Lima Menit Menuju Gagal Sidang, Kisah Air Mata yang Berujung Gelar Sarjana

0 56

BSINews, Bekasi-Prosesi Wisuda ke-62 Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kembali menjadi momentum penuh haru dan inspirasi. Selama enam hari pelaksanaan, mulai 30 November hingga 5 Desember 2025, BSI Convention Center Kaliabang, Bekasi, tampil megah dengan tata panggung modern, sistem digital interaktif, dan produksi multimedia mutakhir semakin menegaskan identitas UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif yang konsisten menghadirkan pengalaman akademik berkelas.

Baca juga: Suasana Wisuda UBSI Semakin Berkesan, Aksi DISCO’NAN Beri Warna Baru dalam Prosesi Formal

Di antara ribuan wisudawan, terdapat satu kisah yang mencuri perhatian,  perjalanan penuh perjuangan dari Sisca Yunita, wisudawati Program Studi Akuntansi UBSI Kampus Cengkareng, yang tetap hadir menyambut kelulusannya meski tengah mengalami cedera serius akibat kecelakaan.

Hanya beberapa hari sebelum wisuda, Sisca mengalami musibah ketika hendak menjemput ibunya yang baru pulang dari rumah sakit. Saat memberi isyarat berbelok, sebuah motor pengantar paket menghantamnya dari samping. Benturan itu menyebabkan retakan pada tulang kaki, dugaan pergeseran tulang, serta cedera ligamen yang membuatnya tak mampu menapak sama sekali.

Namun kondisi tersebut tidak mematahkan tekadnya untuk hadir dalam momen bersejarah ini.

“Ya pasti senang, karena kerja keras selama empat tahun akhirnya terbayarkan. Meski menjelang wisuda saya kecelakaan, saya tetap ingin menyelesaikan apa yang sudah saya mulai,” ungkap Sisca dengan mata berkaca-kaca saat diwawancara, pada Kamis (04/12).

Kisah perjuangannya tidak berhenti di situ. Ibunda Sisca, Liong Lily, mengisahkan kembali momen paling menegangkan yang mereka alami saat putrinya hendak mengikuti sidang skripsi sebuah perjalanan yang penuh hujan deras, banjir, kemacetan ekstrem, dan ketakutan akan kegagalan di detik terakhir.

“Hari sidang itu hujan besar, banjir, macet parah. Saya sampai bilang, ‘sudah lah Sis, batal sidang saja’. Tapi dia tetap memaksa. Saya naik motor menembus banjir sambil menangis, karena dosen bilang lima menit lagi Siska tidak datang, sidangnya batal. Tapi akhirnya kami sampai. Setelah selesai, kami berpelukan sambil nangis semua perjuangan itu tidak sia-sia,” tuturnya, suara bergetar menahan haru.

Perjalanan Sisca bukan hanya tentang ketabahan seorang mahasiswa menghadapi ujian hidup, melainkan juga tentang kekuatan cinta dan dukungan keluarga. Cedera yang menyakitkan, medan yang tidak bersahabat, dan tekanan waktu tidak mampu menahan langkah seorang ibu dan anak yang berjuang bersama demi pendidikan.

Baca juga: Penampilan Perdana ORI Warnai Wisuda ke-62 UBSI dengan Nuansa Kreatif dan Inspiratif

“Saya tahu anak saya tidak pernah putus asa. Semoga ke depan ia menjadi anak yang berbakti, hidup baik, sukses, dan tetap membawa nilai-nilai yang kami tanamkan sejak kecil,” imbuhnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.