Era Zero-Click Search Dimulai: Google AI Mengubah Cara Kita Mencari Informasi di Internet
BSINews, Pontianak – Selama lebih dari dua dekade, internet dibangun di atas sebuah kebiasaan sederhana seperti mencari, Google menampilkan tautan, lalu mengkliknya.
Model itu membentuk ekosistem digital yang sangat besar. Media mendapatkan pembaca, blogger mendapatkan pengunjung, toko online mendapatkan calon pelanggan, dan Google mendapatkan posisi sebagai pintu gerbang menuju web. Namun, kebiasaan tersebut perlahan berubah.
Baca juga: Ketika AI Menjadi HRD: Revolusi AI dalam Proses Rekrutmen
Kini, pengguna semakin sering mendapatkan jawaban langsung di halaman pencarian. Tidak perlu membuka artikel. Tidak perlu mengunjungi lima situs. Bahkan, dalam banyak kasus, pengguna tidak perlu mengklik apa pun. Inilah era zero-click search dan kehadiran AI Overviews serta AI Mode membuat perubahan tersebut bergerak jauh lebih cepat.
Apa Itu Zero-Click Search?
Zero-click search adalah kondisi ketika seseorang melakukan pencarian di mesin pencari tetapi tidak mengklik hasil eksternal apa pun setelah mendapatkan atau memproses informasi yang dibutuhkan.
Konsep ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Google telah lama menyediakan featured snippets, informasi cuaca, peta, kalkulator, jadwal penerbangan, pengetahuan umum, hingga berbagai knowledge panels. Semua fitur tersebut memungkinkan pengguna memperoleh informasi tanpa mengunjungi situs lain. Namun, generative AI membawa zero-click search ke level yang berbeda.
Jika sebelumnya Google menampilkan satu jawaban singkat, kini AI dapat menyusun, merangkum, membandingkan, dan menjelaskan informasi dari berbagai sumber dalam sebuah jawaban yang jauh lebih komprehensif. Dengan kata lain, mesin pencari mulai berubah dari direktori web menjadi mesin pemberi jawaban.
Zero-Click Sebenarnya Sudah Menjadi Kebiasaan
Data SparkToro dan Datos menunjukkan bahwa fenomena ini bukan sekadar prediksi masa depan. Dalam analisis 2024 terhadap jutaan aktivitas pencarian, sekitar 58,5% pencarian Google di Amerika Serikat dan 59,7% di Uni Eropa berakhir tanpa klik ke hasil web. Studi tersebut mendefinisikan zero-click sebagai pencarian yang berakhir tanpa pengguna mengklik hasil yang tersedia.
Angka tersebut penting karena menunjukkan bahwa bahkan sebelum dominasi AI generatif, perilaku pengguna sudah bergerak menuju pencarian tanpa klik. AI hanya mempercepat tren tersebut.
AI Overviews Mengubah Permainan
Google memperkenalkan AI Overviews sebagai cara baru untuk menjawab pertanyaan kompleks. Alih-alih memberikan daftar tautan, Google menggunakan teknologi AI untuk menghasilkan ringkasan di bagian atas halaman pencarian, sekaligus menyediakan tautan menuju sumber yang relevan.
Google mengatakan AI Overviews telah berkembang menjadi salah satu fitur utama Search. Pada Juni 2026, Google menyebut AI Overviews telah memiliki lebih dari 2,5 miliar pengguna aktif bulanan, sementara AI Mode telah melampaui satu miliar pengguna bulanan. Dari perspektif pengguna, perubahan ini masuk akal.
Jika seseorang bertanya, “Apa penyebab inflasi dan bagaimana dampaknya terhadap masyarakat?”. Mengapa harus membuka sepuluh artikel jika Google dapat memberikan rangkuman dalam beberapa detik? Di sinilah persoalan mulai muncul bagi penerbit.
Data Pew: Ketika AI Muncul, Klik Turun
Penelitian Pew Research Center memberikan gambaran yang sangat penting. Pew menganalisis aktivitas browsing 900 orang dewasa di Amerika Serikat selama Maret 2025. Sekitar 58% peserta melakukan setidaknya satu pencarian Google yang menghasilkan AI summary.
