Kalau Kader Posyandu Bisa Ngomong Lebih Jelas, Mungkin Warga Nggak Akan Takut Timbangan Bayi
BSINews, Tangerang – Hari itu, suasana di Paninggilan Utara, Ciledug, Tangerang pada Sabtu, 19 April 2025 agak beda. Bukan karena ada bazar minyak goreng murah atau demo warga yang protes jalan berlubang. Tapi karena para kader Posyandu Sirsak, yang biasanya sibuk nimbangin bayi dan bagi-bagi biskuit balita, kali ini duduk manis di pelatihan komunikasi. Iya, komunikasi. Bukan tentang cara menyuntik atau meracik bubur kacang hijau, tapi gimana caranya ngomong yang nyambung dan didengar.
Karena, ya, komunikasi itu sering disepelekan. Padahal kadang bukan karena isi pesannya yang salah, tapi cara nyampainya yang bikin orang gagal paham. Kalau kader posyandu bilang, “Bu, anaknya kurus nih,” tanpa senyum atau penjelasan, bisa-bisa si ibu langsung baper dan nggak datang lagi bulan depan. Padahal kan maksudnya baik—biar si anak sehat dan tumbuh optimal, bukan tumbuh jadi rumor baru di grup WA RT.
Baca juga: Dosen UBSI Sukses Berikan Pelatihan Canva: Kader Posyandu Tambun Tingkatkan Promosi Kesehatan
Nah, di sinilah masuk peran dosen-dosen dari Fakultas Komunikasi dan Bahasa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI). Mereka datang bukan buat sok pintar atau ceramahin orang, tapi beneran ngajarin how to talk like a human. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dikemas dalam pelatihan bertajuk “Pelatihan Komunikasi Efektif Bagi Kader Posyandu Sirsak dalam Meningkatkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat”. Panjang judulnya, tapi intinya sederhana, yaitu biar kader posyandu bisa ngobrol dengan warga pakai bahasa yang bikin nyaman, bukan bikin ngilu.
Acara dibuka dengan senyum sopan khas pejabat—Lurah Agus Lesmana dan Ita Suryani selaku Kaprodi Hubungan Masyarakat UBSI, yang datang sebagai penanda bahwa ini bukan sekadar kumpul ibu-ibu biasa. Ini serius. Serius tapi santai. Pelatihan ini berlangsung dari jam 9 sampai jam 12 siang, waktu yang pas sebelum ngantuk dan lapar menyerang.
Di balik pelatihan ini ada nama Arina Muntazah, sang ketua pelaksana yang—bersama mahasiswa Ilmu Komunikasi UBSI—membawa pendekatan yang nggak menggurui. Mereka nggak sekadar ngasih teori, tapi ngajak peserta praktik langsung, tentang gimana ngajak ngobrol ibu-ibu muda yang takut imunisasi, gimana menjelaskan gizi anak tanpa bikin malu, dan gimana menolak permintaan vitamin tambahan dengan elegan—tanpa bikin ibu-ibu ngambek dan kabur ke posyandu sebelah.
Dan antusiasme peserta? Jangan ditanya. Ada yang awalnya malu-malu, eh lima belas menit kemudian udah simulasi jadi MC dadakan. Ada juga yang cerita kalau setelah pelatihan ini, dia baru sadar kalau nada bicara itu bisa bikin orang datang atau kapok.
Soalnya gini, di zaman hoaks merajalela dan pesan broadcast berseliweran, kata-kata yang tepat itu bisa jadi penyelamat. Dan kalau para kader posyandu ini sekarang bisa ngomong lebih jelas, lebih lembut, dan lebih persuasif, siapa tahu nanti nggak ada lagi warga yang takut sama alat timbang bayi.
Baca juga: Dosen UBSI Berikan Pelatihan Komunikasi Efektif bagi Kader Posyandu di Tangerang
Karena jujur aja, bukan timbangannya yang menakutkan. Tapi kalimat, “Ih, kok beratnya turun?” yang diucapkan dengan nada kayak ngeledek. Nah, habis pelatihan ini, harusnya kalimat itu bisa berubah jadi, “Bu, kita coba cek lagi ya asupan makannya minggu ini. Biar si kecil makin kuat dan sehat.” Lihat? Lebih adem kan?
Kadang, yang dibutuhkan untuk mencerdaskan bangsa bukan hanya buku tebal atau seminar di hotel mahal. Tapi cukup satu sesi pelatihan, satu ruangan kecil, dan sekelompok orang yang percaya bahwa cara kita bicara, bisa mengubah cara orang mendengar. Dan, lebih jauh lagi, cara mereka hidup.(ACH)