Ngafe Nggak Dosa, Tapi Cek Tekanan Darah Juga Penting, Bro!

0 72

BSINews, Jakarta – Minggu pagi di Kampung Beting, RT 07/019, Tugu Utara, Jakarta Utara. Matahari masih malu-malu, suara ayam bersahut-sahutan, dan anak-anak remaja mulai berdatangan ke satu titik kumpul. Bukan buat tawuran, bukan juga buat adu skill MLBB di warung kopi. Tapi buat Posyandu Remaja.

Iya, kamu nggak salah baca. Ini posyandu, tapi buat remaja. Bukan lagi bayi-bayi yang dicek berat badan sambil nangis-nangis karena masuk timbangan. Ini posyandu yang isinya justru anak-anak SMA yang udah bisa debat soal kopi susu yang overrated atau skincare Korea yang bikin glowing tapi dompet bleeding.

Baca juga: Jadi Aksi Kemanusiaan, UKM Bahasa Universitas BSI Kampus Tasikmalaya Adakan Kegiatan Donor Darah

Kegiatan ini digelar Minggu, 27 April 2025, dan bukan cuma program biasa. Ini bagian dari Pengabdian Masyarakat—semacam bukti kalau mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) itu nggak cuma jago presentasi dan bikin laporan, tapi juga tahu caranya nyapa warga dengan empati.

Dipelopori sama Bagas Haryadi dan timnya yaitu Mauladafa Fiscal Wibowo, Resha Yudira Putra, dan Yolanda SR Sinaga, mereka turun langsung bareng komunitas Young Health Programme (YHP) untuk ngobrolin satu hal yang kadang remaja lupakan, yakni kesehatan diri sendiri.

Acara ini diawali dengan pengecekan kesehatan dasar. Mulai dari tinggi, berat badan, tekanan darah—hal-hal yang kadang lebih bikin deg-degan daripada cek story mantan. Ada juga pembagian vitamin, karena jujur aja, banyak dari kita yang masih nganggep mie instan plus es teh itu udah cukup jadi sarapan sehat.

Tapi yang bikin acara ini terasa hangat bukan cuma alat tensi dan botol vitamin. Ada sesi ngobrol bareng, diskusi santai, dan penyuluhan yang nggak terasa menggurui. Topiknya pun deket banget sama realita: dari bahaya anemia yang bisa bikin pingsan pas upacara, sampai pentingnya jaga kesehatan mental biar nggak meledak gara-gara tugas sekolah yang makin absurd.

Bagas bilang, tujuan kegiatan ini ya jelas, supaya remaja sadar kalau tubuh dan mental itu perlu dirawat. Nggak bisa cuma fokus ke penampilan doang. “Kami ingin mendorong remaja untuk lebih sadar terhadap isu kesehatan yang sering diabaikan,” katanya.

Dan jujur, kadang memang kita baru sadar pentingnya sehat saat udah tumbang. Padahal tubuh sudah ngasih sinyal dari dulu, seperti lemas, pusing, gampang capek—tapi ditanggepin dengan dalih “kurang kopi” atau “nggak tidur aja, kuat kok.”

Yang bikin program ini beda dari seminar-seminar kaku adalah suasananya yang dibuat senyaman mungkin. Mauladafa bilang, pendekatannya memang sengaja dibuat santai. Biar remaja bisa terbuka, cerita, bahkan ketawa-tawa bareng. Ini bukan forum interogasi, tapi ruang aman. Dan itu yang bikin peserta betah.

Resha pun menekankan, kegiatan ini bukan cuma soal medis, tapi juga soal empati. Karena banyak remaja yang sebenarnya cuma butuh didengar, bukan diceramahi. Kadang mereka butuh diajak ngobrol soal stres ujian, soal perasaan nggak cukup baik, soal ketakutan menghadapi masa depan.

Dan dari sinilah muncul satu hal yang berharga, yakni kepercayaan. Ketika remaja merasa didengar, mereka akan mulai peduli. Bukan karena disuruh, tapi karena sadar bahwa hidup sehat itu hak mereka.

Yolanda menutup kegiatan ini dengan harapan yang menghangatkan. Bahwa Posyandu Remaja bukan cuma proyek sekejap, tapi langkah awal menuju generasi yang lebih waras. Lebih peduli. Lebih sehat—fisik dan mental.

Baca juga: Universitas BSI Kampus Margonda Kembali Laksanakan Aksi Donor Darah

Karena di tengah dunia yang makin cepat dan penuh tekanan, remaja butuh ruang aman. Butuh tempat buat bertanya, minta tolong, dan bilang, “Aku lagi nggak baik-baik aja.”

Dan siapa sangka, tempat itu bisa dimulai dari satu kegiatan sederhana, satu timbangan badan, satu sesi cek tensi, dan satu vitamin kecil. Karena kadang, perubahan besar itu lahir dari tempat paling sunyi—dari posyandu kecil di sudut Jakarta Utara melalui mahasiswa UBSI.(ACH)

Leave A Reply

Your email address will not be published.