Hasilnya cukup jelas ketika AI summary muncul, pengguna mengklik hasil pencarian tradisional hanya sekitar 8% dari kunjungan, dibandingkan 15% ketika AI summary tidak muncul. Artinya, kehadiran ringkasan AI berkorelasi dengan penurunan kecenderungan pengguna untuk meninggalkan Google menuju situs lain.
Lebih menarik lagi, penelitian Pew yang dipublikasikan pada Agustus 2026 menemukan bahwa klik ke sumber yang dikutip langsung di AI Overview hanya terjadi sekitar 1% dari kunjungan yang menampilkan AI Overview. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa AI Overview berkaitan dengan lebih sedikit klik dan lebih banyak sesi browsing yang berakhir setelah pengguna melihat ringkasan. Ini adalah tantangan serius bagi ekonomi web.
Bukti Eksperimental 2026 Lebih Mengkhawatirkan
Jika penelitian Pew menunjukkan korelasi, penelitian lain pada 2026 memberikan bukti kausal yang lebih kuat. Sebuah field experiment yang dilakukan oleh peneliti dari Indian School of Business dan Carnegie Mellon University membandingkan pengalaman pengguna dengan Google Search yang menampilkan AI Overviews dan versi tanpa fitur tersebut.
Hasilnya ketika AI Overview muncul, klik organik keluar turun 39,8%, sedangkan pencarian yang berakhir tanpa klik meningkat 34,5%. Peneliti tidak menemukan perubahan berarti pada klik iklan atau frekuensi pencarian secara keseluruhan. Temuan ini penting. Masalahnya bukan bahwa orang berhenti mencari. Mereka tetap mencari, tetapi semakin jarang meninggalkan Google.
Lalu, Siapa yang Membayar Jurnalisme?
Inilah pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar persoalan SEO. Sebuah artikel investigasi membutuhkan wartawan. Wartawan membutuhkan waktu.
Investigasi membutuhkan data, perjalanan, wawancara, editor, fotografer, server, dan organisasi media. Semua itu membutuhkan biaya. Selama bertahun-tahun, salah satu mekanisme ekonominya adalah trafik dari mesin pencari.
Pengguna mencari informasi, menemukan artikel, mengklik, membaca, melihat iklan atau berlangganan. Model tersebut memang tidak sempurna, tetapi menciptakan hubungan ekonomi antara mesin pencari dan penerbit.
Zero-click mengubah rantai tersebut. Jika AI memberikan ringkasan berdasarkan artikel jurnalistik tetapi pembaca tidak pernah mengunjungi sumber aslinya, nilai informasi dapat berpindah dari penerbit kepada platform yang merangkum informasi tersebut. Dan ini bukan sekadar teori.
Penelitian 2026 yang menganalisis dampak AI Overview terhadap trafik Wikipedia menemukan bahwa paparan terhadap AI Overview menyebabkan trafik harian artikel Wikipedia berbahasa Inggris turun sekitar 15% dibandingkan artikel pembanding yang tidak terpapar. Dampaknya lebih besar pada topik budaya, sementara artikel STEM mengalami penurunan relatif lebih kecil.
Namun, Google Memiliki Argumen yang Berbeda
Agar diskusi ini adil, kita juga harus melihat perspektif Google. Google menolak gagasan bahwa AI Search sekadar “memakan” trafik web.
Dalam pernyataan resminya pada Agustus 2025, Google mengatakan volume klik organik secara keseluruhan dari Search ke situs web relatif stabil dari tahun ke tahun dan kualitas klik justru meningkat. Google juga mengatakan AI Search menghasilkan lebih banyak pencarian dan membantu pengguna menemukan pertanyaan yang sebelumnya sulit diajukan. Google juga terus menambahkan tautan ke dalam AI Overviews.
Pada Mei 2026, Google menyatakan bahwa mereka meningkatkan jumlah inline links, menambahkan website previews, serta menghadirkan fitur Preferred Sources untuk membantu pengguna menemukan situs yang mereka percaya.
