Lentera Literasi: Menyalakan Harapan atau Membiarkan Redup?
BSINews, Jakarta – Lentera literasi seharusnya menjadi cahaya yang menerangi jalan menuju Indonesia Emas 2045 namun lentera ini justru dapat menyoroti betapa gelapnya realita yang kita hadapi terkait minat baca rendah, hoaks merajalela, dan budaya literasi yang sering kali hanya menjadi jargon semata. Hal ini tentunya menimbulkan pertanyaan apakah kita sedang menyalakan lentera menuju masa depan emas, atau justru menonton cahaya itu meredup, menuntun kita ke Indonesia yang cemas?
Kemerdekaan Indonesia ke 100 Tahun akan diwujudkan melalui visi besar Indonesia untuk menjadi negara maju dengan menumbuhkan generasi emas. Dalam Masyarakat maju, literasi merupakan pilar utama untuk membangun generasi yang kritis dan siap menghadapi tantangan karena literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis namun juga kemampuan untuk berpikir kritis dan memahami keseluruhan informasi yang didapatkan. Realita saat ini untuk membangun generasi emas muncul berbagai tantangan, utamanya datang dari rendahnya minat membaca.
Berdasarkan data Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) Perpusnas 2023, skor nasional hanya mencapai 58,17 dari 100. ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum menjadikan aktivitas membaca sebagai bagian dari gaya hidup. Rendahnya akses terhadap bahan bacaan bermutu, terutama di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), menjadi penyebab utamanya.
Bahkan, UNESCO pernah mencatat bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah—hanya 0,001, artinya dari 1.000 orang, hanya 1 yang gemar membaca secara aktif. Hasil observasi yang saya lakukan dalam berbagai kegiatan di sekolah penggerak, menggambarkan bahwa budaya literasi di sekolah masih bersifat formalitas; kegiatan seperti membaca 15 menit sebelum pelajaran jarang disertai pendampingan untuk mengembangkan pemahaman kritis. Kondisi ini diperburuk oleh pertumbuhan rimba informasi digital yang pesat namun tidak diiringi dengan pertumbuhan kemampuan literasi digital.
Lentera Literasi di Rimba Digital
Di tengah derasnya arus informasi yang mengalir tanpa henti di era digital, literasi digital bagaikan lentera di tengah rimba yang gelap. menjadi penunjuk arah agar masyarakat tidak tersesat dalam belantara data dan distraksi. Literasi digital hari ini tidak lagi hanya soal kemampuan mengoperasikan perangkat elektronik, melainkan merupakan kemampuan esensial untuk menyeleksi, menganalisis, serta merespons informasi secara kritis dan etis.
Generasi muda kini tumbuh dan berkembang dalam ekosistem digital yang sarat informasi: dari portal berita, media sosial, hingga konten hiburan yang terus bermunculan dalam hitungan detik. Namun, luasnya akses terhadap informasi tidak sebanding dengan kualitas pemahaman yang dimiliki. Banyak remaja dan pemuda yang belum dibekali dengan keterampilan literasi digital yang memadai, sehingga kesulitan dalam membedakan antara fakta, opini, atau bahkan informasi palsu yang terselubung.
Laporan dari We Are Social dan Hootsuite menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan waktu rata-rata 8 jam per hari di internet. Sayangnya, banyak waktu tersebut digunakan untuk mengonsumsi konten tanpa filter, bukan untuk mengembangkan pengetahuan atau berpikir kritis. Kondisi ini menyebabkan mereka mudah terjebak dalam ilusi digital, di mana informasi yang dikonsumsi secara pasif justru menciptakan keresahan, bukan pencerahan.
Salah satu fenomena yang mencolok di tengah rendahnya literasi digital adalah “Fear of Missing Out” (FOMO), yaitu ketakutan berlebihan akan ketinggalan tren atau informasi terbaru. Dalam berbagai diskusi dengan beberapa mahasiswa banyak dari mereka merasa tertekan untuk selalu mengikuti perkembangan sosial media, yang pada akhirnya menimbulkan kecemasan, stres, dan perasaan tidak aman secara psikologis. Hal ini diperparah dengan kurangnya kesadaran bahwa tidak semua hal yang viral adalah penting atau benar.
