Wisuda dengan Air Mata, Kisah Liska Salamah yang Hadir lewat Cinta Suaminya

0 76

Bekasi, BSINews – Sebuah momen penuh haru mewarnai prosesi Wisuda Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) Semester Gasal 2024/2025 di BSI Convention Center (BSI Convex). Di tengah gemuruh tepuk tangan dan senyum bangga para wisudawan, nama Liska Salamah dipanggil dengan nada penuh penghormatan. Namun, tak ada Liska yang naik ke panggung. Sebaliknya, suaminya, Muhammad Habib, berjalan perlahan, membawa kenangan yang tak akan pernah terlupakan.

Liska, seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi UBSI yang seharusnya ikut merayakan hari bahagianya, telah berpulang pada 4 Oktober 2024 lalu karena sakit. Meski tubuhnya tak lagi hadir, semangat dan perjuangannya tetap diabadikan dalam prosesi wisuda ini.

Baca juga: Jangan Jadi Trouble Maker! Pesan Menohok Dr. Samsuri untuk Wisudawan UBSI

“Hari ini seharusnya menjadi hari bahagia bagi Liska. Namun, Tuhan berkehendak lain,” ujar MC dengan suara bergetar, mengajak seluruh hadirin untuk mendoakan almarhumah.

Ketika nama Liska dipanggil, Muhammad Habib, suaminya, naik ke mimbar menggantikan istri tercinta. Suasana menjadi hening, hanya diiringi doa-doa lirih dari para hadirin. Habib menerima simbol kelulusan istrinya dari Prof Dr Ir Mochamad Wahyudi selaku Rektor UBSI.

“Ini bukan hanya tentang kelulusan akademik, tapi juga tentang menghormati perjuangan seseorang yang telah memberikan segalanya untuk pendidikan,” ujar Rektor Wahyudi. Habib, dengan mata yang berkaca-kaca, menerima toga dan piagam kelulusan Liska, seolah ingin mengatakan bahwa semangat istrinya akan terus hidup dalam dirinya.

Suasana menjadi emosional ketika seluruh hadirin dalam ruangan berdiri untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Liska. Wisudawan, dosen, hingga orang tua yang hadir, menundukkan kepala untuk mengirimkan doa terbaik. Tangis kecil terdengar dari beberapa sudut ruangan, menciptakan momen yang begitu manusiawi di tengah formalitas acara.

Kisah Liska bukan hanya tentang kelulusan yang tertunda, tapi juga tentang cinta, perjuangan, dan pengorbanan. Liska membuktikan bahwa pendidikan bukan sekadar gelar, tapi juga perjalanan yang penuh dedikasi. “Liska adalah simbol semangat yang tidak pernah padam,” ungkap Wahyudi.

Baca juga: Wisuda UBSI sebagai Langkah Kecil untuk Wisudawan, Tapi Lompatan Besar untuk Bangsa!

Momen ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kesuksesan bukan hanya soal pencapaian individu, tapi juga tentang orang-orang yang selalu mendukung di belakang layar. Wisuda ini, meski diwarnai air mata, menjadi bukti bahwa cinta bisa mengabadikan seseorang, bahkan setelah mereka tiada.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.