Waspadai ‘Penipuan Suara AI’ yang Tiru Keluarga, Dosen UBSI Bagikan Cara Lindungi Diri dari Modus Baru
BSINews, Tasikmalaya — Bayangkan Anda menerima telepon dari seseorang yang terdengar sangat familiar. Suaranya panik dan meminta bantuan mendesak.
“Ayah, aku ada masalah. Tolong kirimkan uang sekarang ke rekening ini.”
Dalam situasi seperti itu, banyak orang mungkin langsung bereaksi tanpa berpikir panjang karena yakin sedang berbicara dengan anak, pasangan, atau anggota keluarga terdekat. Namun, kenyataannya suara tersebut bisa saja bukan milik keluarga Anda, melainkan hasil rekayasa teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Fenomena ini dikenal sebagai AI Voice Cloning Scam atau penipuan dengan kloning suara AI. Modus ini menjadi salah satu ancaman siber terbaru karena mampu memanfaatkan faktor psikologis korban dengan sangat efektif.
Bambang Kelana Simpony, dosen dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Tasikmalaya, menjelaskan bahwa pelaku penipuan hanya membutuhkan rekaman suara seseorang selama beberapa detik untuk membuat tiruan suara yang sangat mirip dengan aslinya.
“Rekaman suara tersebut bisa diambil dari video media sosial, podcast, atau unggahan lain di internet. Dengan teknologi AI saat ini, suara itu bisa direplikasi sehingga terdengar sangat meyakinkan,” jelas Bambang.
Ia menambahkan bahwa lembaga seperti U.S. Federal Trade Commission (FTC) juga telah mengeluarkan peringatan terkait meningkatnya kasus penipuan berbasis kloning suara.
“Teknologi ini sebenarnya memiliki banyak manfaat positif. Namun jika disalahgunakan, ia bisa menjadi alat eksploitasi emosional yang sangat efektif karena penipu memanfaatkan kepercayaan kita terhadap suara orang terdekat,” ujarnya.
Cara Melindungi Diri dari Penipuan Suara AI
Karena teknologi ini semakin sulit dibedakan dari suara asli, Bambang menekankan pentingnya meningkatkan kewaspadaan serta membangun sistem verifikasi dalam keluarga. Ia membagikan beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menghindari modus penipuan ini.
1. Buat Kata Sandi Keluarga
Setiap keluarga dapat membuat kata sandi rahasia yang hanya diketahui anggota keluarga. Jika ada panggilan darurat yang meminta bantuan, kata sandi tersebut dapat digunakan untuk memastikan keaslian identitas.
2. Lakukan Panggilan Balik
Jangan langsung percaya pada panggilan masuk yang meminta uang atau informasi penting. Tutup panggilan tersebut, lalu hubungi kembali nomor telepon anggota keluarga yang tersimpan di kontak pribadi.
Baca juga: Dari Kapur Tulis ke Artificial Intelligence, Transformasi Dosen Digital di Era Pembelajaran Modern
3. Ajukan Pertanyaan Verifikasi Pribadi
Tanyakan hal yang hanya diketahui oleh Anda dan anggota keluarga tersebut, seperti pengalaman bersama atau informasi pribadi yang tidak tersedia di internet.
4. Waspadai Permintaan Darurat yang Tidak Biasa
Pelaku penipuan sering menciptakan situasi panik agar korban segera mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Tetap tenang dan lakukan verifikasi terlebih dahulu.
5. Batasi Jejak Suara di Internet
Kurangi unggahan yang menampilkan rekaman suara panjang di media sosial publik. Semakin sedikit data suara yang tersedia di internet, semakin sulit bagi pelaku untuk membuat kloning suara.
Menurut Bambang, meningkatnya kecanggihan teknologi membuat masyarakat perlu memiliki kesadaran literasi digital yang lebih kuat agar tidak mudah menjadi korban kejahatan siber.
“Teknologi adalah pedang bermata dua. Di satu sisi AI membawa banyak kemajuan, tetapi di sisi lain juga bisa disalahgunakan. Kewaspadaan, edukasi, serta komunikasi yang baik di dalam keluarga menjadi ‘antivirus’ terbaik untuk menghadapi ancaman siber yang semakin canggih,” pungkasnya.
UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif terus mendorong literasi digital kepada mahasiswa dan masyarakat agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak sekaligus memahami berbagai risiko yang muncul di era digital.