Dari Gerobak ke Gadget, Cara UMKM Bojong Baru Diajak Berdamai dengan Teknologi
BSINews, Bogor – Sabtu pagi (3/5), di aula Kecamatan Bojong Gede, udara belum terlalu panas tapi sudah cukup bikin keringat malu-malu muncul di dahi. Sementara itu, belasan pelaku UMKM dari Bojong Baru duduk manis di kursi plastik, sebagian sambil nyeruput kopi, sebagian lagi masih sibuk mengatur notifikasi dari WhatsApp bisnis mereka yang (semoga) ramai pesanan. Mereka datang bukan untuk demo produk, apalagi arisan RT, tapi untuk belajar tentang sesuatu yang dulu terdengar asing, yaitu technopreneurship.
Yup, technopreneurship. Sebuah istilah yang di telinga pelaku usaha tradisional mungkin terdengar seperti mantra. Padahal, sebenarnya sesederhana dagang pakai sentuhan teknologi. Dan kali ini, yang jadi pemandu zikir digital itu adalah dosen-dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI). Mereka datang dalam misi pengabdian masyarakat, bukan cuma membawa slide PowerPoint, tapi juga semangat berbagi agar usaha kecil nggak terus tertinggal di tikungan zaman.
Rizkiana, sang ketua tim pengabdian masyarakat yang juga dosen kece dari UBSI, menyampaikan dengan gaya yang membumi, “Technopreneurship itu bukan cuma soal punya akun Instagram toko, tapi juga soal ngerti gimana teknologi bisa bantu kamu berkembang. Jangan takut sama aplikasi, sama fitur-fitur baru. Belajar pelan-pelan, nanti juga bisa.”
Ucapan itu langsung disambut anggukan dan senyum setengah ragu dari para peserta pelatihan dari dosen-dosen UBSI. Maklum, nggak semua pelaku UMKM akrab dengan kata “insight” dan “ads manager”.
Tapi bukannya nggak mau belajar. Justru, pelatihan seperti ini disambut dengan tangan terbuka, hati terbuka, dan kadang dompet terbuka juga kalau diselingi jualan makanan ringan. Sopiah, salah satu pelaku UMKM yang sudah lama jualan kue basah, mengaku bersyukur.
“Saya baru tahu ternyata foto produk itu nggak boleh gelap. Terus harus konsisten unggah. Ya saya kira kalau udah posting sekali ya cukup,” katanya sambil tertawa malu. Sopiah juga berharap pelatihan seperti ini terus ada. “Materinya bikin mikir. Tapi juga bikin semangat jualan,” tambahnya.
Dan memang, di era yang serba digital ini, UMKM bukan cuma butuh resep sambal enak atau sabun cuci homemade. Mereka juga butuh tahu cara bikin konten menarik, cara bikin katalog di marketplace, sampai cara tahu tren lewat Google Trends. Karena kenyataannya, persaingan sekarang nggak cuma soal harga dan rasa, tapi juga soal eksistensi digital.
UBSI Sebagai Kampus Digital Kreatif tampaknya sadar betul akan hal itu. Maka dari itu, pengabdian masyarakat bukan hanya seremoni, tapi jadi ruang bertukar ilmu, sekaligus napas panjang buat UMKM yang sedang mencoba naik kelas. Bukan berarti semua pelaku UMKM langsung bisa ngoding atau main TikTok Ads setelah satu sesi, tapi setidaknya mereka sudah tahu arah dan jalannya.
Baca juga: Kolaborasi Internasional UBSI dan UniKL Perkuat Kapasitas UMKM Kuliner Kampung Bharu
Karena hari ini, di Bojong Baru, perubahan itu sedang mulai diciptakan. Bukan dengan wacana besar, tapi dengan satu laptop, satu presentasi, dan segenggam semangat dari para pejuang usaha kecil yang tak pernah menyerah belajar.
Dan mungkin, inilah technopreneurship yang paling manusiawi, bukan soal seberapa canggih alatmu, tapi seberapa besar keberanianmu untuk mencoba hal baru. Karena dari gerobak ke gadget, selalu ada jalan—selama ada kemauan dan sedikit sinyal.(Teguh_syh)