Jangan Sampai Amal Ramadhan Tercuri, Dosen UBSI Kampus Tasikmalaya Ajak Masyarakat Perkuat Literasi Digital
BSINews, Tasikmalaya — Meningkatnya aktivitas transaksi digital selama bulan suci Ramadhan, khususnya untuk berdonasi atau bersedekah, membawa dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, kemudahan teknologi mempermudah masyarakat berbagi kebaikan. Namun di sisi lain, peluang ini juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber melalui berbagai modus penipuan berkedok amal.
Fenomena ini menjadi perhatian Bambang Kelana Simpony, dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Tasikmalaya. Ia menilai bahwa niat baik masyarakat untuk beramal perlu diiringi dengan kewaspadaan di ruang digital.
Menurutnya, di era serbadigital seperti sekarang, menjaga keimanan tidak hanya dimaknai dalam praktik ibadah semata, tetapi juga dalam cara seseorang menjaga amanah, termasuk ketika bertransaksi secara daring.
“Di era digital, ‘iman’ tidak hanya diucapkan, tetapi juga harus dipraktikkan. Salah satu bentuknya adalah melindungi aset dan niat baik kita dari kejahatan siber. Literasi digital menjadi cara menjaga amanah, dan itu juga bagian dari keimanan,” ujar Bambang dalam rilis yang diterima di Tasikmalaya pada Kamis (5/3).
Waspada Modus Penipuan Berkedok Amal
Bambang menjelaskan bahwa modus penipuan yang memanfaatkan momentum Ramadhan kini semakin beragam dan canggih. Pelaku kejahatan memanfaatkan berbagai platform digital untuk menyasar calon korban.
Mulai dari pesan berantai di aplikasi WhatsApp yang mengatasnamakan lembaga amal terkenal, hingga pembuatan situs web palsu dan kode QRIS yang menyerupai milik lembaga resmi.
Menurutnya, dampak dari kejahatan ini tidak hanya sebatas kerugian finansial, tetapi juga menyangkut sisi spiritual.
“Korban memang kehilangan uang, tetapi yang lebih disayangkan adalah niat ibadahnya ternodai oleh tindakan kriminal. Ini menjadi kerugian spiritual yang tidak ternilai,” jelasnya.
Baca juga: Bootcamp “The Complete Content Creator” Siap Digelar di UBSI Kampus BSD
Karena itu, ia menekankan bahwa literasi digital kini sudah menjadi keterampilan dasar yang perlu dimiliki masyarakat.
“Sama seperti kita belajar cara berwudu dengan benar sebelum sholat, kita juga perlu memahami cara bertransaksi digital yang aman sebelum bersedekah. Ini menjadi bagian dari prosedur beribadah di era modern,” tambahnya.
Langkah Sederhana Melindungi Donasi Digital
Agar masyarakat tidak menjadi korban penipuan berkedok donasi, Bambang juga membagikan beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan sebelum melakukan transaksi digital.
Pertama, masyarakat perlu memverifikasi sumber informasi dengan mencari langsung nama lembaga amal melalui mesin pencari dan mengunjungi situs resminya, bukan melalui tautan yang dikirimkan melalui pesan.
Kedua, penting untuk mewaspadai tekanan psikologis yang sering digunakan pelaku penipuan, seperti pesan bernada mendesak yang menyebutkan batas waktu donasi yang sangat singkat.
Ketiga, masyarakat perlu memeriksa detail QRIS sebelum melakukan pemindaian. Nama merchant yang muncul harus sesuai dengan lembaga yang menjadi tujuan donasi.
Selain itu, Bambang juga menyarankan agar masyarakat menggunakan platform donasi resmi atau fitur donasi yang tersedia pada aplikasi pembayaran digital terpercaya.
Ia menilai bahwa langkah-langkah sederhana tersebut dapat membantu masyarakat tetap aman saat beramal di ruang digital.
Bambang juga menambahkan bahwa peningkatan literasi digital tidak bisa hanya dibebankan pada masyarakat, tetapi juga membutuhkan peran aktif lembaga pendidikan. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran keamanan digital yang baik.
Hal ini juga menjadi perhatian UBSI kampus Tasikmalaya yang terus mendorong penguatan literasi digital melalui berbagai kegiatan akademik maupun pengabdian kepada masyarakat. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat lebih bijak dan aman saat beraktivitas di ruang digital.
Pada akhirnya, menurut Bambang, menjaga keamanan transaksi digital bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga bagian dari upaya menjaga nilai ibadah itu sendiri. Dengan kewaspadaan dan literasi digital yang baik, masyarakat dapat tetap berbagi kebaikan di bulan Ramadhan tanpa harus khawatir menjadi korban kejahatan siber.(Siti Hafizah)