Google bahkan menyediakan kontrol baru di Search Console yang memungkinkan pemilik situs menentukan apakah konten mereka boleh digunakan untuk membantu menghasilkan respons AI. Situs yang memilih keluar tidak akan menerima trafik maupun impresi dari fitur generative AI Search tersebut.
Jadi, persoalannya tidak sesederhana Google versus penerbit. Ada perubahan fundamental dalam cara nilai informasi diciptakan dan didistribusikan.
Paradoks Zero-Click: Trafik Turun, Tetapi Pencarian Bisa Naik
Di sinilah kita harus berhati-hati agar tidak menyimpulkan terlalu cepat bahwa AI Search berarti “kematian web”. Google mengatakan AI Overviews justru meningkatkan penggunaan Search untuk jenis pertanyaan yang menampilkan ringkasan AI.
Di pasar besar seperti Amerika Serikat dan India, Google melaporkan peningkatan penggunaan lebih dari 10% untuk jenis pencarian tersebut. Artinya, AI bisa menciptakan lebih banyak aktivitas pencarian sekaligus mengurangi jumlah klik per pencarian. Ini merupakan perubahan ekonomi yang sangat penting. Volume pencarian bukan lagi indikator yang cukup untuk mengukur nilai sebuah situs.
Yang menjadi pertanyaan adalah berapa banyak perhatian pengguna yang benar-benar berhasil dikonversi menjadi kunjungan, pembaca, pelanggan, atau hubungan langsung dengan sebuah merek?
SEO Tidak Mati, Tetapi Definisinya Berubah
Menurut saya, salah satu kesalahan terbesar industri digital adalah mengatakan, “SEO sudah mati.” Tidak. Yang sedang mati adalah SEO yang hanya berorientasi pada peringkat dan klik. Dalam era zero-click dan generative search, strategi harus berkembang dari Ranking → Traffic → Pageview menjadi Visibility → Citation → Trust → Brand → Direct Relationship.
Sebuah situs mungkin tidak mendapatkan klik sebanyak dulu, tetapi tetap mendapatkan manfaat apabila namanya muncul sebagai sumber yang dipercaya AI. Ini menciptakan konsep baru yang sering disebut Generative Engine Optimization (GEO) atau optimasi visibilitas pada mesin pencari generatif.
Namun penelitian menunjukkan bahwa bidang ini masih berkembang dan mekanismenya belum sepenuhnya stabil. Studi terhadap 11.500 kueri pengguna menemukan bahwa sumber yang dipilih AI Overview dapat berbeda secara signifikan dari hasil Google Search tradisional. Artinya, ranking nomor satu tidak otomatis berarti menjadi sumber utama AI.
Konten Generik Akan Semakin Sulit Bertahan
Zero-click search juga memaksa penerbit melakukan introspeksi. Jika sebuah artikel hanya mengulang informasi yang sudah tersedia di puluhan situs lain, mengapa pengguna harus membukanya?
AI dapat merangkum konten generik dalam hitungan detik. Karena itu, nilai sebuah media di masa depan akan semakin ditentukan oleh sesuatu yang sulit direplikasi seperti laporan eksklusif, wawancara asli, data primer, investigasi, pengalaman langsung, analisis mendalam, perspektif editorial, dokumentasi lapangan, dan kredibilitas penulis.
Google sendiri dalam panduannya kepada pemilik situs menekankan pentingnya konten unik dan tidak sekadar komoditas, pengalaman halaman yang baik, serta penggunaan gambar dan video berkualitas. Dengan kata lain, AI membuat konten biasa menjadi semakin murah. Karena itu, konten luar biasa menjadi semakin berharga.
Masalah Terbesar, siapa yang mengontrol gerbang informasi? Ada dimensi lain yang sering luput dari perdebatan zero-click. Selama era web tradisional, mesin pencari menentukan situs mana yang muncul di halaman pertama.
Dalam era AI, platform tidak hanya menentukan situs mana yang ditemukan. AI juga dapat menentukan bagian mana dari informasi tersebut yang disampaikan kepada pengguna. Ini adalah perubahan kekuasaan yang sangat besar.
