Ibu-Ibu Posyandu Ketemu Instagram, Saat WA Grup Gak Cuma Buat Gosip Lagi
BSINews, Tangerang – Di tengah padatnya jadwal antar-jemput anak dan cucu, rebusan daun salam buat asam urat, dan kegiatan rutin nimbang balita, siapa sangka Ibu-Ibu Kader Posyandu Delima 1 malah melek digital? Sabtu pagi, 19 April lalu, di Kantor Kelurahan Paninggilan Utara, Tangerang, ibu-ibu ini berkumpul bukan buat arisan, bukan juga buat demo masak atau senam jantung sehat—tapi buat belajar cara bikin konten edukatif di medsos! Iya, Anda nggak salah baca. TikTok dan Instagram kini resmi masuk ke ranah posyandu. Dunia benar-benar sudah berubah.
Pelatihan ini digagas oleh dosen-dosen dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), dari Program Studi Manajemen dan Sistem Informasi. Timnya dipimpin oleh Achmad Syahlani, yang hari itu tampil seperti influencer kesehatan paling sabar se-Indonesia Raya. Ia datang tak sendirian—ada Kartika, Murniyati, dan Nining yang siap jadi “co-host” di dunia nyata, plus mahasiswa Afnita dan Jihan yang siap jadi tim kreatif dadakan kalau-kalau ada ibu-ibu yang mau belajar cara bikin reels.
Baca juga: Angkat Isu Gambut Lewat Instagram, Krisma Sejati Jadi Wisudawan Terbaik UBSI 2025
Kalau biasanya media sosial identik dengan drama family gathering, jualan daster, atau debat pilkada, hari itu medsos berubah jadi alat perjuangan. Ibu-Ibu Posyandu ini belajar bahwa WhatsApp nggak cuma buat kirim meme dan video ceramah, tapi bisa dipakai buat bikin pengumuman jadwal timbang balita.
“Media sosial adalah media online yang memungkinkan penggunanya untuk berinteraksi, berbagi, dan menciptakan konten,” ujar Achmad, dengan sabar menjelaskan meski wajah-wajah di depannya lebih fasih dengan kata “status” daripada “konten edukatif”.
Tapi jangan remehkan semangat ibu-ibu ini. Mungkin mereka belum terlalu akrab dengan istilah algoritma atau engagement rate, tapi mereka tahu betul pentingnya menjangkau para ibu muda yang lebih sering scrolling IG daripada datang langsung ke posyandu. Dan kalau kontennya bisa mengingatkan pentingnya cek kehamilan rutin atau imunisasi DPT, kenapa enggak?
“Sebetulnya, pelatihan semacam ini kelihatan sederhana. Tapi dampaknya bisa luar biasa. Bayangkan, informasi penting soal gizi balita, vaksin, dan kesehatan ibu bisa tersebar lebih cepat, tepat, dan luas. Apalagi kalau caption-nya kreatif—kayak Balita sehat, emak kuat, rumah tangga pun mantap,” ungkapnya.
Baca juga: Dosen Universitas BSI Latih Anggota PKK Bambu Apus Manfaatkan Instagram untuk Publikasi Kegiatan
Selain itu, pengabdian masyarakat ini juga mengubah cara pandang bahwa teknologi bukan cuma buat generasi milenial dan gen Z. Para ibu kader yang biasa berjuang dari balik meja timbang itu pun bisa jadi content creator versi mereka sendiri—yang tak hanya menghibur, tapi juga menyelamatkan.
Jadi, kalau suatu saat kamu nemu akun Instagram @PosyanduDelima1 dengan konten lucu-lucu yang isinya edukasi kesehatan, jangan anggap remeh. Di balik itu, ada perjuangan, ada pelatihan, ada kopi pagi yang ditunda demi belajar caption dan hashtag, dan tentu saja ada harapan bahwa masyarakat bisa lebih peduli pada kesehatan dari layar hape masing-masing.(ACH)