Dalam konteks inilah, Lentera Literasi harus hadir sebagai cahaya penuntun di tengah rimba digital yang penuh jebakan informasi. Lentera ini bukan hanya simbol pencerahan intelektual, tetapi juga perlambang harapan untuk membangun generasi yang tahan terhadap manipulasi informasi, kuat secara mental, dan bijak dalam bermedia. Tanpa lentera ini, generasi muda akan mudah tersesat, menjadi korban algoritma, dan kehilangan arah dalam membangun jati diri serta masa depannya.
Maka dari itu, tantangan utama bangsa ini adalah membumikan literasi digital sebagai bagian dari budaya belajar dan kehidupan sehari-hari. Peran pendidikan, keluarga, dan komunitas menjadi kunci utama. Diperlukan kurikulum literasi digital sejak dini, pelatihan berpikir kritis, serta ruang diskusi yang sehat untuk membekali generasi muda dalam menghadapi dunia digital yang kompleks dan penuh tantangan.
Membiarkan Redup Merupakan Jalan Sunyi Menuju Indonesia Cemas
Krisis literasi yang melanda generasi muda Indonesia bukan sekadar persoalan akademik, melainkan sebuah ancaman sistemik terhadap masa depan bangsa. Minimnya kemampuan membaca, memahami, dan menganalisis informasi bukan hanya menghambat prestasi belajar, tetapi juga memperbesar kerentanan mereka terhadap disinformasi, tekanan sosial, dan gangguan kesehatan mental. Hal ini diperkuat oleh temuan Survei Nasional Kesehatan Mental Remaja (I-NAMHS) tahun 2022 yang mencatat bahwa 34,8% remaja Indonesia mengalami masalah mental seperti kecemasan dan depresi—masalah yang sering kali berakar pada ketidakmampuan menyaring informasi dan menghadapi tuntutan sosial yang kompleks.
Lebih mengkhawatirkan lagi, skor literasi membaca siswa Indonesia dalam PISA 2022 turun menjadi 359 poin, menandakan bahwa mayoritas siswa belum mencapai kompetensi dasar dalam memahami teks. Ini bukan hanya cerminan lemahnya kualitas pendidikan, tetapi juga alarm keras bagi pembangunan manusia Indonesia.
Dalam konteks ini, literasi bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi fondasi bagi lahirnya generasi yang tangguh, kritis, dan berdaya saing. Ketika literasi tidak dijadikan prioritas, yang tumbuh bukanlah harapan, melainkan keresahan. Kita sedang menciptakan generasi Indonesia yang cemas dan negeri yang dihuni oleh generasi yang tidak siap, mudah terprovokasi, dan lemah dalam menghadapi tantangan global. Pernyataan Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, bahwa “peningkatan literasi harus menjadi agenda nasional yang dijalankan secara konsisten dan kolaboratif,” harus dimaknai sebagai seruan aksi, bukan sekadar wacana.
Upaya pemerintah dalam penguatan program literasi tentu patut diapresiasi, namun tanpa keterlibatan aktif dari keluarga, sekolah, dan masyarakat, semua program tersebut akan berakhir sebagai formalitas belaka. Ketika masyarakat bersikap pasif dan membiarkan cahaya literasi terus meredup, kita secara kolektif sedang berjalan di jalan sunyi menuju Indonesia yang penuh kecemasan.
Maka, memperjuangkan literasi bukan hanya soal membuka buku, tetapi membuka masa depan. Sudah waktunya kita berhenti bersikap pasif dan mulai menyalakan semangat literasi secara nyata dengan membaca, berdiskusi, dan berpikir kritis agar Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi melangkah maju menuju kemajuan yang berkelanjutan.
Menyalakan Harapan Menuju Indonesia Emas
Meningkatkan budaya literasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan strategis untuk mewujudkan visi besar Indonesia Emas 2045. Dalam dunia yang semakin didominasi oleh informasi dan teknologi, generasi muda Indonesia harus dibekali tidak hanya dengan kemampuan membaca, tetapi juga dengan keterampilan berpikir kritis dan literasi digital yang mumpuni. Tanpa itu, mereka akan mudah terjebak dalam disinformasi, radikalisme digital, dan tekanan sosial yang tidak sehat.