Sebuah studi 2026 terhadap 55.393 kueri menemukan bahwa AI Overviews menghasilkan ringkasan pada sekitar 13,7% kueri secara keseluruhan, tetapi mencapai 64,7% pada kueri berbentuk pertanyaan. Studi tersebut juga menemukan bahwa sekitar 11% klaim dalam respons AI Overview tidak didukung oleh halaman yang dikutip, dengan omission menjadi bentuk kegagalan yang dominan. Artinya, persoalannya bukan hanya trafik. Ada juga persoalan epistemik yaitu Siapa yang menentukan apa yang diketahui publik?
Era Baru Membutuhkan Hubungan Baru antara AI dan Media
Menurut saya, solusi tidak seharusnya berupa pelarangan teknologi AI. AI terlalu berguna untuk dihentikan. Dan pengguna jelas menginginkannya. Solusinya adalah menciptakan ekosistem ekonomi baru.
1. Platform AI membutuhkan informasi berkualitas.
2. Media membutuhkan pembaca dan pendapatan.
3. Pengguna membutuhkan informasi yang akurat.
Ketiganya harus menemukan keseimbangan. Modelnya dapat berupa lisensi konten, kompensasi berbasis penggunaan, atribusi yang lebih kuat, peningkatan trafik rujukan, langganan, atau model bisnis baru yang belum kita kenal hari ini. Yang jelas, mengambil nilai ekonomi dari konten tanpa memastikan keberlanjutan pihak yang memproduksinya bukan model yang sehat untuk jangka panjang.
Zero-Click Bukan Akhir Internet
Pada akhirnya, saya tidak melihat era zero-click sebagai akhir dari internet. Saya melihatnya sebagai akhir dari satu model internet.
1. Internet generasi pertama dibangun dengan prinsip: “Berikan saya tautan.”
2. Internet generasi AI bergerak menuju: “Berikan saya jawaban.”
3. Dan generasi berikutnya mungkin akan berkata:”Kerjakan untuk saya.”
Perubahan dari search menuju answer engine, kemudian menuju agentic engine, akan semakin mengurangi kebutuhan pengguna untuk berpindah dari satu situs ke situs lain. Namun, justru karena itu, nilai kepercayaan akan semakin mahal. Ketika AI dapat menghasilkan jutaan jawaban dalam hitungan detik, manusia akan semakin membutuhkan sumber yang benar-benar dapat dipercaya.
Masa Depan Bukan Tanpa Klik, Tetapi Tanpa Ketergantungan pada Klik
Zero-click search seharusnya tidak membuat penerbit panik dan kemudian mengejar setiap trik SEO baru. Yang harus dilakukan adalah membangun sesuatu yang tidak bisa diringkas menjadi sekadar jawaban AI.
1. Bangun merek.
2. Bangun komunitas.
3. Bangun kepercayaan.
4. Bangun data primer.
5. Bangun keahlian.
6. Bangun hubungan langsung dengan pembaca.
Karena jika satu-satunya cara pembaca mengenal sebuah media adalah melalui Google, maka media tersebut pada dasarnya tidak memiliki audiens, ia hanya menyewa perhatian dari sebuah platform.
Baca juga: AI dan Generasi Z: Ketika Teknologi Canggih Tak Lagi Menjamin Kemandirian Belajar
Dan di era AI, biaya sewa tersebut dapat berubah kapan saja. Maka pertarungan sesungguhnya bukan antara Google dan media. Bukan pula antara AI dan wartawan. Pertarungan sesungguhnya adalah mempertahankan ekosistem informasi yang memungkinkan konten berkualitas tetap diproduksi ketika mesin semakin pintar dalam merangkum konten tersebut.
Jika kita berhasil menemukan keseimbangan itu, zero-click bukanlah akhir web. Ia justru bisa menjadi awal dari web yang lebih berkualitas, lebih berbasis kepercayaan, dan lebih menghargai informasi orisinal. Tetapi jika keseimbangan itu gagal ditemukan, kita mungkin akan memasuki paradoks terbesar era AI seperti Internet memiliki lebih banyak informasi daripada sebelumnya, tetapi semakin sedikit orang yang mengunjungi tempat informasi itu sebenarnya dibuat.
Penulis: Dedi Saputra, Dosen Program Studi Informatika Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Pontianak.