Siapa Pahlawan Pendidikan Sesungguhnya di Era Digital?

0 10

BSINews, Purwokerto —  Di era digital yang serba cepat, makna pahlawan kerap dipersempit pada sosok-sosok yang tercatat dalam buku sejarah atau tampil heroik di ruang publik. Padahal, hari ini pahlawan justru bisa hadir dalam wujud yang lebih senyap, namun berdampak besar, para pendidik. Guru dan dosen adalah unsung heroes yang setiap hari memastikan generasi muda tetap melek masa depan.

Perkembangan teknologi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari cara belajar, bekerja, hingga berinteraksi. Mahasiswa kini dapat mengakses ribuan sumber belajar hanya melalui gawai. Namun di balik kemudahan itu, muncul tantangan baru seperti hoaks, misinformasi, perilaku digital yang tidak sehat, serta kesenjangan literasi teknologi.

Di titik inilah peran pendidik menjadi semakin relevan. Mereka tidak lagi hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga membimbing mahasiswa agar mampu berpikir kritis, beretika di ruang digital, dan tidak kehilangan arah di tengah arus informasi yang begitu deras.

Pendidik sebagai Penjaga Arah di Tengah Disrupsi Digital

Sebagai dosen di bidang Teknologi Informasi, saya melihat langsung bahwa kepahlawanan pendidik di era digital menuntut kesediaan untuk terus belajar. Perkembangan teknologi tidak pernah menunggu. Hari ini berbicara tentang kecerdasan buatan, esok sudah muncul inovasi baru yang lebih kompleks. Ketika pendidik berhenti beradaptasi, mahasiswa menjadi pihak yang paling terdampak.

Pahlawan pendidikan adalah mereka yang tetap bersemangat mengajar meski harus beradaptasi dengan teknologi baru, mengubah ruang kelas menjadi ruang kolaboratif, serta mendorong mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga berani mencipta dan bereksperimen.

Pendidikan hari ini tidak lagi berorientasi pada hafalan. Dunia kerja membutuhkan problem solver, critical thinker, dan digital creator. Karena itu, peran pendidik bergeser dari sekadar sumber ilmu menjadi pendamping perjalanan akademik dan profesional mahasiswa.

Kepahlawanan yang Diukur dari Dampak, Bukan Sorotan

Di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Purwokerto, saya kerap menemui mahasiswa yang awalnya ragu terhadap kemampuan diri mereka di bidang teknologi. Namun melalui pendampingan yang konsisten, latihan berkelanjutan, dan ruang untuk mencoba tanpa takut salah, kepercayaan diri itu perlahan tumbuh.

Dari situ saya menyadari bahwa kepahlawanan pendidik tidak diukur dari tepuk tangan atau sorotan publik, melainkan dari keberhasilan mahasiswa melangkah lebih jauh dan percaya pada potensinya sendiri.

Pahlawan pendidikan di era digital mungkin tidak viral. Mereka tidak mengenakan jubah dan tidak menuntut pengakuan. Namun setiap hari, mereka menghadapi keterbatasan fasilitas, tantangan akses internet, kesenjangan literasi digital, hingga dinamika semangat belajar mahasiswa yang naik turun, semua demi satu tujuan yakni masa depan generasi bangsa.

Baca juga: Menuju Regenerasi Organisasi, HMTK UBSI Kampus Purwokerto Laksanakan Interview Calon Pengurus Baru

Maka, siapa pahlawan pendidikan sesungguhnya?

Mereka yang mampu mengubah kebiasaan scroll tanpa arah menjadi keterampilan yang bernilai. Mereka yang tidak hanya mengajak mahasiswa mengikuti zaman, tetapi juga berani menciptakan zaman.

Di era serba digital ini, pendidik adalah garda depan dalam melahirkan generasi yang cerdas, kreatif, dan berkarakter. Sudah sepantasnya kita memberi penghormatan kepada para pahlawan pendidikan hari ini, dan seterusnya.(Siti Hafizah)

Oleh: Vadlya Maarif, Dosen Teknologi Informasi, UBSI kampus Purwokerto

Leave A Reply

Your email address will not be published.