Cerita Wisudawan yang Mengalir, Menemukan Diri, dan Akhirnya Menang Tanpa Niat Menang

0 59

BSINews, Bekasi – Di antara lautan toga yang sibuk disetrika buru-buru, orang tua yang nge-zoom terlalu dekat, dan euforia wisuda yang kadang lebih riuh daripada konser band pensi, ada satu kisah yang tumbuh pelan tetapi dalam.

Kisah itu milik Muhammad Rafael Setyadin, anak Bogor yang hidupnya sekarang dihabiskan nyaris sepenuhnya di depan laptop. Bukan karena candu game. Tapi karena ritmenya memang begitu.

Baca juga: Sandro Arnesto dan Perjalanan Sunyi Seorang Karyawan yang Tidak Menyerah Pada Lelah

Pagi sampai sore jadi Fullstack Developer di sebuah yayasan pendidikan. Malam kuliah S1 semester 7 lewat program Diploma Sarjana UBSI. Dua dunia yang berjalan bersamaan, tapi anehnya, ia tetap bisa bernapas.

Rafael masuk UBSI dengan kesan yang langsung nendang. Tidak ada basa-basi teori. Tidak ada pembukaan berbunga-bunga. Kuliah di sini langsung praktik. Langsung ngoprek. Langsung pegang proyek. Untuk seseorang yang belajar paling cepat lewat melakukan, lingkungan ini terasa seperti puzzle yang akhirnya menemukan potongan yang cocok.

Jurusan IT sebenarnya tidak ada dalam daftar mimpinya dulu. Ia memilihnya karena keadaan, bukan cita-cita. Tapi hidup memang lucu. Hal-hal yang awalnya terlihat seperti keputusan terpaksa justru sering berubah jadi pintu yang membuka banyak hal. Rafael mengaku sempat “salah jurusan.” Namun beberapa semester berjalan, justru kesalahan itu menjadi hal paling ia syukuri.

Salah satu mata kuliah yang benar benar menancap di kepalanya adalah PSBO. Pemodelan Sistem Berbasis Objek. Tempat ia pertama kali melihat bahwa coding bukan cuma ngetik sintaks seperti mantra. Coding adalah cara memetakan masalah lewat diagram. Cara menggambar logika sebelum menjadi program. Di situ pola pikirnya berubah. Ia mulai melihat dunia lewat struktur.

Kegiatan selama kuliah tidak heboh. Rafael bukan tipe aktivis yang hilir mudik ruang sekret. Ia lebih banyak ngegas di luar kampus. Ia ikut MBKM. Ia ikut Digitalent Kominfo. Ia bahkan pernah berdiri sebagai pemateri workshop di kampus. Itu momen yang ia simpan baik-baik. Mengajar orang lain memahami hal teknis ternyata menimbulkan sensasi yang anehnya mirip kemenangan kecil dalam hidup.

Saat diumumkan sebagai peraih Wisudawan Terbaik UBSI, ia kaget. Ia menjalani kuliah dengan prinsip “ngalir aja tapi tanggung jawab.” Bukan tipe yang memaksa diri harus ranking satu. Maka ketika namanya muncul sebagai pemegang predikat cum laude, rasa syukur itu datang tiba-tiba, seperti notifikasi yang tidak diharapkan tapi bikin senyum.

Tips belajarnya pun sederhana tapi jitu. Ia suka curi start belajar materi semester depan. Ia sering mengajar teman yang kesulitan. Karena menurutnya, cara paling efektif memahami materi adalah menjelaskan ulang dalam bahasa paling manusiawi. Apa yang ia ajarkan justru membuat pemahamannya sendiri semakin tertanam. Ditambah internet yang penuh sumber belajar gratis, ia tinggal memilih mana yang paling cocok.

Rencana ke depan? Dua jalur sekaligus. Kerja dan kuliah. Keduanya berjalan seiring dan sedang ia jalani sekarang. Ia mengakui tantangannya lumayan, deadline kerja dan tugas kuliah itu kadang balapan. Tapi selama ia masih menikmati prosesnya, semuanya tetap terasa layak diperjuangkan.

Jika nanti lanjut jenjang yang lebih tinggi, Rafael ingin tetap linier di IT. Fokusnya ke Sistem Informasi. Ia melihat dunia teknologi bergerak cepat sekali terutama di cloud dan backend. Ia tidak ingin jadi “ngeraba permukaan.” Ia ingin benar benar matang. Tahu dasarnya. Tahu rumusnya. Tahu detail yang membuat seseorang beda dari lulusan IT yang lain.

Tentang sistem pengajaran di UBSI, Rafael bilang satu hal yang paling penting, yaitu aplikatif. Banyak praktik. Bukan sekadar hafalan. Dan itu membuatnya tidak kaget ketika terjun ke dunia industri. Apa yang ia kerjakan di kantor hampir mirip dengan apa yang dipelajari dulu di kelas. Ini hal sederhana tapi besar pengaruhnya.

Harapannya untuk lulusan UBSI pun realistis dan tajam. “Saya ingin setiap lulusan keluar dari kampus bukan hanya membawa ijazah, tetapi portofolio yang membuktikan kemampuan mereka. Dunia IT sedang oversupply. Persaingan ketat. Yang punya skill dan portofolio yang bicara lantang, itulah yang menang.”

Baca juga: Wisudawan Terbaik yang Menjejak Karawang hingga Singapura

Untuk adik tingkat, pesannya jelas dan keren. Dunia IT bukan tempat untuk menunggu disuapin. Perbanyak mikir. Perbanyak ngulik. Cari tahu sendiri passion kalian. Backend, frontend, data, cloud. Cicipi. Dalami. Ulik. Bangun portofolio sejak kuliah. Karena nanti, portofolio adalah kartu nama paling mahal.

Kisah Rafael mengingatkan sesuatu yang jarang disadari. Kadang jalan terbaik dalam hidup bukan jalan yang direncanakan. Tapi jalan yang terpaksa dijalani, lalu jatuh cinta pelan-pelan di dalamnya. Wisuda hari ini adalah bukti bahwa “mengalir” bukan berarti pasrah. Mengalir bisa jadi cara paling tenang untuk menang.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.