan bahwa penelitian ini masih dapat dikembangkan, termasuk untuk menganalisis penyakit neurodegeneratif lain melalui pendekatan multimodal maupun integrasi dengan teknologi deep learning.

Dengan adanya paparan ini, ICAISD UBSI 2025 kembali membuktikan perannya sebagai platform akademik internasional yang mempertemukan inovasi, riset ilmiah, dan masa depan teknologi kesehatan selaras dengan visi UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif yang berkomitmen mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. (Alisa)

Leave A Reply

Your email address will not be published.