BSINews, Jakarta — Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) mengajak anak-anak Panti Yatim Indonesia (PYI) Tebet, Jakarta Selatan, mengenal literasi keuangan dan kewirausahaan mikro sejak dini.
Kegiatan tersebut berlangsung pada (4/10) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) bertema “Peningkatan Keterampilan Melalui Pelatihan Literasi Keuangan dan Kewirausahaan Mikro pada Anak Panti Yatim Indonesia Tebet”.
Kegiatan ini dirancang untuk mengenalkan pengelolaan uang melalui cara yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Peserta diajak memahami kebiasaan dasar seperti menabung, menentukan prioritas, membedakan kebutuhan dan keinginan, hingga mengenali peluang sederhana dalam kewirausahaan.
Literasi keuangan menjadi salah satu kemampuan yang dinilai penting untuk dikenalkan sejak usia anak.
Pasalnya, aktivitas seperti menerima uang saku, membeli kebutuhan, memilih barang yang ingin dibeli, hingga menyisihkan uang sudah menjadi bagian dari keputusan keuangan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kegiatan tersebut, anggota tim Abdimas UBSI, Irwin Ananta Vidada, S.E., M.M., menyampaikan pesan mengenai pentingnya memahami cara mengelola uang.
Ia memperkenalkan gagasan “menaklukkan uang” sebagai cara sederhana untuk menggambarkan kemampuan seseorang dalam menggunakan dan mengatur uang yang dimiliki.
Menurut Irwin, kemampuan mengelola uang tidak harus menunggu seseorang beranjak dewasa.
Anak-anak dapat mulai belajar melalui kebiasaan sederhana yang mereka lakukan sehari-hari, termasuk menentukan kebutuhan dan menyisihkan sebagian uang yang dimiliki.
“Menaklukkan uang bukan berarti harus memiliki banyak uang. Justru yang penting adalah belajar mengatur uang yang kita miliki, sehingga kita tidak mudah dikendalikan oleh keinginan,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi bagian dari pendekatan yang digunakan tim Abdimas untuk membuat materi literasi keuangan lebih mudah dipahami peserta.
Konsep keuangan tidak hanya disampaikan melalui istilah, tetapi dikaitkan dengan situasi yang kemungkinan mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan seperti menabung dan membuat skala prioritas diperkenalkan sebagai langkah awal dalam mengelola uang.
Anak-anak juga diarahkan untuk tidak terburu-buru menggunakan uang hanya karena memiliki keinginan terhadap suatu barang.
Irwin yang juga merupakan staf Wakil Rektor II bidang kemahasiswaan UBSI mengatakan, kegiatan Abdimas dapat menjadi ruang pertemuan antara pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, keterlibatan dosen dan mahasiswa memberikan pengalaman pembelajaran yang berbeda karena mereka berinteraksi langsung dengan peserta di luar lingkungan kampus.
Kegiatan Abdimas tersebut dipimpin oleh Dedi Suharyadi, S.E., M.M., sebagai ketua pelaksana.
Tim pelaksana juga melibatkan Lukman Hakim, S.Sos., M.M., sebagai tutor, serta Dr. Sabil, S.E., M.M., dan Irwin Ananta Vidada, S.E., M.M., sebagai anggota pelaksana.
Selain dosen, dua mahasiswa UBSI, Husnul Chotimah dan Rohma Khoirunnisa, turut terlibat dalam kegiatan tersebut.
Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari kolaborasi antara unsur akademik dan masyarakat dalam pelaksanaan program pengabdian.
Mahasiswa tidak hanya membantu proses teknis kegiatan, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam berinteraksi dengan peserta.
Pengalaman tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan kemampuan komunikasi sekaligus memahami kondisi masyarakat secara langsung.
Ketua pelaksana Abdimas UBSI, Dedi Suharyadi, S.E., M.M., mengatakan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada penyampaian materi.
Ia berharap pengetahuan yang diberikan dapat digunakan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari.
