Pakar UI Soroti Tata Kelola AI, Ingatkan Kampus Siapkan Regulasi Penggunaan Generative AI pada ICAISD UBSI
BSINews, Jakarta — Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan generatif (generative AI) menghadirkan peluang besar sekaligus risiko baru bagi dunia pendidikan tinggi. Isu ini disampaikan oleh Prof. Dr. Achmad Nizar Hidayanto, Guru Besar Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI), saat menjadi keynote speaker dalam The 5th International Conference on Advanced Information Scientific Development (ICAISD) 2025 yang diselenggarakan oleh Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), pada Selasa (4/10).
Ingatkan Kampus Siapkan Regulasi Penggunaan Generative AI pada ICAISD UBSI
Dalam pemaparannya yang berjudul “Generative AI Governance in Higher Education”, Prof. Dr. Achmad Nizar Hidayanto, menjelaskan bahwa institusi pendidikan kini berada pada titik kritis dalam memanfaatkan teknologi AI. Ia menyoroti bahwa adopsi platform seperti ChatGPT, Microsoft Copilot, dan Gemini berlangsung sangat cepat, namun tidak diikuti kesiapan regulasi serta standar etika yang memadai.
“Pertanyaan kita bukan lagi ‘boleh atau tidak menggunakan AI’, tetapi ‘bagaimana menggunakannya secara bertanggung jawab, etis, dan transparan’,” ujarnya, dari keterangan rilis yang diterima pada Jumat (14/10).
Ia menyampaikan sejumlah potensi risiko yang perlu diantisipasi kampus, mulai dari isu integritas akademik, perlindungan data mahasiswa, hingga ketergantungan berlebihan yang dapat melemahkan kemampuan berpikir kritis. Di balik risiko tersebut, AI tetap menawarkan manfaat besar seperti peningkatan produktivitas, percepatan riset, dan personalisasi pembelajaran.
Prof. Dr. Achmad Nizar Hidayanto menekankan pentingnya membangun kerangka tata kelola AI (AI governance) yang jelas dan terstruktur. Kerangka tersebut meliputi kebijakan penggunaan AI, mekanisme akuntabilitas, transparansi dalam pemanfaatan AI untuk proses asesmen, serta edukasi literasi digital bagi dosen dan mahasiswa.
“AI tidak salah. Yang perlu kita tata adalah cara kita memanfaatkannya. Tanpa governance, AI bisa menjadi ancaman bagi integritas akademik,” jelasnya.
Baca juga : UBSI Gelar Konferensi Internasional ICAISD 2025, Bahas AI untuk Kesejahteraan Global
Ia juga mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk segera menyusun pedoman penggunaan AI, membentuk komite etika, serta memperkuat tata kelola data dan infrastruktur teknologi informasi sebagai fondasi utama dalam pengembangan AI governance.
Melalui ICAISD 2025, UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan diskusi ilmiah yang relevan dengan perkembangan teknologi terkini dan kebutuhan dunia pendidikan tinggi. (Alisa)