Anak Anda Kuliah Sastra? Jangan Khawatir Itu Bisa Jadi “Senjata Rahasia” di Dunia Teknologi
BSINews, Tasikmalaya — Di tengah laju inovasi teknologi yang kian pesat, sebuah paradoks justru semakin terasa. Banyak aplikasi dan platform digital hadir dengan teknologi yang sangat canggih, namun terasa kaku, dingin, dan gagal membangun kedekatan emosional dengan penggunanya. Secara teknis sempurna, tetapi miskin pengalaman.
Anak Anda Kuliah Sastra? Jangan Khawatir Itu Bisa Jadi “Senjata Rahasia” di Dunia Teknologi
Fenomena ini mendapat sorotan menarik dari Bambang Kelana Simpony, dosen UBSI kampus Tasikmalaya. Menurutnya, persoalan utama banyak produk teknologi hari ini bukan terletak pada kurangnya kemampuan teknis, melainkan absennya perspektif kemanusiaan di balik proses pengembangannya. Dan di sinilah peran lulusan Sastra yang kerap dipandang “jauh” dari dunia teknologi—justru menjadi sangat relevan.
“Kita terlalu lama terobsesi pada bagaimana membangun sesuatu, sampai lupa bertanya mengapa dan untuk siapa teknologi itu diciptakan. Akibatnya, kita mendapatkan produk yang hebat secara mesin, tetapi hampa secara pengalaman,” ujar Bambang.
Alih-alih berbicara dalam istilah akademis, Bambang menggambarkan kontribusi lulusan Sastra di dunia teknologi sebagai tiga “kekuatan super” yang langka dan sangat dibutuhkan industri digital saat ini.
Penerjemah Jiwa Pengguna
Seorang programmer bekerja dengan logika, algoritma, dan sistem. Sementara lulusan Sastra terbiasa memahami motivasi, emosi, dan konflik manusia. Kombinasi ini melahirkan peran strategis: penerjemah antara kebutuhan emosional pengguna dan bahasa teknis pengembang.
“Mereka mampu mengubah keluhan samar seperti ‘Saya bingung di bagian ini’ menjadi kebutuhan sistem yang konkret. Mereka adalah jembatan antara hati pengguna dan otak mesin,” jelas Bambang.
Baca Juga :Jurusan S1 Sastra Inggris – Info Kuliah BSI & Prospek Kerja 2025
Arsitek Narasi Pengalaman Digital
Pengalaman pengguna (user experience) yang baik, menurut Bambang, sejatinya menyerupai cerita yang kuat. Ada pembukaan yang menarik, alur yang jelas, konflik yang bisa diselesaikan, dan akhir yang memuaskan.
“Lulusan Sastra secara naluriah memahami alur ini. Mereka mampu merancang perjalanan pengguna dalam sebuah aplikasi agar terasa logis, manusiawi, dan tidak melelahkan—bukan sekadar kumpulan tombol yang membingungkan.” (Sfkrhm)