Jakarta BSI-News

Kegiatan virtual talkshow yang diselenggarakan World Tourism Day (WTD) Indonesia telah sukses berlangsung.  Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) berlaku sebagai host utama yang turut memfasilitasi kegiatan ini secara daring melalui zoom, pada Sabtu (17/7).

Virtual talkshow ini mengangkat tema ‘Pro-Kontra Kesehatan dan Ekonomi: Bisakah Berdampingan di Masa Pandemi?’.

Ketua Yayasan WTD Indonesia sekaligus Executive Director PATA Indonesia Chapter, Dr Agus Canny membuka visual talkshow ini. Ia mengatakan setahun terakhir dari seluruh negara di dunia mengalami kesulitan akibat wabah covid-19.

“Terjadi krisis dalam bidang kesehatan dan ekonomi, termasuk Indonesia. Oleh karenanya, kegiatan virtual talkshow kali ini besar harapan bisa menjadi share and learning. Kegiatan ini semoga bisa memberikan sumbangsih dan pemikiran kritis bagi kebangkitan dan kemajuan pariwisata Indonesia ,” ujar Dr Agus, Sabtu (17/7).

Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahudin Uno selaku keynote speaker mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang hadir pada virtual talkshow ini.

“Seperti kita ketahui bersama, kita saat ini masih terus berjuang melawan wabah covid-19. Kita harus yakin, selain dari kesiapan untuk protokol kesehatan. Maka vaksinasi juga harus digenjot pemberiannya,” ujar Dr H. Sandiaga, Sabtu (17/7).

Sandiaga menyebutkan, pernyataan pemerintah sampai akhir Juli 2021 berlaku PPKM Darurat dapat menurunkan angka penularan covid-19.

“Untuk itu, kita harus melihat dua fakta sekaligus. Pertama masyarakat yang menuntut kerja keras pemerintah dalam mengatasi pandemi covid-19. Oleh karena itu, pemerintah harus hadir dan berpihak kepada masyarakat,” pungkasnya.

Kedua, tentunya aspirasi masyarakat yang saat ini perlu diyakinkan untuk mendukung program-program pemerintah. Masyarakat yang berada dilapisan terbawahlah yang harus diperhatikan dan berpihak kepada mereka.

“Wabah covid-19 ini tentunya berdampak pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Bukan hanya dari segi ekonomi yang turun, melainkan juga lapangan kerja terancam,” terangnya.

Oleh sebabnya, kontraksi yang sangat mendalam harus dilakukan dengan langkah-langkah 3G yaitu Gercep (Gerak Cepat), Geber (Gerak Bersama) dan Gaspol (Garap Semua Potensial).

“Hal itu sebagai dasar agar kita dapat bertahan dan berkembang. Covid-19 memaksa kita untuk meningkatkan keterampilan, kesabaran dan inovasi dalam memberikan solusi kepada masyarakat,” paparnya.

Ia mengatakan, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlas dinanti-nanti oleh masyarakat.

“Saya yakin dengan bergandengan tangan dan bergotong royong dengan dunia usaha, media, komunitas masyarakat dan institusi pendidikan. Maka kebijakan pemerintah dapat menghadirkan solusi-solusi konkrit dan mengubah model bisnis pariwisata dan ekonomi kreatif agar lebih berkualitas dan berkelanjutan,” tukasnya.

Tambahnya, Indonesia harus terus terapkan protokol kesehatan, bangkit disaat sulit, dan menang melawan covid-19.

Di akhir acara, Dr Agus Canny, Ketua Yayasan WTD Indonesia menyebut, kontribusi Universitas BSI dalam acara ini luar biasa. Tanpa bantuannya, acara bisa tidak berjalan dengan lancar.

“Universitas BSI sudah menjadi kampus digital yang mumpuni. Keterlibatannya dalam acara ini, terlihat bahwa penerapan teknologi di kampus ini sudah baik. Terima kasih saya ucapkan atas kontribusinya membantu acara WTD dan sukses selalu untuk Universitas BSI,” tutupnya.