Nasionalisme, Gadget, dan Anak-anak yang Lupa Punya Tanah Air
BSINews, Bekasi – Hari itu, 2 Mei 2025, seharusnya jadi hari yang adem. Hari Pendidikan Nasional, waktu yang pas buat merenung sambil rebahan, sudah sejauh apa kita belajar jadi manusia? Tapi di SMKIT Attaqwa Pusat, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, suasananya beda.
Alih-alih rebahan atau nyanyi lagu wajib nasional di kelas, sekelompok mahasiswa dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Kaliabang malah datang bawa misi berat, yaitu menyelamatkan identitas nasional dari ancaman gadget dan globalisasi. Iya, gadget. Benda kecil yang sekarang lebih sering dielus daripada pipi pacar sendiri.
Karena, mari kita akui sebentar: anak zaman sekarang bisa hapal nama-nama member girl group Korea lebih cepat daripada sila Pancasila. Mereka bisa nyebut semua efek di TikTok tapi bingung bedain antara Tan Malaka dan Tan Boy Kun.
Makanya, acara pengabdian masyarakat kali ini digelar dengan tema yang rada menggelitik “Pengaruh Gadget terhadap Identitas Nasional dan Perkembangan Seseorang.” Kegiatan ini bukan cuma jadi ruang diskusi, tapi semacam ruang pengakuan dosa—dosa digital yang pelan-pelan bikin kita lupa dari mana kita berasal.
Laura Aminatul Janah, Siti Rahmadhani, Afriza Rahadian, Ade Ilham Fauzi, Damar Adhithia, Manda Eka Puspita, Rahina Pinasthika, Gerry Dian Permana, dan Wildan Ihsan Raya—para mahasiswa pengabdi dari UBSI ini datang bukan buat nyalahin anak-anak, tapi ngajak ngobrol baik-baik. Mereka sadar, memarahi generasi Z karena kecanduan gadget sama aja kayak marahin ikan karena kebanyakan berenang.
Tapi tetap saja, ada kekhawatiran yang nggak bisa diredam. Ihya Ulumuddin, guru di SMKIT Attaqwa, bahkan sempat menyentil kebijakan Gubernur Dedy Mulyadi soal pelatihan pendidikan bagi anak-anak “bandel”. Katanya, “Saya setuju. Biar anak-anak bisa lebih baik, punya rasa nasionalisme.” Kalimatnya sederhana, tapi nadanya berat. Ada semacam rasa sedih di balik keprihatinan itu.
Karena memang nyatanya, banyak anak sekarang lebih hafal siapa yang viral di YouTube ketimbang siapa yang dulu bikin kita merdeka.
Untungnya, sesi pengabdian masyarakat ini nggak berlangsung dengan gaya orasi zaman dulu. Narasumber Riska Fitriah, menyampaikan pesan dengan santun tapi nancep: “Media sosial dan internet itu bisa jadi sahabat, kalau kita tahu cara pakainya. Gunakan buat belajar, bukan cuma buat scroll gosip atau bikin FOMO.”
Pengabdian masyarakat ini bukan tentang menyalahkan teknologi. Bukan juga nostalgia murahan soal zaman dulu lebih baik. Tapi tentang mencari keseimbangan—antara modernitas dan akar budaya, antara kemajuan dan karakter, antara “siapa aku di internet” dan “siapa aku sebagai warga negara.”
Baca juga: Aplikasi Parental Control Google Family Link: Memantau Penggunaan Gadget Anak Anda
Karena identitas nasional itu bukan cuma soal hafalan lagu wajib atau seragam upacara. Tapi soal nilai-nilai yang kita bawa pulang ke rumah, ke sekolah, dan ke dalam kehidupan sehari-hari. Soal kita tetap bisa bangga jadi orang Indonesia, bahkan saat nonton drama Korea.
Dan kalau hari ini, di sebuah sekolah di Babelan, ada sekelompok anak muda yang mulai bertanya: “Aku ini siapa?”—maka itu bukan akhir. Itu justru permulaan yang baik.(ACH)