“Menurut saya literasi keuangan sebaiknya dikenalkan sejak dini melalui hal-hal yang sederhana dan dekat dengan kehidupan anak. Ketika mereka terbiasa membedakan kebutuhan dan keinginan, menabung, serta memahami cara menggunakan uang secara bijak, sebenarnya mereka sedang membangun kebiasaan yang akan berguna untuk masa depan,” ungkapnya.
Menurut Dedi, keterlibatan dosen dan mahasiswa juga membantu membuat materi lebih komunikatif.
Baca juga: Mahasiswa UBSI Kampus Sukabumi Tanamkan Nilai Toleransi Beragama Lewat Pengabdian di Panti Asuhan
Penyampaian tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi disesuaikan dengan kondisi dan karakter peserta yang mengikuti kegiatan.
“Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap anak-anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga memiliki keberanian untuk mulai mempraktikkannya. Hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi kebiasaan positif,” tambahnya.
Materi yang diberikan dalam kegiatan tersebut mencakup sejumlah konsep dasar pengelolaan keuangan.
Peserta diajak mengenali perbedaan antara kebutuhan dan keinginan serta memahami alasan pentingnya menyisihkan uang untuk kebutuhan yang lebih penting.
Menabung juga diperkenalkan bukan hanya sebagai aktivitas menyimpan uang.
Kebiasaan tersebut dapat menjadi latihan untuk mengatur penggunaan uang dan belajar menunda keinginan demi tujuan yang telah ditentukan.
Pendekatan tersebut membuat literasi keuangan tidak ditempatkan sebagai materi yang hanya berkaitan dengan angka atau istilah ekonomi.
Sebaliknya, peserta diarahkan untuk melihat hubungan antara keputusan kecil yang mereka buat dengan kebiasaan mengelola uang dalam jangka panjang.
Selain literasi keuangan, kegiatan juga mengenalkan dasar kewirausahaan mikro.
Anak-anak diajak melihat bahwa kreativitas dan kemampuan mengenali kebutuhan di sekitar dapat menjadi modal awal untuk menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai.
Pengenalan kewirausahaan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian.
Anak-anak tidak hanya diajak memahami cara menggunakan uang, tetapi juga mulai mengenali bahwa kemampuan dan kreativitas dapat dikembangkan menjadi peluang.
Program Abdimas UBSI di PYI Tebet menempatkan literasi keuangan dan kewirausahaan sebagai bekal yang dapat mendukung kemandirian anak.
Pengetahuan tersebut diharapkan tidak berhenti pada saat kegiatan berlangsung, tetapi dapat diterapkan melalui kebiasaan sederhana setelah kegiatan selesai.
Bagi peserta, penerapan literasi keuangan dapat dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mengatur uang saku, menentukan prioritas, menabung, dan mempertimbangkan kembali sebelum membeli sesuatu menjadi contoh praktik yang dapat dilakukan secara bertahap.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari peran perguruan tinggi dalam memberikan manfaat kepada masyarakat.
Pengetahuan yang dimiliki dosen dapat diterapkan dalam kegiatan yang menyentuh kebutuhan masyarakat, sementara mahasiswa memperoleh pengalaman belajar melalui keterlibatan langsung.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa proses pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas.
Interaksi dengan masyarakat dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kerja sama, dan kepedulian sosial.
Melalui kegiatan di PYI Tebet, UBSI berharap pengenalan literasi keuangan dapat menjadi salah satu langkah awal bagi anak-anak untuk membangun kebiasaan finansial yang lebih baik.
Pemahaman tersebut diharapkan tumbuh secara bertahap melalui praktik sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, literasi keuangan sejak dini bukan hanya tentang bagaimana menggunakan uang, tetapi juga bagaimana membuat keputusan secara lebih terencana.
Baca juga: Mahasiswa UBSI Edukasi Generasi Muda Panti Asuhan tentang Peran Milenial di Era Digital
Melalui pengabdian kepada masyarakat, UBSI berupaya menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat sekaligus membuka ruang bagi dosen dan mahasiswa untuk berkontribusi secara langsung.