Rektor Kampus dan Deg-degan yang Tidak Pernah Diceritakannya di Depan Wisudawan
BSINews, Bekasi – Bekasi, Pontianak, sampai Semarang. Nama Kota itu minggu ini terdengar seperti rangkaian bab dalam novel perjalanan. Enam hari wisuda. Enam hari yang rasanya seperti maraton haru. Tanggal bergeser cepat 12 November di Pontianak, 20 November di Semarang, sampai 30 November–5 Desember di Bekasi. Di balik toga yang berayun pelan dan senyum yang pecah di berbagai sudut ballroom, ada satu orang yang diam-diam juga menahan napas, yaitu rektor Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI).
Di antara LED canggih dan Lighting yang menyala dan deretan wisudawan yang duduk rapi seperti paragraf-paragraf yang siap dibaca, Prof Dr Ir Mochamad Wahyudi selaku Rektor UBSI berdiri di podium dengan satu kalimat pembuka yang menusuk halus.
Baca juga: Wisuda Panjang Kayak Dracin dan Rektor yang Datang Membawa Kabar Baik
“Hari ini bukan sekadar prosesi. Ini adalah jejak perjalanan yang kalian ukir sendiri.” Kalimat sederhana, tapi cukup membuat beberapa wisudawan menelan ludah lebih pelan, entah karena haru atau karena baru tersadar bahwa perjalanan mereka selama ini ternyata tidak main-main.
Tahun ini UBSI melepas 7.850 wisudawan. Angka sebesar itu bukan hanya statistik, tapi semacam peta raksasa yang menunjukkan betapa luasnya perjalanan akademik yang sudah ditempuh. PSDKU datang berbondong-bondong dari Bogor, Karawang, Sukabumi, hingga Tasikmalaya. Mereka datang dari kota yang berbeda, tapi pulang dalam payung yang sama yakni keluarga UBSI.
Di tengah suasana yang semakin hangat, Rektor menyelipkan kabar membanggakan yang selama ini dikerjakan diam-diam oleh banyak orang di balik layar. UBSI meraih akreditasi Unggul dari BAN PT. Empat belas program studi menyandang predikat Unggul. Banyak lainnya berada di tingkat Baik Sekali.
UBSI menempati peringkat 49 dalam SINTA, angka yang mungkin terlihat kecil di kertas, tapi besar, jika kamu tahu ketatnya kompetisi ribuan perguruan tinggi di Indonesia. UBSI juga masuk jajaran kampus top versi uniRank. Bahkan bidang humas, riset, sampai PDDikti pun menyumbang banyak penghargaan.
Semua itu bukan sekadar piala yang dipajang. Itu kompas. Dan Rektor tahu persis apa artinya kompas bagi para lulusan. “Mahasiswa tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri setelah wisuda. Tugas kami memastikan mereka punya arah.” Kalimat ini keluar pelan, tapi berat. Karena memang benar, dunia kerja tidak menyediakan peta gratis.
Lalu datanglah kabar besar yang ditunggu banyak orang, yaitu dua program Magister baru UBSI resmi menerima mahasiswa mulai Maret 2026, antara lain Magister Teknologi Informasi (S2) dan Magister Manajemen (S2). Bagi alumni, ada beasiswa lima puluh persen. Bahkan ada jalur beasiswa ikatan dinas bagi yang ingin naik level pendidikan tanpa harus menabung bertahun-tahun dulu.
Sebelum menutup sambutan, Rektor mengangkat hal yang sejak dulu ia simpan sebagai pegangan “Jagalah nama baik almamater. Tidak perlu muluk-muluk. Cukup lakukan yang terbaik di tempat kalian berpijak.” Tidak panjang. Tidak bertele-tele. Tapi justru yang pendek seperti itulah yang sering menetap paling lama dalam ingatan.
Yang menarik dari semua itu bukan hanya kalimat-kalimat resmi yang terucap, tapi pengakuan jujur di akhir pidatonya “Andai kalian tahu, saya juga deg-degan melihat kalian lulus.” Deg-degan bukan karena takut. Melainkan karena melihat generasi baru siap dilepas ke dunia yang sering tidak masuk akal, tapi selalu memberi ruang untuk mereka yang mau bekerja keras.
Baca juga: Wisuda ke-17 UBSI Kampus Pontianak, Rektor UBSI Paparkan Deretan Prestasi dan Inovasi Kampus
Siang itu, di podium yang sama, tampak jelas bahwa rasa deg-degan itu bukan tanda ragu. Ia adalah bentuk sayang. Bentuk bangga. Dan bentuk kepercayaan bahwa para wisudawan, dengan segala perjalanan, gundah, dan mimpi yang mereka bawa, siap melangkah lebih jauh dari apa pun yang pernah mereka kira.
Dan kamu tahu apa yang paling indah? Deg-degan itu kini berpindah pelan ke tangan mereka, generasi baru yang sedang belajar berdiri, tetapi sudah berani melihat horizon.(ACH)