Maka dari itu, program literasi harus ditempatkan sebagai prioritas nasional, bukan sekadar pelengkap kebijakan pendidikan. Pemerintah memang telah meluncurkan berbagai program melalui kementerian dan lembaga seperti Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Namun, tantangan yang kita hadapi hari ini menuntut langkah yang lebih inovatif, sistematis, dan kolaboratif.
1. Menumbuhkan Minat Baca Sejak Dini
Budaya membaca harus dimulai dari rumah dan diperkuat di sekolah. Orang tua dan guru tidak cukup hanya mengajarkan cara membaca, tetapi harus membangun kebiasaan dan cinta terhadap membaca sejak dini. Praktik seperti membacakan buku sebelum tidur atau rutin mengunjungi perpustakaan seharusnya menjadi bagian dari keseharian anak. Tanpa ini, semua program literasi hanya akan menyentuh permukaan.
2. Meningkatkan Akses Buku dan Infrastruktur Literasi
Langkah konkret seperti mencetak 10 juta eksemplar buku untuk 10.000 desa oleh Perpusnas patut diapresiasi. Namun, akses bukan hanya soal jumlah buku, melainkan juga soal kualitas, keterjangkauan, dan keberlanjutan layanan. Tanpa distribusi yang merata dan terkelola baik, buku-buku tersebut berisiko menjadi tumpukan yang tidak tersentuh. Maka, penguatan perpustakaan desa harus diiringi dengan pelatihan pengelola dan sistem pelaporan yang transparan.
3. Mengembangkan Program Literasi yang Kreatif dan Inklusif
Literasi tidak bisa lagi dikemas secara konvensional. Perlu pendekatan kreatif seperti pojok baca digital, perpustakaan keliling, motor baca, dan program literasi berbasis komunitas. Upaya menjangkau masyarakat di wilayah 3T juga harus memanfaatkan teknologi berbasis offline dan lokalitas budaya untuk memastikan inklusivitas.
4. Memaksimalkan Teknologi untuk Literasi Digital
Program Literasi Digital Nasional oleh Kominfo merupakan langkah penting untuk membekali masyarakat dengan kemampuan memilah informasi dan menciptakan konten positif. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada sinergi antara konten, kurikulum, dan kapasitas pengajar. Literasi digital yang kuat akan mempersenjatai generasi muda dalam menghadapi arus informasi global yang penuh bias dan manipulasi.
5. Pelatihan Keterampilan Emosi dan Kesehatan Mental
Tidak ada literasi yang utuh tanpa kecerdasan emosional. Generasi muda yang cerdas secara akademik namun lemah secara mental akan tetap rapuh menghadapi tekanan global. Oleh karena itu, pelatihan berpikir kritis dan manajemen emosi harus menjadi bagian integral dari kebijakan literasi nasional.
Pemerintah, melalui Renstra Perpusnas 2025–2029, telah menunjukkan arah kebijakan yang menjanjikan, mulai dari pembentukan 10.000 perpustakaan desa/kelurahan, digitalisasi naskah Nusantara, hingga alokasi anggaran sebesar Rp721 miliar untuk memperkuat literasi di daerah 3T. Tetapi kebijakan hebat tidak akan berdampak signifikan tanpa keterlibatan aktif masyarakat, sekolah, dunia usaha, dan media.
Budaya literasi bukan sekadar urusan membaca buku. Ini adalah fondasi utama pembangunan bangsa. Tanpa literasi, kita akan membesarkan generasi yang kehilangan arah dan gagal menjawab tantangan zaman. Namun dengan literasi yang kuat, kita membangun generasi yang cerdas, mandiri, dan siap membawa Indonesia bersinar di pentas dunia. Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mimpi, melainkan tujuan nyata yang hanya bisa dicapai jika kita semua bersatu menyalakan kembali api lentera literasi di setiap sudut negeri.
Penulis: Retno Rahayuningsih, Dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI).(ACH)