Bidik Digitalisasi UMKM Lidah Buaya Karanggintung, Dosen UBSI Raih Hibah BIMA 2026

0 10

BSINews, Purwokerto — Dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Purwokerto yang dikenal sebagai Kampus Digital Kreatif berhasil meraih pendanaan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) melalui program BIMA Tahun 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Pendanaan tersebut digunakan untuk mendukung program digitalisasi tata kelola usaha dan perluasan pasar UMKM olahan lidah buaya di Desa Karanggintung, Sumbang, Banyumas.

Program tersebut diajukan melalui proposal berjudul “Pemberdayaan UMKM Lidah Buaya Desa Karanggintung melalui Digitalisasi Tata Kelola Usaha dan Perluasan Pasar Menggunakan Platform Si VERA.” Tim dosen diketuai oleh Saghifa Fitriana dengan fokus kegiatan pada pemanfaatan teknologi untuk membantu UMKM meningkatkan pengelolaan usaha sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas.

Saghifa Fitriana menjelaskan, Desa Karanggintung memiliki potensi produk olahan lidah buaya yang dapat dikembangkan menjadi salah satu produk unggulan masyarakat. Namun, potensi tersebut masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan usaha dan pemasaran.

Potensi Lidah Buaya Karanggintung Dibidik Dosen UBSI, Si VERA Disiapkan Perluas Pasar UMKM

“Potensi produk olahan lidah buaya di Desa Karanggintung cukup besar. Namun, pelaku UMKM masih menghadapi kendala dalam pengelolaan administrasi dan pemasaran. Karena itu, kami ingin membantu mitra memanfaatkan teknologi agar usaha dapat dikelola lebih tertata dan produk memiliki jangkauan pasar yang lebih luas,” ujar Saghifa dalam keterangan tertulis, Selasa (18/8).

Menurutnya, program ini tidak sekadar memperkenalkan teknologi, tetapi juga mendorong pelaku UMKM agar mampu memanfaatkan teknologi sesuai kebutuhan usaha. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pengembangan Si VERA, platform yang dirancang untuk mendukung tata kelola usaha sekaligus promosi produk.

“Digitalisasi harus memberikan manfaat yang nyata bagi pelaku usaha. Karena itu, Si VERA kami arahkan bukan hanya sebagai platform, tetapi sebagai sarana yang dapat membantu mitra mengelola informasi usaha sekaligus memperkenalkan produknya kepada pasar,” jelasnya.

Program yang berlangsung sepanjang 2026 tersebut akan dilakukan melalui pelatihan, pendampingan, implementasi sistem, dan evaluasi. Pendekatan bertahap digunakan agar pelaku UMKM tidak hanya mengetahui fungsi teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya dalam kegiatan usaha sehari-hari.

“Kami tidak ingin kegiatan berhenti pada pelatihan. Mitra akan mendapatkan pendampingan dalam penerapan sistem sehingga mereka dapat mencoba, mengevaluasi, dan membiasakan penggunaan teknologi dalam pengelolaan usaha,” ungkap Saghifa.

Perluasan pasar menjadi salah satu sasaran utama program. Menurut Saghifa, kemampuan memproduksi olahan lidah buaya perlu diimbangi dengan strategi pemasaran yang mampu menjangkau konsumen di luar wilayah Karanggintung.

Baca juga : Smart Packaging Berbasis QR Code Jadi Inovasi PKM BIMA untuk Tingkatkan Branding Rima Craft

“Ketika tata kelola usaha semakin baik, peluang untuk memperluas pasar juga semakin terbuka. Pemanfaatan platform digital dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkenalkan produk UMKM kepada konsumen yang lebih luas,” katanya.

Perolehan hibah BIMA 2026 menjadi kesempatan bagi dosen UBSI untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung dalam pemberdayaan masyarakat. Program ini sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pengabdian yang berorientasi pada kebutuhan mitra.

Saghifa berharap program tersebut dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi UMKM lidah buaya di Desa Karanggintung.

“Harapan kami, program ini tidak hanya membantu UMKM dalam menggunakan teknologi, tetapi juga meningkatkan kemandirian mereka dalam mengelola usaha dan memasarkan produk. Dengan begitu, potensi lidah buaya di Karanggintung dapat berkembang menjadi peluang ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” pungkasnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.