Ransomware Ancam Keamanan Data di Indonesia

0 15

Sukabumi, BSINews–Ancaman ransomware terus meningkat secara signifikan di Indonesia, mengancam keamanan data serta integritas perusahaan dan individu. Serangan siber ini menjadi isu yang sangat mendesak untuk ditangani oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk pemerintah, sektor swasta, dan individu.

Menurut kaprodi Informatika Fakultas Teknik dan Informatika, Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) kampus Sukabumi, Denny Pribadi mengatakan bahwa ransomware merupakan jenis malware yang mengenkripsi data korban, membuatnya tidak dapat diakses hingga tebusan dibayarkan.

Baca juga: BSSN Berbagi Ilmu Keamanan Siber di Seminar IT Bootcamp Universitas BSI

Ransomware

“Penyerang biasanya meminta pembayaran dalam bentuk cryptocurrency, seperti Bitcoin, untuk meminimalisir jejak digital mereka,” kata Denny turut mengomentari isu ransomware yang telah menyandera data-data masyarakat di Indonesia beberapa waktu lalu.

Menurut laporan terbaru dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), insiden ransomware di Indonesia telah meningkat sebesar 70% dalam enam bulan terakhir. Sektor-sektor yang paling terdampak meliputi layanan kesehatan, pendidikan, dan pemerintahan, yang mana serangan ini menyebabkan gangguan operasional yang signifikan dan potensi kerugian finansial yang besar.

Denny Pribadi yang juga dosen di Universitas BSI menjabarkan beberapa kasus menonjol telah dilaporkan, termasuk serangan terhadap beberapa rumah sakit besar di Jakarta dan Bandung, yang mengakibatkan tertundanya layanan medis dan ancaman terhadap privasi data pasien.

Selain itu, beberapa universitas terkemuka juga menjadi korban, mengakibatkan hilangnya data penelitian yang berharga dan gangguan pada proses belajar mengajar.

Baca juga: Prodi Informatika Gelar Pembekalan Sertifikasi Mikrotik

Untuk melindungi diri dari serangan ransomware, ada beberapa langkah yang dapat direkomendasikan, yakni selalu perbarui sistem operasi dan perangkat lunak dengan patch keamanan terbaru, lakukan backup data secara rutin dan simpan di lokasi yang terpisah dan aman.

“Perlu juga buat Pelatihan Keamanan Siber untuk mengedukasi karyawan dan pengguna tentang cara mengenali dan menghindari phishing serta serangan siber lainnya,” tegasnya.

Selanjutnya, gunakan solusi keamanan yang handal untuk mendeteksi dan mencegah serangan malware dan miliki rencana darurat untuk merespons insiden ransomware, termasuk prosedur untuk memulihkan data tanpa membayar tebusan.

Dengan semakin canggihnya metode serangan ransomware, penting bagi semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah-langkah preventif yang tepat.

“Keamanan siber menjadi tanggung jawab bersama yang memerlukan kerjasama dan kesadaran kolektif untuk melindungi aset digital kita,” tutupnya. (UMF)

Leave A Reply

Your email address will not be published.