Dari Mimbar ke Mikrofon: Remaja Masjid yang Belajar Bicara Tanpa Bikin Mengantuk
BSINews, Tangerang – Ada yang beda dari suasana Masjid Al Manaar di Cisauk, Sabtu pagi, 26 April 2025 kemarin. Bukan, bukan karena speaker-nya diganti yang baru atau sajadahnya habis dicuci. Tapi karena pagi itu, masjid yang biasanya jadi tempat salat dan kajian rutin, mendadak berubah jadi semacam “kelas vokal” dadakan. Bukan buat jadi penyanyi, tapi buat belajar satu keterampilan penting yang, entah kenapa, sering dipandang remeh: public speaking.
Yup, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Manaar berkolaborasi bareng Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) buat ngadain Pelatihan Public Speaking Sebagai Sarana Dakwah Bagi Remaja Masjid. Sebuah pengabdian masyarakat yang kalau dipikir-pikir, seharusnya udah jadi makanan wajib buat para penceramah muda yang ingin dakwahnya nggak cuma masuk telinga kanan keluar kuping kiri.
Karena jujur aja, siapa yang belum pernah ngantuk pas dengar ceramah yang terlalu datar, panjang tanpa jeda napas, dan… yah, terlalu serius sampai kita lebih fokus nahan ngantuk daripada mencerna isi kajiannya?
Nah, pelatihan ini pengen memutus rantai ceramah yang membosankan itu. Digawangi oleh Novalia dan tim dosen serta mahasiswa UBSI, para remaja masjid dikasih bekal nggak cuma soal teori, tapi juga praktik langsung. Mulai dari kenalan dulu dengan konsep public speaking, lanjut workshop cara ngomong yang bikin orang mau dengar, sampai sesi simulasi yang bikin deg-degan karena harus tampil di depan teman-teman sendiri.
Dan jangan salah, ini bukan sekadar pelatihan ala kadarnya. Karena di balik setiap latihan pengucapan dan artikulasi itu, terselip hal yang lebih dalam, yaitu keberanian untuk bersuara. Buat sebagian orang, berdiri di depan orang banyak sambil ngomong itu lebih menakutkan daripada presentasi skripsi.
Tapi para remaja DKM Al Manaar justru ambil langkah maju, belajar menyampaikan pesan agama dengan cara yang lebih mengena, lebih manusiawi, dan yang pasti—lebih relevan dengan zaman.
Ketua DKM-nya, Mulyadi, dengan semangat khas bapak-bapak masjid yang visioner, bilang kalau pelatihan ini adalah upaya untuk membekali remaja agar bisa dakwah dengan gaya yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Karena, di era digital sekarang, jadi dai bukan cuma soal paham isi kitab, tapi juga paham cara menyampaikan. Mau dakwah di masjid, mau bikin podcast keislaman, atau live Instagram kajian malam Jumat—semuanya butuh kemampuan bicara yang mumpuni.
Lihat aja anak-anak muda itu. Ada yang awalnya grogi setengah mati, tangan gemetaran, suara nyangkut di tenggorokan. Tapi perlahan, mereka mulai percaya diri. Bahkan ada yang berhasil bikin peserta lain ketawa karena gaya penyampaiannya yang santai tapi tetap berisi. Bukan ketawa karena lawakan receh, tapi karena cara mereka menyampaikan pesan itu terasa hidup.
Karena pada akhirnya, dakwah bukan cuma soal menyampaikan ajaran. Tapi juga soal mendengarkan zaman, beradaptasi dengan audiens, dan menjadikan agama sebagai sesuatu yang akrab, bukan asing dan bikin jaga jarak.
Pelatihan ini mungkin cuma sehari. Tapi dampaknya bisa panjang. Karena siapa tahu, dari mimbar kecil masjid Al Manaar ini, lahir generasi juru bicara umat yang bukan cuma paham isi Quran dan hadis, tapi juga ngerti pentingnya eye contact, intonasi suara, dan jeda napas yang pas.
Dan siapa tahu juga, ke depan kita nggak akan lagi bilang, “Ceramahnya bagus sih, tapi ngantuk banget.” Karena para remaja ini sudah belajar satu hal penting: bahwa kebenaran akan lebih mudah diterima jika dibungkus dengan komunikasi yang hangat, manusiawi, dan menyentuh. Masjid, pada akhirnya, bukan hanya tempat sujud. Tapi juga tempat belajar bicara dengan hati.(ACH)