Hari Ketika Kepala LLDikti Menyuruh Wisudawan Jangan Cuma Bangga Punya Ijazah
BSINews, Bekasi – Wisuda ke-62 Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) pada Senin 1 Desember 2025 itu berjalan seperti biasanya, toga yang licin, senyum yang dipaksa manis untuk kamera, dan kursi yang selalu nyaman. Sampai mikrofon berpindah ke tangan Dr. Henri Tambunan, Kepala LLDikti Wilayah III Jakarta. Begitu ia mulai bicara, suasana langsung berubah. Nada kalem, kata-kata jernih, tapi isinya nancep.
“Wisuda bukan garis akhir. Ini garis mulai kalian, titik awal dari perjalanan yang lebih menantang,” ucapnya. Kalimat itu mendarat pelan, tapi cukup bikin beberapa wisudawan otomatis duduk lebih tegak, semacam refleks ketika kenyataan menepuk pundak.
Baca juga: Rektor Kampus dan Deg-degan yang Tidak Pernah Diceritakannya di Depan Wisudawan
Dr. Henri memotret dunia kampus dengan cara yang sederhana tapi ngena. “Perguruan tinggi itu inkubator teknologi. Tempat kalian ditempa, bukan dimanjakan. Tempat kalian belajar membaca arah angin digital dan menyiapkan diri menghadapi disrupsi yang datangnya cepat.” Ruangan hening. Bukan tegang, tapi terserap.
Tak berhenti di situ, ia menambahkan, “Gelar hanyalah bukti bahwa kalian pernah belajar. Bukan bukti bahwa kalian sudah selesai. Dunia digital bergerak terlalu cepat untuk kalian berhenti berkembang.” Kalimat itu seperti notifikasi yang tidak bisa di-swipe, mengingatkan tanpa henti bahwa masa depan tidak sedang bercanda.
Ada satu momen yang membuat ruangan sejenak lebih sunyi. Dr. Henri meminta para wisudawan menoleh ke orang tua masing-masing. “Kalian berdiri di sini bukan sendirian. Ada doa orang tua yang tidak pernah putus. Jangan pernah lupakan itu.” Beberapa wisudawan langsung sibuk mengusap mata pura-pura memperbaiki kaca mata.
Saat menyinggung arah kebijakan pendidikan tinggi, suaranya tetap tenang tapi pesannya menggigit. “Diktisaintek Berdampak itu bukan slogan. Ini ajakan supaya ilmu kalian betul-betul menghasilkan manfaat. UMKM menunggu sistem yang kalian kembangkan. Keamanan digital menunggu penjaga baru. Bangsa butuh technopreneur yang siap mengambil peran.”
Ia memuji UBSI dengan cara yang tidak berlebihan. “Kampus ini sudah menanam tiga nilai penting yaitu kreativitas digital, integritas, dan jiwa kewirausahaan. Modal itu tidak akan basi kalau kalian rawat.”
Lalu, sebelum menutup sambutannya, Dr. Henri mengangkat satu kutipan yang langsung mengikat seluruh pidatonya. “Masa depan adalah milik mereka yang percaya akan indahnya mimpi-mimpi mereka.” Kalimat Eleanor Roosevelt itu keluar seperti penutup panggung yang elegan, ringan, tapi membuat semua orang merasa punya tanggung jawab baru.
Baca juga: Wisuda Panjang Kayak Dracin dan Rektor yang Datang Membawa Kabar Baik
Sambutan hari itu bukan sekadar formalitas wisuda. Kata-kata Dr. Henri terasa seperti reminder besar yang ditempel di dahi bahwa jangan puas hanya karena sudah lulus. Jangan bangga hanya karena punya ijazah. Dunia nyata tidak menunggu, dan masa depan tidak ramah pada mereka yang berhenti belajar.
Wisuda yang tadinya hanya acara simbolis tiba-tiba berubah menjadi peringatan halus. Para wisudawan datang membawa toga, tapi pulang membawa satu kesadaran, hidup baru saja menekan tombol start, dan mereka tidak punya pilihan selain melangkah.(ACH)