Taman, Sampah, dan Mahasiswa yang Nggak Mau Cuma Ngomong Doang
BSINews, Bekasi – Bekasi mungkin bukan Bali, apalagi Bandung. Tapi bukan berarti taman-tamannya harus kalah kece. Sayangnya, kenyataan kadang nggak seindah brosur perumahan. Salah satu contohnya ya Taman Duta Harapan di wilayah utara Kabupaten Bekasi ini. Nama tamannya sih menjanjikan—“Duta Harapan”—tapi kalau tamannya dipenuhi plastik bekas kopi saset dan puntung rokok yang berserakan, harapan mana yang mau datang?
Di tengah kondisi seperti itu, datanglah sekelompok mahasiswa dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), bukan dengan jaket almamater yang cuma buat gaya-gayaan, tapi dengan niat tulus dan tangan siap kotor. Hari Selasa, 22 April 2025, mereka menggelar kegiatan Pengabdian Masyarakat bertajuk “Cinta Tanah Air”, bukan dengan orasi atau debat panas, tapi lewat aksi bersih-bersih.
Baca juga: Nasionalisme, Gadget, dan Anak-anak yang Lupa Punya Tanah Air
Taman Duta Harapan pun jadi saksi. Satu per satu anak muda ini, yang biasanya sibuk nge-scroll TikTok atau rebutan colokan di kampus, turun langsung menyapu daun, memilah sampah organik dan anorganik, menyiram tanaman, dan tentu saja, buang sampah pada tempatnya (dengan penuh kesadaran, bukan karena dipelototin Pak Satpam).
Nama-nama mahasiswa UBSI seperti Adinda Nur Azzahra, Anita Chairani, Muhammad Raihansyah, hingga Siti Sukmawati mungkin belum tercetak di billboard pinggir jalan. Tapi pagi itu, mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa—minimal untuk taman yang biasanya cuma jadi tempat nongkrong sore atau tempat ibu-ibu olahraga zumba tiap Minggu pagi.
Mereka tidak datang membawa program berlembar-lembar atau jargon “sustainable living” yang kadang bikin kepala puyeng. Mereka datang dengan sapu lidi, plastik sampah, dan semangat gotong royong yang makin langka di kota besar. Dan jangan salah, sebelum mulai, mereka juga bikin pembagian tugas rapi, yaitu siapa nyapu, siapa siram tanaman, siapa yang jadi ‘pemantau semangat’. Tim kecil, kerja nyata.
Yang bikin adem hati, kegiatan ini nggak cuma selesai di tumpukan sampah yang berhasil diangkut. Tapi juga di kesadaran yang pelan-pelan tumbuh: bahwa mencintai negeri ini bisa dimulai dari hal sederhana—macam nggak buang sampah sembarangan dan peduli ruang publik. Bahwa menjaga bumi nggak harus nunggu jadi aktivis lingkungan. Cukup jadi mahasiswa yang nggak cuek dan mau turun tangan.
Warga sekitar pun ikut senang. Beberapa bilang, semoga kegiatan seperti ini bisa jadi rutinitas, bukan acara musiman pas semester genap aja. Karena, yah, terlalu banyak seminar motivasi tentang “masa depan cerah”, tapi terlalu sedikit orang yang mau turun bersihin sampah di taman depan rumah.
Di akhir kegiatan, ketika plastik-plastik sampah sudah tertata, dan tangan-tangan mereka kotor tapi hati mereka bersih, mungkin di sanalah makna “cinta tanah air” itu benar-benar hidup. Bukan dari pidato yang panjang atau poster kampanye yang mahal. Tapi dari aksi kecil, yang bisa dirasakan dampaknya.
Baca juga: Belajar Hak Asasi dari Bangku SD, Saat Anak-anak Mulai Bicara Soal Keadilan
Karena sesungguhnya, mencintai negeri ini bisa dimulai dari satu taman yang bersih, dan sekelompok mahasiswa yang nggak cuma pintar teori, tapi juga peduli praktik. Dan di Bekasi, di Taman Duta Harapan, cinta itu sedang tumbuh—pelan, tapi pasti.
Kalau semua mahasiswa kayak gini, mungkin masa depan Indonesia nggak harus terlalu bergantung pada utopia. Cukup dari taman-taman kecil yang dipelihara dengan cinta dan aksi nyata.(ACH)